Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Parenting Kebangsaan: Antara Kesatuan Negara dan Keretakan Islam

Tuesday, January 04, 2022 | Tuesday, January 04, 2022 WIB Last Updated 2022-01-03T23:06:47Z



Oleh: Yosi Eka Purwanti, S. E 

(Aktivis Muslimah)


Parenting adalah sebuah seni pengasuhan yang bertujuan untuk membentuk tumbuh kembang anak, emosional, fisik, bakat dan minat anak. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Yogyakarta pun mengenalkan model parenting atau pola asuh kebangsaan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan partisipasi keluarga dalam menumbuhkan semangat dan jiwa nasionalisme anak sejak usia balita. Untuk mengenalkan dan merealisasikan program parenting kebangsaan tersebut, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Yogyakarta menggandeng Kampung KB yang sudah ada di tiap kelurahan.


Tak tanggung-tanggung pemerintah juga menyiapkan "si kumbang" untuk mensukseskan program ini. Si Kumbang adalah semacam kartu tumbuh kembang anak untuk mengukur sejauh mana anak usia nol sampai empat tahun bisa memahami dan mengenal wawasan kebangsaan. Dengan harapan bisa menumbuhkan semangat dan jiwa nasionalisme yang lebih kuat kepada anak saat mereka tumbuh dewasa.


Parenting kebangsaan ini muncul dengan tujuan menanamkan rasa nasionalisme kepada anak-anak sejak dini dari lingkungan keluarga. Latar belakang munculnya parenting Kebangsaan tak lain karena adanya paradigma "radikalisme/islam radikal" di tubuh umat yang menjadi sumber permasalahan negeri. Namun benarkah Islam menjadi biang keladi dari permasalahan negeri ini?


Jika kita menimbang dengan kepala dingin dan akal mustanir, maka permasalahan umat bukan disebabkan oleh radikalisme/islam radikal. Permasalahan Umat justru lahir dari sistem kapitalis dan liberalis yang diemban bangsa ini. Aspek perekonomian nasional hancur justru karena bertumpu pada pajak dan hutang ribawi, ditambah dengan mental korup para jajaran petinggi negara. Hukum yang berlaku di negeri ini pun berada di titik nadir, karena tumpul ke atas ketika berhadapan dengan orang-orang yang punya tahta dan harta, namun hukum terlalu tajam dan kejam dalam memvonis rakyat kecil dengan menanggalkan hati nurani. Dari segi budaya, adat timur kian terkikis dengan pola hubungan laki-laki dan perempuan yang kebablasan. Kehamilan di luar nikah menjadi hal yang lumrah, tingkat asusila tak bermoral menjadi bom waktu, ditambah maraknya kasus aborsi, pencabulan, pemerkosaan, dll. Tingkat kriminalitas merangkak tajam, bahkan lapas over kapasitas. Apakah ini salah islam? Kenapa islam yang jadi kambing hitam?


Jika merunut ke belakang, parenting kebangsaan pada akhirnya sejalan dengan opini deradikalisasi yang berusaha terus digencarkan ke tengah masyarakat. Sebagaimana diketahui, sikap fanatik beragama (baca:radikal) dianggap sebagai pemicu terkikisnya paham kebangsaan. Sehingga, muncul pemahaman bahwa sikap radikal perlu dicegah mulai dari lingkungan keluarga. Program-program kebangsaan tersebut dibenturkan dengan paradigma Islam kaffah yang menjadikan islam sebagai solusi atas kehidupan.


Sungguh ironi, anak-anak usia dini tidak dibina untuk takut kepada Rabbnya, tidak diajarkan bahwa suri tauladan terbaik dibawa Rasulullah Muhammad SAW. Alih-alih parenting ini membawa pada peningkatan keimanan dan ketakwaannya, justru mengarahkan anak usia dunia kepada islamophobia (rasa takut kepada islam). Padahal seharusnya usia dini merupakan awal pembentukan aqidah pada anak sehingga ketika anak dewasa mampu menjadi sosok pribadi muslim berakhlak mulia.


Ilmu parenting seharusnya dapat membentuk dan mengarahkan anak sebagaimana yang diinginkan penciptanya (Allah SWT). Yakni, mendidik umat menjadi pribadi muslim yang bertaqwa dan memiliki kepribadian Islam sebagaimana yang rasul contohkan. Bukanlah hal yang mudah jika saat ini kita ingin membentuk anak dengan karakter islami. Karena selain keluarga harus menjadi benteng terkuat, masyarakat pun haruslah masyarakat islami yang mampu membentuk anak menjadi pribadi muslim yang bertaqwa.


Namun faktanya sekarang paradigma kapitalis membawa negeri ini untuk mengalihkan fitrah anak yang suci kepada ketakutan terhadap islam yang notabene agamanya sendiri. Berbagai parenting diupayakan agar generasi tidak terlalu mendalami agama (islam). Kuatnya pemahaman akan islam akan membawa pada sosok Radikal. Hingga terbentuk paham Islamophobia (takut akan ajaran agama Islam).


Membentuk anak yang memiliki kepribadian islam adalah cita-cita bagi kaum muslimin. Sayangnya pembinaan kepribadian Islam tidak tercetak di lingkungan kapitalisme dan sekulerisme. Kepribadian Islam hanya bisa diciptakan dengan efektif dan efisien dalam sistem islami yaitu sistem Islam dalam setiap lini kehidupan di bawah naungan khilafah ala minhajin nubuwah.
Wallahu a'laam bis showab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update