Tujuh tahun tak lulus kuliah, mahasiswa ditemukan tewas gantung diri. Mahasiswa berinisial BH ini berkeluh kesah soal kuliahnya selama 7 tahun yang tak kunjung selesai.
Informasi itu didapat setelah polisi mendalami keterangan dari kakak angkat korban, RD.
“Dia diajak ngomong baru nyambung. Katanya kuliah 7 tahun enggak lulus-lulus. Ngajukan skripsi ditolak terus sama dosennya. Sehingga dia diduga stres akhirnya bunuh diri,” tutur Kanit Reskrim Polsek Sungai Pinang, Iptu Fahrudi.
Pihak kampus pun menjelaskan terkait kasus tersebut, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda, Kalimantan Timur, Muhammad Noor mengatakan, BH merupakan mahasiswa angkatan 2013 Program Studi Hubungan Internasional.
Masa kuliahnya semestinya sudah berakhir 31 Juni 2020.
Namun karena ada pandemi Covid-19, khusus mahasiswa angkatan 2013, pihaknya telah memperpanjang masa penyelesaian studi sampai 31 Desember 2020, dengan syarat judul skripsi sudah diterima atau sudah seminar proposal.
Menurut Noor, korban sudah lolos seminar proposal. Artinya, seharusnya masih ada waktu untuk menyelesaikan skripsi hingga Desember 2020.
"Nah almarhum ini sejak 2017 dibimbing oleh dua dosen pembimbing. Entah kenapa, akhir 2018 mahasiswa ini ganti pembimbing. Tapi terlepas dari dia mengalami kesulitan selama proses pembimbingan atau kesulitan ketemu pembimbing mungkin, itu masalah hubungan mahasiswa dengan dosennya. Tapi masa studinya masih lama sampai Desember 2020,” terang dia.
Bunuh diri juga di lakukan oleh siswi di Semarang. Ia mempunyai nazar yang aneh, yakni bernazar bunuh diri jika tidak lolos di PTN impian nya.
Hops.ID - Berawal dari kiriman di akun Twitter @utbkfess, menyampaikan bahwa adiknya yang saat itu sedang menunggu pengumuman kelulusan masuk perguruan tinggi, memiliki nazar jika ia benar diterima di PTN impiannya ia akan memberi santunan untuk anak yatim. Namun jika ia tidak lolos,
ia pun memiliki nazar untuk membunuh dirinya sendiri.
Dan ternyata setelah mengetahui hasilnya ia pun gagal, lalu melaksanakan nazar nya untuk membunuh dirinya sendiri . Astagfirullah hal azim.
Kabarnya pelajar tersebut meninggal setelah OD alkohol dan meminum semua obat-obatan yang diberikan oleh psikiaternya.
Data dari World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia tahun 2018 menunjukkan setiap 40 detik terdapat seseorang yang meninggal karena bunuh diri. Ini lebih parah daripada nyawa yang hilang saat perang.
Masih berdasarkan data WHO, 47,7% orang yang bunuh diri tersebut itu berusia 10-39 tahun atau pada usia remaja dan usia produktif. Bunuh diri jadi penyebab utama kedua kematian di kalangan pemuda yang berusia antara 15 dan 29 tahun.
Yang jadi pertanyaan, apa yang membuat banyak orang untuk bunuh diri?
Menurut WHO dalam Global Burden of Disease 2004, penyebab bunuh diri itu: depresi, pelecehan, kekerasan, latar belakang sosial dan budaya.
Inilah akibat dari sistem yang diterapkan negara kita saat ini, yakni sistem pendidikan sekuler yang semakin menjauhkan remaja dari nilai-nilai agama, melahirkan remaja Muslim yang buta ilmu agama. Maka, tidak heran jika saat ini banyak remaja yang justru menjadikan aktivitas hidupnya melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama bahkan dibenci oleh Islam, seperti nazar yang dilakukan pelajar tersebut. Padahal, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sah nazar dalam hal-hal yang berbentuk kemaksiatan kepada Allah” (HR Muslim).
