Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jembatan Bergoyang, Sistem Kapitalisme Hanya Peduli Uang

Monday, August 15, 2022 | Monday, August 15, 2022 WIB Last Updated 2022-08-15T06:38:35Z

 


Oleh :
Elis Herawatis
Aktivis Muslimah

Jembatan Nanjung, yang berlokasi di Kampung Jati, Desa Nanjung, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Jembatan yang menghubungkan antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat (KBB) bergoyang ketika dilalui kendaraan besar seperti truk. Bahkan, truk berukuran besar harus berhenti ketika ada kendaraan serupa dari lawan arah. Tak hanya itu, besi penghalang baik di kiri dan kanan jembatan sudah terlihat rapuh dan usang. Pun dengan besi penyangga atau penopang yang ada di bawah jembatan nampak sudah berkarat.

 Sebelumnya, kondisi jembatan Nanjung yang mengkhawatirkan tersebut sempat ramai di sosial media, terutama Instagram. Bahkan, video jembatan Nanjung yang bergoyang tersebut diunggah di akun Instagram Polsek Margaasih. Dalam video tersebut, terlihat seorang yang sengaja merekam merasakan getaran saat ia berjalan kaki di jembatan Nanjung tersebut. Bahkan dalam video yang beredar di sosial media, jalan aspal jembatan tersebut kondisinya rusak bergelombang. Namun saat ditinjau langsung, aspal sudah diperbaiki dengan cara penambalan.

Setelah viralnya video tersebut Bupati Bandung Dadang Supriatna angkat bicara soal Jembatan Nanjung di Kampung Jati, Desa Nanjung, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang kondisinya sangat mengkhawatirkan. Pihaknya menyebut, telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPTUR) Kabupaten Bandung. "Karena itu merupakan jalan provinsi, dan menjadi kewenangan provinsi. Tapi kita telah mengajukan surat ke Bina Marga Provinsi Jawa Barat," kata Dadang saat dikonfirmasi, Bandung, Kompas.com Sabtu (30/7/2022). Kendati mengaku telah melakukan komunikasi dengan pihak Provinsi Jawa Barat. Pihaknya, tetap akan melakukan yang terbaik untuk membenahi Jembatan Nanjung.

Jembatan merupakan akses utama yang paling penting terlebih jika menghubungkan dua wilayah ataukah akses antar kabupaten. Sebab, nyamannya berkendara tergantung dari jalan yang dilalui. Selain itu, akses jalan yang rusak pun dapat mengakibatkan tingkat kecelakaan yang besar. Sehingga jalanan terlebih jembatan yang ada harus di perhatikan sedemikian rupa. Sayangnya konsep riayah dalam sistem kapitalisme muncul saat ada keluhan bahkan harus menunggu sampai viral di sosial media terlebih dahulu baru ada penanganan. Ditambah lagi dengan rumitnya birokrasi yang menjadi penghambat, sehingga perbaikan tidak kunjung segera dilakukan. Sangat ironis, jika tidak ada upaya sungguh sungguh dari pemerintah untuk memperbaiki jembatan tersebut, sementara dana untuk renovasi kantor bupati yang mencapai milyaran rupiah bisa dengan mudah dianggarkan.

Solusi yang dilakukan tidak signifikan hanya sekedar timbunan dan tambalan yang jelas tidak bertahan lama malah membuat kondisi jalan semakin berbahaya. Sejatinya di sistem sekarang dimana materi menjadi tolak ukur kehidupannya membuat manusia melakukan sesuatu perbuatan bergantung dari berapa banyak imbalan yang di dapatkan. Tidak begitu memperhatikan kualitas dan kuantitas suatu barang ataukah jasa yang digunakan. Dan kebanyakan pekerjaan yang dilakukan bergantung pada besaran materi yang ada. Karena baginya uang adalah prioritas utama, apalagi di tengah perkembangan zaman seperti sekarang yang memiliki mindset kehidupan yaitu uang adalah sumber kebahagiaan.

Wajar saja jika sekarang banyak di dapati bangunan yang mudah roboh meskipun hampir seluruh kepala daerah yang ada sering melalukan pembangunan ataukah perbaikan infrastruktur, namun pada akhirnya berujung pada kerusakan saja. Karena akar persoalannya berada pada sistem kapitalisme-sekular, dimana mereka bekerja keras atas tuntunan hidup yang tinggi sedang mereka yang berada di kelas atas hanya memikirkan bagaimana bisa mendapatkan keuntungan pribadi dalam setiap proyek yang dikerjakan.

Sangat berbeda dengan riayah daulah Islam, penyediaan dan pemeliharaan infrastruktur termasuk jembatan adalah tugas dan kewajiban negara (pusat atau daerah). Semua fasum (marafiq) dalam kontrol ketat negara. Tidak boleh ada yg rusak/menghalangi masyarakat dlm memanfaatkannya. Intinya, semua kebutuhan primer masyarakat akan mendapat prioritas riayah yang baik oleh daulah.

Terlebih individu sejak awal sudah di ajarkan dan ditanamkan dalam dirinya ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta niatan ikhlas bekerja dan memperhatikan kualitas dan kuantitasnya. Tidak mementingkan kepentingan individunya dan bekerja dengan tujuan ikhlas karena Allah SWT. Dan Islam sangat memberikan perhatian khusus dalam kemajuan suatu negara terutama di bidang infrastruktur, dan sangat memperhatikan soalan sumber biaya yang digunakan dan mengutamakan yang lebih dulu untuk ditangani, beda dengan kapitalis membangun dimana saja dengan tidak mempertimbangkan segala sesuatunya berdasarkan kebutuhan dan pembiayaan yang digunakan bergantung pada pendapatan pajak semata.

Wallahu a’lam Bishowwab


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update