Meskipun angka stunting sudah mengalami penurunan sejak tahun 2000, yang mana satu dari tiga anak balita mengalami stunting namun dunia masih jauh dari bebas stunting. Karena masih lebih dari satu dari lima anak di dunia menderita stunting.
Mirisnya, jumlah anak balita yang terkena kelebihan berat badan di seluruh dunia telah meningkat dari 33,3 juta pada tahun 2000 menjadi 38,9 juta pada 2020. Adanya pandemi menyebabkan hampir tujuh juta anak terancam menderita stunting. Indonesia sudah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka stunting, di antaranya bergabung dengan gerakan global “Scaling-Up Nutrition (SUN)” pada 2012, yang menyatakan semua penduduk berhak untuk memperoleh akses ke makanan yang cukup dan bergizi.
Tahun 2017, Indonesia menyerukan Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018—2024, yang didukung oleh Bank Dunia, dibangun berdasarkan pengalaman dan pelajaran global, terutama keberhasilan Peru memangkas setengah angka stunting hanya dalam tujuh tahun.
Angka stunting Indonesia memang menunjukkan adanya penurunan, rata-rata sebesar 1,6% per tahun bila dihitung sejak tahun 2013. Namun, penurunan ini sangatlah lambat. Apalagi dengan prediksi para pakar, stunting akan meningkat menjadi 32% karena pandemi, jelas mempersulit penurunan stunting.
Terkait itu, BKKBN sudah menyiapkan program unggulan untuk menurunkan angka stunting yaitu Perubahan Perilaku dan Pengelolaan Pengetahuan, juga Pendampingan Bidan Desa pada Keluarga Berisiko Stunting, termasuk remaja putri dan ibu hamil.
Sayangnya, Peraturan Presiden terkait upaya mempercepat penurunan angka stunting hingga kini belum juga ditandatangani. Hal ini tentu saja menghambat program percepatan penurunan stunting.
Kapitalisme Penyebab Stunting
Tingginya stunting yang tidak hanya di Indonesia tapi juga di berbagai belahan dunia. Hal ini menunjukkan ada yang salah dalam tata kelola dunia ini. Apalagi di tengah tingginya angka stunting ini, terdapat individu-individu yang memiliki kekayaan fantastis.
Oxfam, sebuah organisasi nirlaba Inggris, melaporkan jumlah miliarder dunia meningkat sebanyak dua kali lipat dalam satu dekade terakhir. Sementara itu, harta milik 2.153 orang terkaya di dunia jika diakumulasikan, sepadan dengan uang yang dimiliki oleh 4,6 miliar orang termiskin di seluruh negara dunia pada 2019. Salah satu penyebab ketimpangan ini adalah ketergantungan yang tinggi dari kalangan bawah terhadap besaran upah yang mereka terima dari orang-orang kaya.
Di tengah banyaknya stunting, jumlah orang dengan nilai kekayaan lebih dari lima juta hingga dolar AS meningkat 1,3% di tahun 2020 menjadi 2,7 juta orang. Bahkan orang terkaya di dunia, Jeff Bezos yang menghasilkan $2.500 per detik, bila diibaratkan negara, ia akan menjadi negara terkaya ke-54 di dunia. Begitu halnya di Indonesia. Tahun 2017, Oxfam menyebutkan harta total empat orang terkaya di Indonesia, yang tercatat sebesar 25 miliar dolar AS, setara dengan gabungan kekayaan 40% penduduk miskin, atau 100 juta orang termiskin.
Tingginya kemiskinan di Indonesia sesungguhnya juga sangat mengherankan, mengingat Indonesia memiliki sumber kekayaan alam yang sangat melimpah. Yang membuat miris, stunting juga tinggi di daerah yang kaya sumber daya alamnya seperti NTT, yang bahkan menjadi provinsi dengan angka stunting tertinggi di Indonesia.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa kemiskinan dan kesenjangan kekayaan erat hubungannya dengan stunting, bahkan membuktikan stunting terjadi bukan karena kelangkaan. Oleh karena itu, berbagai program sosial tidak akan menyelesaikannya karena tidak mampu mengubah penyebab yang mendasari kemiskinan. Apalagi jika sekadar pendampingan dan perubahan perilaku yang digagas BKKBN, atau mengandalkan pemberdayaan masyarakat tanpa pengentasan kemiskinan.
Solusi Atasi Stunting
Stunting jelas mendesak untuk diatasi karena berpotensi mengganggu sumber daya manusia dan berhubungan dengan tingkat kesehatan, bahkan kematian anak, terlebih pencapaian Generasi Emas Indonesia 2045. Tingginya angka stunting ini menunjukan ada yang salah dalam tata kelola sumber daya alam dan kekayaan negara sehingga menyebabkan kemiskinan terus terjadi.
Negara juga menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan sesuai dengan gizi seimbang secara berkualitas, sehingga dengan cara inilah negara mampu memberantas stunting dengan tuntas, bahkan mampu mencegah terjadinya stunting pada keluarga yang berisiko stunting. Sehingga akan mewujudkan generasi yang berkualitas bebas dari stunting, yang siap mewujudkan peradapan mulia.
Wallahu a'lam bishawwab

No comments:
Post a Comment