Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kanjuruhan, Turnamen Berakhir Tragedi

Wednesday, October 12, 2022 | Wednesday, October 12, 2022 WIB Last Updated 2022-10-12T07:13:19Z

Oleh: Sukey
Aktivis Muslimah Kaffah

Sungguh tragis tragedi yang terjadi di dunia persepakbolaan Indonesia yakni di stadion Kanjuruhan Malang. Kejadian yang memukul hati, menyisakan air mata kesedihan bagi siapapun yang mendengarnya, terlebih rakyat Indonesia yang mencintai sepakbola. Banyak korban bergelimpangan. Dari anak-anak hingga orang tua meregang nyawa karena kerusuhan saat Arema berlaga melawan Persebaya. 

Jumlah korban Tragedi Kanjuruhan menjadi 704 orang. Data itu termasuk korban luka ringan, berat, meninggal dan yang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Pemprov Jawa Timur Sabtu (8/10) pukul 08.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia 131 orang, luka ringan sebanyak 550 orang, luka berat 23 orang, dan 37 masih menjalani perawatan di rumah sakit (detik.com;08/10/2022).
Tragedi kelam di Stadion Kanjuruhan ini juga menjadi sorotan media-media olahraga dunia. Dalam koran mereka mengomentari terkait penanganan kepolisian yang menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa. Salah satunya dari Surat kabar Amerika Serikat, The New York Times, yang menyorot pemakaian gas air mata sebagai cara untuk membubarkan massa.

Padahal berdasarkan peraturan FIFA, organisator sepak bola dunia, ada aturan yang melarang penggunaan gas air mata di dalam stadion. Aturan itu tertuang dalam regulasi FIFA terkait pengamanan dan keamanan stadion atau FIFA Stadium Safety and Security Regulations, tepatnya pasal 19 poin b. Bunyi dari aturan itu adalah : "No firearms or 'crowd control gas' shall be carried or used" (senjata api atau 'gas pengendali massa' tidak boleh dibawa atau digunakan).

Isu terkait pencetakan tiket diluar kapasitas stadion, yang bisa jadi membuat banyaknya jatuh korban. Menkopolhukam, Mahfud MD menyatakan Panitia Pelaksana mencetak tiket melebihi kapasitas stadion. Bahkan sejak sebelum pertandingan aparat kemanan sudah mengusulkan langkah mitigasi melalui koordinasi dan usul-usul teknis di lapangan. Di antaranya mengusulkan agar pertandingan dilaksanakan sore bukan malam hari. 

Kalau membawa gas air mata ke dalam stadion saja tidak boleh, lalu apakah kita masih mau memperdebatkan soal penggunaanya, apalagi menyatakan telah sesuai prosedur. Prosedur yang mana? Banyak juga Lembaga-lembaga non pemerintah yang menduga bahwa penggunaan kekuatan yang berlebihan (excessive use force) melalui penggunaan gas air mata dan pengendalian masa yang tidak sesuai prosedur, menjadi penyebab banyaknya korban jiwa yang berjatuhan. 

Betapa kejadian ini disesalkan oleh masyarakat terutama para pecinta bola. Bahkan penonton yang tidak melakukan tindakan anarkis terutama yang berada di tribun stadion pun disemprotkan gas air mata. Sebuah kecerobohan dari panitia dan aparat yang berakibat fatal, yaitu hilangnya ratusan nyawa sia-sia.

Mereka adalah orang-orang tidak berdosa. Bahkan banyak anak-anak yang ikut menonton dan ikut menjadi korban kabut gas air mata. Semua ini adalah ulah keserakahan sistem kapitalisme. Sistem yang menanamkan fanatisme buta melalui wadah olahraga. Antar suporter bisa saling gontok-gontokan hanya karena mengunggulkan club masing-masing. Sementara saat club idola mereka menang justru yang meraup keuntungan adalah offical, orang-orang berduit yang mendanai permainan serta organisasi olahraga tersebut. 

Nasionalisme yang selama ini digaungkan nyatanya telah menelan korban di seluruh dunia tak terkecuali di negeri-negeri muslim. Paham ini menjadikan negeri-negeri muslim tersekat oleh paham kebangsaan. Paham ini mengakibatkan terblokirnya seseorang untuk menolong orang lain sekalipun satu akidah. Ikatannya pun sangat rapuh mudah terkoyak ketika kepentingannya berbeda. 

