Aktivis Muslimah
Jembatan Nanjung, yang berlokasi di Kampung Jati, Desa
Nanjung, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kondisinya sangat
mengkhawatirkan. Jembatan yang menghubungkan antara Kabupaten Bandung dan
Kabupaten Bandung Barat (KBB) bergoyang ketika dilalui kendaraan besar seperti
truk. Bahkan, truk berukuran besar harus berhenti ketika ada kendaraan serupa
dari lawan arah. Tak hanya itu, besi penghalang baik di kiri dan kanan jembatan
sudah terlihat rapuh dan usang. Pun dengan besi penyangga atau penopang yang
ada di bawah jembatan nampak sudah berkarat.
Sebelumnya, kondisi
jembatan Nanjung yang mengkhawatirkan tersebut sempat ramai di sosial
media, terutama Instagram. Bahkan, video jembatan Nanjung yang
bergoyang tersebut diunggah di akun Instagram Polsek Margaasih. Dalam video
tersebut, terlihat seorang yang sengaja merekam merasakan getaran saat ia
berjalan kaki di jembatan Nanjung tersebut. Bahkan dalam video yang beredar di
sosial media, jalan aspal jembatan tersebut kondisinya rusak bergelombang. Namun
saat ditinjau langsung, aspal sudah diperbaiki dengan cara penambalan.
Setelah viralnya video tersebut Bupati Bandung Dadang
Supriatna angkat bicara soal Jembatan Nanjung di Kampung Jati, Desa
Nanjung, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang kondisinya
sangat mengkhawatirkan. Pihaknya menyebut, telah berkoordinasi dengan Dinas
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPTUR) Kabupaten Bandung. "Karena itu
merupakan jalan provinsi, dan menjadi kewenangan provinsi. Tapi kita telah
mengajukan surat ke Bina Marga Provinsi Jawa Barat," kata Dadang saat
dikonfirmasi, Bandung, Kompas.com Sabtu (30/7/2022). Kendati mengaku telah
melakukan komunikasi dengan pihak Provinsi Jawa Barat. Pihaknya, tetap akan
melakukan yang terbaik untuk membenahi Jembatan Nanjung.
Jembatan merupakan akses utama yang paling penting
terlebih jika menghubungkan dua wilayah ataukah akses antar kabupaten. Sebab,
nyamannya berkendara tergantung dari jalan yang dilalui. Selain itu, akses
jalan yang rusak pun dapat mengakibatkan tingkat kecelakaan yang besar.
Sehingga jalanan terlebih jembatan yang ada harus di perhatikan sedemikian
rupa. Sayangnya konsep riayah dalam sistem kapitalisme muncul saat ada keluhan
bahkan harus menunggu sampai viral di sosial media terlebih dahulu baru ada
penanganan. Ditambah lagi dengan rumitnya birokrasi yang menjadi penghambat,
sehingga perbaikan tidak kunjung segera dilakukan. Sangat ironis, jika tidak
ada upaya sungguh sungguh dari pemerintah untuk memperbaiki jembatan tersebut, sementara
dana untuk renovasi kantor bupati yang mencapai milyaran rupiah bisa dengan
mudah dianggarkan.
Solusi yang dilakukan tidak signifikan hanya sekedar timbunan
dan tambalan yang jelas tidak bertahan lama malah membuat kondisi jalan semakin
berbahaya. Sejatinya di sistem sekarang dimana materi menjadi tolak ukur
kehidupannya membuat manusia melakukan sesuatu perbuatan bergantung dari berapa
banyak imbalan yang di dapatkan. Tidak begitu memperhatikan kualitas dan
kuantitas suatu barang ataukah jasa yang digunakan. Dan kebanyakan pekerjaan
yang dilakukan bergantung pada besaran materi yang ada. Karena baginya uang
adalah prioritas utama, apalagi di tengah perkembangan zaman seperti sekarang
yang memiliki mindset kehidupan yaitu uang adalah sumber kebahagiaan.
Wajar saja jika sekarang banyak di dapati bangunan
yang mudah roboh meskipun hampir seluruh kepala daerah yang ada sering
melalukan pembangunan ataukah perbaikan infrastruktur, namun pada akhirnya
berujung pada kerusakan saja. Karena akar persoalannya berada pada sistem
kapitalisme-sekular, dimana mereka bekerja keras atas tuntunan hidup yang
tinggi sedang mereka yang berada di kelas atas hanya memikirkan bagaimana bisa
mendapatkan keuntungan pribadi dalam setiap proyek yang dikerjakan.
Sangat berbeda dengan riayah daulah Islam, penyediaan
dan pemeliharaan infrastruktur termasuk jembatan adalah tugas dan kewajiban
negara (pusat atau daerah). Semua fasum (marafiq) dalam kontrol ketat negara. Tidak
boleh ada yg rusak/menghalangi masyarakat dlm memanfaatkannya. Intinya, semua kebutuhan
primer masyarakat akan mendapat prioritas riayah yang baik oleh daulah.
Terlebih individu sejak awal sudah di ajarkan dan
ditanamkan dalam dirinya ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta niatan
ikhlas bekerja dan memperhatikan kualitas dan kuantitasnya. Tidak mementingkan
kepentingan individunya dan bekerja dengan tujuan ikhlas karena Allah SWT. Dan
Islam sangat memberikan perhatian khusus dalam kemajuan suatu negara terutama
di bidang infrastruktur, dan sangat memperhatikan soalan sumber biaya yang
digunakan dan mengutamakan yang lebih dulu untuk ditangani, beda dengan
kapitalis membangun dimana saja dengan tidak mempertimbangkan segala sesuatunya
berdasarkan kebutuhan dan pembiayaan yang digunakan bergantung pada pendapatan
pajak semata.
Wallahu a’lam Bishowwab

No comments:
Post a Comment