Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Standar Baku Kurikulum untuk Mencetak Generasi Unggul

Friday, September 09, 2022 | Friday, September 09, 2022 WIB Last Updated 2022-09-09T13:17:11Z

Oleh : Fina Fauziah 
 Aktivis Muslimah

Sebanyak 75 orang Pendidik dan Tenaga Kependididkan (PTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) nonformal yang ada di Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, mengikuti Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM), Kamis (25/8/2022).Workshop yang digelar di PAUD Az-Zakiyah Yayasan Pendidikan Agama Islam (YPAI) Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih itu diharapkan dapat menunjang program Dinas Pendidikan setempat.“Mudah-mudahan kegiatan ini bisa menunjang program Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung” ujar Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kecamatan Margaasih, Imas Mulyati. Menurut Imas, workshop IKM tersebut dilaksanakan secara mandiri, dengan tujuan untuk lebih memaksimalkan layanan PAUD, khususnya guru-guru PAUD di Kecamatan Margaasih. akanya kami siap untuk terus belajar, termasuk mendalami Kurikulum Merdeka, dan kami berharap dapat mengimplementasikan kurikulum tersebut di lembaga kami selanjutnya,” ungkap Imas. Workshop tersebut, lanjut Imas, akan dibagi dua sesi, yakni untuk kepala lembaga dan untuk guru-guru. Sedangkan materi yang disampaikan oleh narasumber dipilih oleh Dinas Pendidikan, asesor yang sudah memiliki pengalaman.“Intinya untuk memberikan pemahaman para kepala dan guru-guru tentang apa itu Kurikulum Merdeka, sehingga para guru nantinya bisa melaksanakan kurikulum itu di lembaga masing-masing,” ujarnya. Di Margaasih sendiri, ujarnya lagi, ada 32 lembaga yang aktif, dan hanya 1 yang tidak hadir dalam workshop IKM.

Pendidikan menempati posisi penting bagi kemajuan dan kejayaan sebuah bangsa. Pendidikan yang baik dan berkualitas menjadi modal utama untuk memastikan kualitas sumber daya manusia. Kemajuan dan kejayaan sebuah bangsa bukan hanya dilihat dari kekayaaan sumber alamnya saja, tetapi bagaimana sumber daya manusia bangsa tersebut dapat mengelola sumber daya alam dengan baik.

 Kurikulum merdeka ini sebenarnya bukan baru karena embrionya sudah dijalankan sejak Kurikulum Darurat, Kurikulum Prorotipe, kemudian disahkan sebagai Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka dianggap solusi oleh Kemdikbudristek atas kesenjangan belajar (learning loss) akibat pandemi. Cukup logis memang, karena Kurikulum Merdeka terfokus pada ketertinggalan pembelajaran. Sebagaimana yang diuraikan dalam modul paparan Merdeka Belajar Episode Kelima Belas.kesalahan terbesar dari pemerintah terkait perubahan dan penerapan kurikulum, sejak tahun 1945 hingga 2022 ini. Pemerintah terkesan tidak bijaksana dalam melakukan pergantian kurikulum, seolah tidak memiliki grand design dan Blue Print pelaksanaan pendidikan nasional. Kondisi ini bisa sangat mengganggu hasil yang diharapkan dari dunia pendidikan Indonesia, di mana masa depan bangsa tentu akan menjadi taruhannya. Hal ini jelas-jelas bisa terjadi jika kurikulum diterbitkan tanpa melalui proses penyusunan yang bijak dan matang.Kurikulum merdeka berisi semangat memberi kemerdekaan bagi siswa dalam memilih pelajaran yang mereka inginkan, tentu ini akan memunculkan polemik. Permasalahan akan muncul jika siswa dibebaskan memilih, jamak kita ketahui siswa sering kesulitan mengambil keputusan dan ragu, hingga berujung serabutan dalam memilih bidang mata pelajaran. Belum lagi, kecenderungan siswa menyukai mata pelajaran bukan karena esensi pelajarannya namun karena gurunya, atau bahkan sekedar ikut-ikutan teman. Kemudian hal ini juga berpotensi masuknya pembelajaran unfaedah.


Pendidikan memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Sebagaimana firman Allah SWT, "Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang telah diberi ilmu" (QS. Al-Mujadilah: 11). Tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk membentuk kepribadian Islami (Shakhsiyah Islamiyah) yaitu membentuk pola pikir islami dan pola sikap islami. Serta menciptakan ulama, intelektual dan tenaga ahli sebanyak mungkin yang dapat memberi manfaat bagi umat, melayani masyarakat dan membangun peradaban Islam. Tentu saja tujuan pendidikan ini tidak akan mampu terwujud bila ditopang oleh sistem kapitalisme sekuler. Hanya sistem Islam yang mampu dan sudah terbukti mampu mewujudkannya. Negara memberikan hak penuh tanpa pandang bulu bagi seluruh umat untuk dapat mengenyam pendidikan secara cuma-cuma. Segala penelitian, laboratorium, perpustakaan dan sarana yang dibutuhkan disiapkan negara. Karena tidak lain negara merupakan penanggung jawab penyelenggara pendidikan, sedangkan pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang harus dijamin oleh negara dan sekali lagi negara wajib menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat. Ingatlah sabda Rasulullah SAW, "Imam itu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya" (HR al-Bukhari). Terbukti dalam masa keemasan Islam, pada masa itu studi ilmiah dan penelitian seperti kedokteran, ekonomi, matematika, geografi, astronomi dan banyak lagi berkembang di dunia Islam. Umat Muslim memberi kontribusi besar bagi sains, budaya dan sastra. Yang paling terkenal Aljabar yang ditemukan Al-Khawarizmi, Ilmiwan Persia di bidang matematika. Cendikiawan-cendikiawan Islam itu muncul dari berbagai agama, wilayah, suku dan ras. Sebagai contoh, banyak dokter pribadi untuk Khalifah Abbasiyah adalah orang Kristen. Seorang Kristen bernama Hunayn ibn Ishaq al-Ibadi adalah kepala "House of Wisdom" dalam jangka waktu yang lama, dia diberi posisi itu oleh Khalifah Al-Ma'mum. Orang Yahudi dan Zoroaster memainkan peran besar dalam menterjemahkan karya lama Yunani, Romawi, Persia, Cina dan Hindu ke dalam Bahasa Arab, bahkan ia dikenal sebagai Syekh of the translators. Di masa keemasan ini orang-orang yang berbeda agama dan budaya berkumpul di Baghdad. Semuanya berada di bawah perlindungan penguasa Muslim, yaitu Sistem Islam. Wallahu a’lam bisshowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update