Dari sini jelas bahwa para ulama sepakat semua nazar yang berkaitan dengan kemaksiatan, seperti bunuh diri, membunuh orang lain, melukai diri sendiri atau orang lain, minum khamar dan lainnya tidak sah dan hukumnya haram.
Tentunya kasus seperti ini semakin membuka mata kita bahwa dunia remaja saat ini sedang tidak baik-baik saja, sedang sakit. Pasalnya, Tren pelajar bunuh diri semakin meningkat dari tahun ke tahun. Penyebabnya pun beragam mulai dari tidak mampu bayar biaya sekolah, bullying, skripsi ditolak oleh dosennya, perperasaan putus asa, merasa tidak berharga, bahkan sampai kasus asmara.
Ini juga bukti nyata gagalnya sistem pendidikan kapitalis hari ini dalam membangun kepribadian kuat dan kokoh pada pelajar. Pasalnya, sistem pendidikan ini menjauhkan peran agama dalam aktivitas kehidupan, sehingga melahirkan remaja yang rapuh, kondisi remaja tidak stabil dan mudah putus asa. Karena tidak menjadikan agama sebagai tuntunan kehidupan, lahirlah remaja yang lemah akidah, bingung menjalani hidupnya, tidak tahu arah hingga menjadi remaja yang tidak punya pegangan hidup.
Sayangnya, remaja saat ini mudah latah mengikuti gaya hidup orang-orang Barat, pergaulan yang serba bebas membuat para remaja mudah mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Walhasil, bunuh diri menjadi jalan pintas untuk mengakhiri masalah hidupnya.
Sistem kapitalis yang berorientasi pada materi atau uang membuat peran keluarga sebagai pendidik, pengawas dan pelindung seakan hilang karena disibukkan dengan berbagai macam kebutuhan yang kian menambah beban. Ditambah lingkungan kapitalis yang individualis semakin membuat miris. Ketidakpedulian pada kondisi sekitar dan menganggap tidak penting membuat hilangnya rasa simpati juga empati kepada sesama.
Berkebalikan dengan pendidikan dalam sistem Islam yang menjadikan akidah Islam sebagai landasannya. Pendidikan dalam Islam bertujuan menguasai tsaqafah Islam agar menjadi sosok yang shalih, kuat mentalnya, tidak mudah putus asa dan mulia karena menstandarkan kebahagiaan hanya untuk ridha Allah semata.
Begitu juga visi pendidikan Islam sendiri membangun dan memajukan peradaban Islam, sehingga mendapatkan perhatian yang begitu besar. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam menjamin pendidikan bagi rakyatnya, sampai-sampai mewajibkan tawanan perang mengajarkan kaum Muslim sebagai tebusan pembebasan bagi diri mereka.
Bahkan, sistem Islam akan memastikan tidak ada anak yang putus sekolah atau putus kuliah, karena semuanya dapat mengakses pendidikan tanpa dipungut bayaran, negara yang membayar pengajarnya seperti yang pernah terjadi pada masa kegemilangan Islam. Sistem Islam juga menjadikan aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar sebagai bentuk kasih sayang sekaligus kontrol di dalam hidup bermasyarakat bertujuan untuk mencegah terjadinya perilaku menyimpang.
Oleh karena itu, solusi untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi pada remaja saat ini dengan menerapkan pendidikan Islam yang menjadikan akidah sebagai landasan, sehingga mampu membentuk remaja yang berkepribadian Islam. Juga adanya peran keluarga serta lingkungan yang menjadikan syari’at sebagai acuan dalam melakukan setiap aktivitas kehidupan, sehingga generasi kita akan terhindar dari pemahaman yang rusak dan merusak.
Wallahu a’lam bish-shawab.

No comments:
Post a Comment