Oleh: Kharimah El-Khuluq
Sejatinya, tujuan pendidikan yakni membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memiliki akhlakul karimah serta memiliki ilmu sehingga sehingga menjadi orang yang cerdas baik dalam ilmu pengetahuan maupun teknologi sains.
Namun, berbanding terbalik dengan postingan di akun Facebook seorang Prof. Budi Santoso Purwokartika, selaku rektor ITK Balikpapan yang sementara viral di jagat maya. Beliau menulis bahwa ketika mewawancarai 16 mahasiswa yang ikut mobilitas mahasiswa ke luar negeri. Mahasiswa-mahasiswa tersebut adalah anak-anak pintar dan memiliki IP yang luar biasa dan kata-katanya jauh dari bahasa langit serta tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun, (Fajar.co.id, 01/05/2022).
Sangat disayangkan, ouput dari pendidikan masa kini melahirkan para intelektual yang angkuh. Bahkan tidak segan-segan memperlihatkan pembangkangannya terhadap Sang Khalik. Menilai bahwa sejatinya prestasi menurutnya hanya dilihat dari deretan prestasi unggul serta dari deretan angka-angka indeks prestasi yang tinggi.
Bahkan, tidak segan mengganggap bahwa manusia yang cerdas adalah manusia yang jauh dari kata-kata langit atau menolak ketaatan terhadap agama. Sebagaimana postingan dari Prof. tersebut.
Adanya intelektual fobia terhadap Islam merupakan bukti bahwa sekularisme telah merusak mentalitas kaum intelektual.
Racun ini tersebar melalui ruang pendidikan. Dunia pendidikan dalam bingkai demokrasi sekuler hanya sebagai regulator demi kepentingan akumulasi kapital. Pendidikan hanya sebatas sebagai jembatan untuk meraih pekerjaan. Dan doktrin seperti ini sudah mendarah daging di tengah-tengah masyarakat.
Sehingga, sekolah untuk mencari ilmu dan pengetahuan adalah alasan yang telah usang. Alasan utama yang dijadikan pegangan kebanyakan individu ketika menempuh sebuah pendidikan adalah memudahkan mencari pekerjaan.
Maka wajar yang diprioritaskan dalam dunia pendidikan sekuler adalah deretan prestasi dan IP yang fantastik. Bahkan, agama pun dipisahkan dalam dunia pendidikan karena hakikatnya adalah sekularisme.
Maka dari itu, bukan hal yang baru dalam demokrasi sekuler jika ada seorang intelektual yang mengidap Islamofobia. Karena, dasar dari pendidikan adalah menjauhkan dari agama. Dan menyebarkan opini seolah agama adalah momok yang menghambat kemajuan seseorang. Belum lagi ruang kebebasan dibuka selebar-lebarnya. Sehingga siapa pun bisa mengeluarkan pendapat walaupun pendapat tersebut merendahkan agama.
Hal ini berbanding terbalik dengan pendidikan dalam Islam yang memiliki standar yang jelas untuk menentukan kualitas dari peserta didiknya. Pendidikan dalam Islam tidak hanya mencetak generasi dengan skill dan kecerdasan untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja.
Ada hal yang lebih penting yang ingin dibentuk dalam pendidikan Islam. Yakni, membentuk peserta didik ataupun output pendidikan yang berkepribadian Islam, taat dan tunduk terhadap agama Islam.
Banyak intelektual yang dilahirkan oleh sistem Islam. Dan mereka adalah orang-orang yang paling besar ketundukannya kepada Allah SWT.
Sebut saja Ibnu Sina dikenal sebagai bapak kedokteran, seorang filsuf, ilmuwan dan dokter. Kemudian, Al Khawarizmi pelopor konsep aljabar, algoritma, dan bilangan nol. Ia merupakan ilmuwan penting dalam sejarah matematika. Al-Farabi tokoh Islam pertama dalam bidang logika. Fatimah Al-Fihri pendiri universitas pertama di dunia. Dan masih banyak kaum intelektual dari Islam.
Hal ini menandakan bahwa ketaatan kepada Allah SWT. tidak akan membuat seseorang terpuruk ataupun tidak maju. Melainkan, akan membentuk seseorang menjadi intelektual handal yang cerdas akan dunia namun tidak melupakan akhirat.
Wallahualam bishawab.
Tag Terpopuler
Islamofobia Jangkiti Intelektual
PMI
Wednesday, May 11, 2022 | Wednesday, May 11, 2022 WIB
Last Updated
2022-05-11T11:44:45Z
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment