Oleh Ummu Uzayr
Ibu Rumah Tangga & Pemerhati Generasi
Terjadi lagi, aksi pembakaran Al-Qur'an oleh seorang warga keturunan Irak, Salwan Momika di Swedia. Mirisnya, kejadian di saat kaum muslimin tengah merayakan Hari Raya Idul Adha. Sebelum melakukan pembakaran, pria tersebut menginjak-injak lembaran Al-Qur'an yang ia lakukan di depan masjid daerah Stockholm (bbc.com, 30/06/2023).
Aksi serupa pernah terjadi juga di Swedia, yang dilakukan oleh politikus sayap kanan, Rasmus Paludan, di depan kedutaan besar Turki di Stockholm, Swedia. Aksi tersebut dilakukan Rasmus tidak hanya sekali, tercatat ia juga pernah melakukan aksinya pada 2017 dan 2020 (cnnindonesia.com, 31/01/2023).
Seperti yang pernah dilakukan sebelumnya, beberapa negara termasuk negara-negara muslim seperti Indonesia, Turki, Maroko, dan sebagainya, langsung memberikan respon berupa kecaman yang mengutuk keras aksi pembakaran Al-Qur'an yang diduga telah melebihi batas dari kebebasan berekpresi (voaindonesia.com, 30/06/2023).
Akan tetapi, nyatanya tindakan dari berbagai pemimpin negara tersebut tidak lantas membuat aksi penistaan terhadap Al-Qur'an berhenti sepenuhnya. Dengan dalih kebebasan berekspresi yang dimiliki setiap orang, kegiatan apapun akan mendapatkan izin termasuk aksi-aksi yang mencederai kemuliaan Islam. Kebebasan ini lahir dari sistem kehidupan yang saat ini diterapkan, yaitu Sekularisme yang merupakan sistem buatan manusia. Sehingga aturan-aturan yang lahir darinya, hanya berdasarkan nafsu dan keinginan manusia belaka.
Butuh adanya tindakan tegas dari kaum muslimin dan pemimpinnya sebagai bukti pembelaan hakiki terhadap Al-Qur'an. Bukan hanya mengecam, tapi perlu ada tindakan nyata. Hal ini tidak akan terjadi pada sistem yang menjauhkan agama dari kehidupan seperti hari ini.
Dalam Islam, negara dijadikan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab menjaga agama dan Al-Qur'an, serta mengajarkan kepada rakyat untuk menunjukkan pembelaannya. Sungguh hal tersebut hanya akan terwujud pada institusi negara yang menerapkan Islam kafah sebagai ideologinya.
Wallahu a'lam bishshawab

No comments:
Post a Comment