Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Masihkah Berpikir Semua Baik-baik Saja?

Tuesday, June 20, 2023 | Tuesday, June 20, 2023 WIB

 


Oleh Titin Kartini a'lam

( Aktivis Muslimah)


Viral sebuah kisah pilu beberapa waktu yang lalu, ada seorang nenek berusia 70 tahun menjadi pekerja seks komersial (PSK) demi Rp 4 ribu. Kisah ini terungkap oleh seorang dokter bernama Dewi Inong Inara saat menjadi tamu podcast di kanal YouTube Macan Idealis.


Sang dokter menjelaskan asal mula pasien mengidap HIV kerena memiliki hobi melakukan hal tak senonoh pada orang-orang tuna susila.


Lebih mengejutkan dokter Dewi bertemu dengan seorang lansia berusia 70 tahun yang menjual diri. Miris, ternyata pelanggannya bukan orang dewasa tetapi anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar (SD).  Lansia tersebut memasang tarif mulai Rp 4 ribu. Alasan sang nenek ketika ditanya mengapa ia sampai menjadi PSK? Ternyata ia tak ada yang mengurus dan ini terjadi di lingkaran Ibu Kota Jakarta.


Bagaimana dengan kota lain? Ternyata sama saja, hal ini terungkap dengan kisah N (64), warga Probolinggo, Jawa Timur yang menjadi PSK. Ia terpaksa menjalani profesi itu hanya untuk menyambung hidup. Dari sekali memuaskan nafsu para hidung belang, janda yang telah diceraikan suaminya ini mendapatkan uang Rp 30 (tribunnews.com, 

6/6/2023) 


Marah, geram, sedih semua perasaan menjadi satu. Kejahatan, perzinahan, kezaliman telah merajalela di negeri mayoritas Muslim terbesar di dunia ini. Fenomena penghancuran  akhlak dan generasi terus terjadi, negara yang kian abai akan kesejahteraan rakyat, keamanan, pendidikan kesehatan serta lainnya memaksa rakyat melakukan apa saja demi menyambung hidup. Lansia yang seharusnya sudah beristirahat di rumah, anak-anak yang seharusnya terjaga keamanannya nyatanya tidak demikian. Mereka dipaksa mencari nafkah meski dengan cara haram, anak-anak sudah mengenal serta melakukan kemaksiatan yang seharusnya tidak mereka lakukan. Apa yang akan terjadi esok nanti dengan nasib bangsa ini? Kemaksiatan di depan mata, kehancuran bagai telur di ujung tanduk. Masihkah beranggapan bahwa negeri ini baik-baik saja?.


Tentu saja kita harus mencari akar permasalahan dari semua problematika ini. Tak bisa berpangku tangan diam saja. Seperti yang kita ketahui bahwa negeri ini menganut dan menjalankan sistem kapitalisme sekuler dan liberal. Kapitalisme dimana negara hanya sebagai regulator atau penyambung saja setiap kebijakan yang diambil lebih menguntungkan segelintir golongan yang mempunyai modal besar. Alhasil kesejahteraan bagai panggang jauh dari api. Sumber daya alam diserahkan kepada swasta baik lokal maupun luar, rakyat dicekik berbagai kebijakan yang hanya menguntungkan mereka saja.

 Tsaqafah dan kebudayaan asing bebas melenggang masuk ke dalam negeri tanpa filter dari negara. Generasi membebek semua prodak luar negeri, dari fashion,food, film, musik dan lainnya. 


Muslim terbesar namun aturan agama Islam dikesampingkan, paham sekuler kian menjauhkan rakyat dari norma-norma agama, semua dilibas asal senang, tak peduli apakah perbuatan tersebut halal atau haram. Sekularisme telah melebur masyarakat dari aturan agama, banyaknya kemaksiatan bukti nyata negeri ini sakit. Sakit jiwa raga digerogoti kanker sekuler dan liberal yang bersumber dari sistem yang rusak kapitalisme. Masihkah beranggapan negeri ini baik-baik saja?


Umat perlu satu sistem yang menyeluruh yang sempurna dan paripurna. Namun, tentunya hal tersebut tak mungkin didapatkan dari sistem buatan manusia yang serba terbatas karena mengukur segala sesuatu hanya dari keuntungan dan manfaat yang didapat olehnya, penguasa maupun segelintir golongan saja karena bersumber dari akal manusia yang serba terbatas. Padahal sejatinya umat Muslim mempunyai satu aturan dari satu agama mayoritas negeri, yang bukan saja berfungsi sebagai agama namun sebuah ideologi yaitu Islam. 


Islam hadir dan ada untuk menjadi pedoman umat, sebagaimana Rasulullah saw. telah mencontohkan aturan dari Islam yang mampu membawa masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang beradab dan mulia. Begitupun setelah Rasulullah saw. wafat aturan Islam diteruskan oleh para sahabat yang kita kenal dengan masa Khulafaur Rasyidin serta Kekhalifahan seterusnya yang tercatat dalam tinta emas peradaban sebagai suatu sistem yang sempurna membawa manusia kearah kemuliaan baik di dunia maupun akhirat kelak.


Islam mampu menghadirkan sosok pemimpin yang akan menjadi garda terdepan untuk rakyatnya. Karena adanya rasa tanggung jawab di dunia dan akhirat kelak yang harus ia pikul dan pertanggung jawabkan dihadapan Sang Pencipta Allah Swt. Bagaimana dengan masyarakatnya? Tentu saja masyarakat yang bertakwa, masyarakat yang takut ketika melakukan kemaksiatan akan ada amal makruf nahi mungkar di tengah-tengah mereka. 


Hal ini akan menciptakan suasana aman dan nyaman serta kesejahteraan yang hakiki pun akan didapatkan oleh masyarakat karena negara menjaminnya. Generasi yang akan tumbuh menjadi generasi emas tongkat estafet kepemimpinan peradaban mulia, karena negara hadir dan menjamin, menjaga dan memfasilitasi segala keperluan generasi bangsa.


Rindu dengan itu semua? Tentu saja, maka langkah untuk mengakhiri segala problematika negeri ini segera campakkan sistem busuk kapitalisme sekuler liberal dan segera tegakkan dan terapkan hukum-hukum Allah Swt. yang tersirat dan tersurat dalam Al Qur'an dan sunah serta sistemnya yang telah terbukti selama berabad-abad mampu memberikan pelayanan paripurna kepada seluruh lapisan masyarakat, baik Muslim maupun nonmuslim. 



Wallahu a'lam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update