Oleh: Umul Bariyah (Aktivis Muslimah)
Pernah dengar istilah Moderasi Beragama? Akhir akhir ini istilah ini mewarnai dunia pendidikan Indonesia. Bagi kalangan guru, mahasiswa atau pelajar istilah ini tidak asing lagi. Beragam pelatihan atau sosialisasi tentang moderasi beragama di sekolah maupun di kampus menjadi program nasional yang tengah digalakkan.
Moderasi beragama adalah program pemerintah dengan tujuan membina generasi untuk tidak terlalu over dan ekstrim dalam belajar agama. Beragama itu harus moderat (tidak boleh berlebihan), karena dikhawatirkan akan menjadi "radikal", yakni orang yang merasa agamanya paling benar dan agama lain tampak salah di matanya. Kalau generasi muda banyak yang memiliki cara pandang radikal, akan muncul banyak perselisihan dan perpecahan di negri kita tercinta ini.
Istilah moderasi berasal dari kata moderation, yang berarti sikap sedang, sikap tidak berlebih-lebihan. Moderasi beragama berarti tidak berlebih-lebihan dalam mempelajari agama. Tentu hal ini membawa tanda tanya baru bagi masyarakat. Bukankah jika belajar beragama secara mendalam akan memperkokoh akidah kita, terutama kita yang beragama Islam? Bahkan Rasulullah yang menjadi suri teladan umat muslim, menganjurkan pembelajaran akidah dimulai sejak dini. Agar kita mempunyai bekal iman yang mumpuni saat kita tumbuh dewasa.
Bayangkan, seandainya sejak dini kita tidak dibekali dengan akidah yang kokoh. Anak muda akan berpikiran bebas, tidak mengenal nilai nilai agama. Pergaulan dengan siapa saja tidak masalah bahkan menjalin hubungan sesama jenis lazim dilakukan. Menganggap pacaran adalah hal yang biasa yang kemudian menjurus pada perzinahan yang akhirnya berakhir dengan aborsi dan kejadian bunuh diri seperti cerita viral yang terjadi beberapa waktu. Minum beralkohol dan mengosumsi barang haram narkoba juga dianggap hal yang lazim dilakukan. Naudzubillah. Ini sebenarnya contoh real bagi kita sebagai orang tua. Kalau islam tidak dipelajari dengan mendalam, maka moral anak cucu kita akan tergadai kan.
Mempelajari agama Islam secara mendalam tak serta merta menjadi pribadi Radikal, kejam dan arogan. Mempelajari Islam secara mendalam justru akan menciptakan suasana harmonis dalam keluarga, bertetangga, dan bernegara dengan tenang dan damai. Seorang suami tahu akan kewajibannya sebagai kepala keluarga yang mencari nafkah buat seluruh anggota keluarga, istri paham akan dirinya sebagai madrasah pertama untuk buah hatinya disamping menjadi istri yang sholihah buat suaminya. Anak anak akan tumbuh menjadi anak yang santun serta sholih sholihah. Hubungan antar tetangga juga terjalin harmonis. Saling membantu dan saling mengingatkan dengan cara yang makruf. Bukankah itu cara cara Islam yang diajarkan Baginda Rasul? Apalah jadinya kalau pembelajaran tentang agama mulia (Islam) ini dibatasi dengan dalih moderasi beragama? Alih-alih menjadi muslim yang taat, justru menjadikan muslim yang tak mengenal hakikat agamanya sendiri.
Sebagai seorang muslim, kita harus meyakini bahwa semua aturan atau syariat Islam adalah kamil wa syamil (sempurna). Tidak ada aturan dari Allah yang membawa pada keburukan. Maka haram hukumnya memilih dan memilah aturan Allah sesuai kepentingan dan hawa nafsu kita. Haram pula menyembunyikan sebagian aturanNya dan membatasinya. Seluruh aturan sang pencipta hukumnya wajib untuk dipelajari dan diamalkan. Bahkan, Di dalam Alquran dan hadits banyak sekali mengajarkan tentang prilaku manusia untuk berkasih sayang kepada sesama saudara muslim maupun non muslim. Termasuk pada mahluk hidup lainnya seperti pada hewan dan tumbuhan. Jadi dilihat dari sudut pandang mana kalau ajaran beragama itu bisa membawa sifat radikal dan intoleran?
Moderasi beragama membawa syariat Islam yang sempurna sebagai aturan yang bisa dipilih, dikurangi dan diseleksi. Syariat islam juga dikerdilkan dengan label "cocok" Atau "tidak cocok" bagi manusia. Syariat islam bisa diambil atau dibuang begitu saja. Hal ini membawa kita pada paradigma berpikir sekuler, yaitu tetap menyebut Allah sebagai tuhan tapi aturannya dicampakkan. Kita dituntut untuk berpikir dan mengadopsi paham moderat dan menjunjung tinggi nilai kebebasan.
Salah satu contoh dari Moderasi beragama adalah terkait tata aturan berpakaian seorang wanita yang didalamnya terdapat himbauan agar seorang wanita berpakaian sewajarnya saja. Tidak usah berlebihan apalagi sampai berhijab syar'i, termasuk mengenakan niqob atau cadar. Bagi seorang muslimah tentu hal ini sangat bertentangan dengan syariat atau aturan Allah.
Berpakaian syar'i hukumnya wajib bagi wanita muslimah yang sudah baligh. Tidak ada alasan baginya untuk tidak berhijab entah itu saat bekerja, sekolah, dan segala aktifitas apapun yang berada di luar rumah kecuali di depan suami apabila sudah berumah tangga. Bahkan aturan berhijab ini ada dalam Alquran.
" Wahai nabi! Katakanlah kepada istri istrimu, anak anak perempuanmu dan istri istri orang mukmin, hendaklah mereka menutup jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu..." (QS. Al Ahzab ayat 59)
Jadi jelas hukum berhijab ini. Siapapun tidak boleh ada yang merubah wajibnya menutup aurat dengan dalih moderasi beragama. Memakai hijab syar'i adalah hak individu terhadap Tuhannya untuk melaksanakan syariatNya. Bukti cinta dan ketakwaaan pada Rabbnya. Tidak ada seorangpun yang boleh melarangnya.
Berhijab bagi muslimah menimbulkan rasa aman pada dirinya. Menghindari lawan jenis untuk bersikap kurang ajar dan berhati kotor untuk melakukan pelecehan. Dengan berhijab akan menutup salah satu celah terjadinya perzinahan.
Disamping untuk mengikuti dan meneladani istri istri Baginda Rasul, berhijab syar'i akan memposisikan wanita menjadi wanita terhormat dan mengangkat derajatnya pada kemuliaan. Masyarakat akan menilai pada sisi ketakwaan, kepribadian, kecerdasan, prestasi dan hal yang menunjukkan kualitas hidupnya. Bukan menilai pada bentuk fisik dan kemolekan tubuhnya.
Jadi dapat ditarik kesimpulan, bahwa moderasi beragama sebenarnya adalah racun yang menjauhkan kaum muslimin dari aturan atau syariat Allah. Menjauhkan kaum muslimin dari pemahaman Islam yang kaffah serta mengaburkan pemahaman islam yang hakiki. Wallahu'alam bi shawab.
No comments:
Post a Comment