Kemiskinan Melambung, Dimana Riayah Negara?


Oleh: Cia Ummu Shalihah 
(Pemerhati Sosial)

Ibu-ibu makin sering mengeluh belakangan ini akibat harga barang pokok kompak naik semua. Apalagi, kenaikan sampai menyentuh harga kerupuk kaleng. 

Selain kerupuk, berbagai bahan pangan, mulai dari minyak goreng, tahu dan tempe, daging sapi, daging ayam, cabai, bawang merah, hingga gula pun kompak naik harga. Belum lagi harga energi mulai dari BBM hingga LPG non subsidi naik menjadi Rp15.500 per kg sejak Februari lalu. Belum lagi, pajak pertambahan nilai (PPN) juga sudah naik dari 10 persen menjadi 11 sejak 1 April lalu (CNNindonesia/20/4/2022). 

Lonjakan harga pangan terjadi ketika masih banyak masyarakat yang belum keluar dari kemiskinan akibat kemerosotan ekonomi selama pandemi. Lebih meningkat lagi selama bulan Ramadhan dan menjelang lebaran. 

Ekonomi Kapitalis 

Kondisi seperti ini sudah setiap tahun terjadi dengan alasan permintaan barang yang tinggi, padahal bisa saja pemerintah memikirkan jauh-jauh hari untuk menanggulangi kenaikan harga kebutuhan pokok, mulai menyiapkan stok dan stabilitas harga, akan tetapi faktanya pemerintah masih mengidolakan kebijakan impor. 

Hari demi hari rakyat tak henti-hentinya dibuat susah dengan kondisi ekonomi yang terpuruk/parah, rakyat hanya bisa pasrah menerima keadaan dan pasrah atas perlakuan penguasa yang memihak kepada para korporat. Semua itu buah dari sistem kapitalis yang memang kerjanya menghisap darah rakyatnya. 

Kemiskinan adalah produk yang berasal dari diri manusia sendiri. Di mana sistem ekonomi yang seharusnya menjalankan produksi secara proposional, konsumsi yang rasional dan distribusi yang adil ternyata hanya menjadi alat bagi segelintir manusia untuk mengeruk kekayaan dan menancapkan status miskin kepada sebagian besar manusia lainnya. Dan anehnya sebagian besar manusia kemudian menerima status ini dengan keyakinan bahwa dirinya adalah seseorang yang miskin dan pantas untuk dikasihani. 

Meningkatnya kemiskinan yang terjadi saat ini karena lepas tangannya pemerintah terhadap tugasnya sebagai perisai dan periayah, yang dilakukan malah menjarah rakyatnya secara bertubi-tubi. Oleh karena itu sangat jauh dari kata sejahtera, justru yang terjadi adalah kesengsaraan. 

Ekonomi Dalam Islam 

Perekonomian adalah salah satu penopang dalam kehidupan Negara. Perekonomian Negara yang kokoh akan mampu menjamin kesejahteraan dan kemampuan rakyat. Salah satu penunjang perekonomian Negara adalah kesehatan pasar. Kesehatan pasar, sangat tergantung pada mekanisme pasar yang mampu menciptakan harga yang seimbang yaitu tingkat harga yang dihasilkan oleh interaksi antara kekuatan permintaan dan penawaran yang sehat. 

Dalam Islam penguasa memiliki peran penting dan bertanggungjawab memenuhi kebutuhan masyarakat. Negara akan menjamin ketersediaan pasokan barang didalam negeri dengan memaksimalkan potensi para petani, pengusaha lokal bukan dengan jalan impor. 

Ekonomi Islam memandang bahwa pasar, negara, dan individu berada dalam keseimbangan, tidak boleh ada kesenjangan, sehingga salah satunya menjadi dominan dari yang lain.  Pasar dijamin kebebasannya dalam Islam. Pasar bebas menentukan cara-cara produksi dan harga, tidak boleh ada gangguan yang mengakibatkan rusaknya keseimbangan pasar. Namun dalam, kenyataannya sulit ditemukan pasar yang berjalan sendiri secara adil. 

Konsep makanisme pasar dalam Islam dapat dirujuk dari hadits Rasulullah Saw. sebagaimana disampaikan oleh Sayyidina Anas Bin Malik RA, sehubungan dengan adanya kenaikan harga-harga barang di kota Madinah. Dalam hadits ini terlihat dengan jelas bahwa Islam jauh lebih dahulu, kurang lebih 1160 tahun telah mengajarkan konsep mekanisme pasar. 

Dalam hadits tersebut diriwayatkan sebagai berikut : 

“Harga melambung pada zaman Rasulullah Saw. Orang-orang ketika itu mengajukan saran kepada Rasulullah dengan berkata: “Ya Rasulullah hendaklah engkau menentukan harga”. Rasulullah SAW. berkata: ”Sesungguhnya Allah-lah yang menentukan harga, yang menahan dan melapangkan dan memberi rezeki. Sangat aku harapkan bahwa kelak aku menemui Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntutku tentang kezaliman dalam darah maupun harta." 

Rasulullah Saw. dalam hadits tersebut tidak menentukan harga. Ini menunjukkan bahwa ketentuan harga itu diserahkan kepada mekanisme pasar yang alamiah impersonal. Rasulullah menolak tawaran itu dan mengatakan bahwa harga di pasar tidak boleh ditetapkan, karena Allah-lah yang menentukannya. 

Hanya negara Islamlah yang mampu menerapkan ekonomi Islam sehingga kemiskinan bisa teratasi dengan baik dan menciptakan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Wallahua'lam

Post a Comment

Previous Post Next Post