Kebijakan olahraga yang salah ketika kehidupan manusia dipimpin oleh ideologi kapitalisme, dengan asas manfaat sebagai pandangan hidupnya untuk kesenangan duniawi dan materi. Dunia olahraga pun disulap menjadi industri untuk mewujudkan ambisi materi, duniawi dan polularitas. 

Permainan yang sejatinya bisa membuat sehat ini malah berujung derita. Paradigma ashobiyah yang mengikat pesepak bola dan partisannya tidak dipungkiri sebagai katalisator munculnya sikap berlebihan dalam menyemangati dan mengunggulkan tim masing-masing. 

Aturan yang lahir dari aqidah sekuler-kapitalisme ini mengarahkan para pelaku mensikapi sesuatu dengan akal pendek. Kebebasan insaniah yang diusung ideologi kapitalisme ini tak ayal selalu menyisakan penderitaan. Individualisme yang muncul dari penerapan kaidah fikriyah kapitalisme ini memberikan ruang besar bagi pelaku untuk menunjukkan ketidakpuasannya terhadap sesuatu dengan egosentris, memburamkan kewajiban diri menjaga lingkungan sekitarnya. 

Di jaman kapitalistik yang semuanya berlandaskan atas uang dan kekuasaan seperti sekarang, begitupula dalam memandang pemuda yang merupakan bagian dari masyarakat. Dimana ada keuntungan, potensi pemuda diagungkan, dimana tidak ada pundi-pundi dolar, pemuda diacuhkan bahkan ditendang. Pendekatan persuasif dan edukatif tak pernah dilakukan. Rakyat kecil hanya dipandang sebagai pengganggu dan perusuh belaka.

kelalaian polisi dalam hal penggunaan gas air mata ini menggenapi wajah bopeng kepolisian RI. Belum kelar soal Sambo, judi online, dugaan penimbunan BBM, soal narkoba dan lain,lain. Kini kepolisian diduga melakukan tindakan ceroboh dan lalai dalam pengamanan sepak bola Arema Malang VS Persebaya. 

Sejatinya, pertandingan sepakbola yang marak di seluruh negara termasuk Indonesia merupakan trik sistem kapitalisme di negeri-negeri muslim untuk melanggengkan penjajahannya, agar umat Islam di seluruh dunia tidak bisa bersatu maka harus disekat atas nama kesukuan atau rasa ashiboyah tadi. 

hadits dari Rasulullah Saw yang dengan tegas melarang umatnya untuk bersikap ashobiyah atau fanatik golongan, sebagaimana sabdanya :

"لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

“Bukan termasuk umatku orang yang mengajak pada Ashabiyah (Fanatisme Golongan), dan bukan termasuk umatku orang yang berperang atas dasar Ashabiyah (Fanatisme Golongan), dan bukan termasuk umatku orang yang mati atas dasar Ashabiyah (Fanatisme Golongan).” (HR. Abu Dawud).

Problem inilah yang sebenarnya tengah terjadi dalam tubuh umat Islam saat ini. Mereka lebih fokus kepada sesuatu yang sepele yaitu sebuah permainan tanpa mereka sadari bahwa mereka tengah disetir oleh kapitalisme. 

Umat Islam telah dipalingkan dari hal-hal urgen yang seharusnya menjadi pusat perhatian. Ketidakpahaman mereka terhadap syariat Allah seharusnya menjadi fokus perhatian mereka sehingga umat Islam tidak mudah disetir oleh peraturan hidup yang bukan berasal dari Allah Swt.

Diperlukan adanya kesadaran bersama, mulai dari para penerap aturan negara saat ini dan warga negara seluruhnya untuk kembali melakukan segala sesuatu berdasarkan aturan Allah Swt. sebagai Pencipta dan Pengatur manusia. Dengan membumikan Islam kafah dalam semua kegiatan kehidupan kita, tidak hanya tubuh yang sehat tetapi jiwa yang tenang akan terwujud. Menjauhkan kita dari melakukan kesia-siaan amal dan membahayakan raga. 

Wallahu’alam bishshawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update