Oleh: Ummu 'Alsiyah
(Aktivis Muslimah)
Pendidikan Indonesia tengah berupaya membangun paham moderasi agama sebagai identitas bangsa. Demi terlaksananya paham islam moderat, tes wawasan kebangsaan diberlakukan kepada praktisi pendidikan dan para pegawai. Tes tersebut menjadi pertimbangan untuk mengangkat pegawai negeri atau ASN.
Sayangnya tes kebangsaan tersebut berisi pertanyaan yang menghendaki isu kebangsaan lebih tinggi dibanding prinsip beragama (islam). Seperti kerelaan melepas jilbab demi pekerjaan. Padahal memakai jilbab dan menutup aurat merupakan kewajiban bagi setiap muslimah yang sudah baliq. Namun hal ini menjadi sebuah pilihan yang harus dipilih antara keyakinan yang dipercayainya (tetap memakai jilbab namun melepaskan pekerjaan) atau melepas jilbab demi pekerjaan (news.detik.com 2/6/2021).
Sayangnya Pertanyaan-pertanyaan kontroversial itu terkesan mengotak atik keyakinan muslim atas nama kebangsaan. Hingga menimbulkan keheranan, bukankah jilbab tak menghalangi seseorang untuk melaksanakan pekerjaannya? Terlebih lagi jika muslimah tersebut seorang praktisi pendidikan atau pegawai pemerintahan. Justru Jilbab akan membawa marwah (kemuliaan) serta mencirikan identitas keyakinan seseorang, hingga kita tak perlu bertanya lagi tentang keyakinannya? Kenapa menginginkannya muslimah menanggalkan jilbabnya? Bukankah menanggalkan jilbab tak pantas menjadi ukuran seseorang tersebut menjadi cinta tanah air?
Selain masalah jilbab, ada beberapa pertanyaan-pertanyaan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan para pegawai atau praktisi pendidikan tersebut. Ironisnya, pertanyaan yang notabenenya berkecimpung dalam urusan penyelewengan dana-dana negara oleh para pejabat sama sekali tidak ditanyakan. Pertanyaan seputar isu-isu popular seputar toleransi, termasuk toleransi terhadap LGBT yang menjadi pertanyaan dalam tes kebangsaan. Sayangnya pertanyaan tersebut tidak berhubungan dengan pekerjaan para ASN tersebut. Seperti viralnya 20 pertanyaan kontroversial yang dilansir dari www.wanheartnews.com (5/5/2021).
Angel Rabasa (peneliti senior pada RAND Corporation, yaitu NGO yang memberi saran dan masukan ke Security Council Amerika Serikat) ketika ditanya Gus Hamid (Prof Dr. Hamid Fahmy Zarkasy, seorang guru besar filsafat Islam) di sebuah simposium di Tokyo, “Apa itu moderat?” Maka jawabnya, “Moderat artinya adalah orang yang mau menerima pluralisme, feminisme, kesetaraan gender, demokrasi, kemudian humanisme dan lain sebagainya.”
Jika merujuk pada penjelasan Angel Rabasa kepada Gus Hamid ini, Sejatinya moderasi beragama adalah wajah liberal (kebebasan) untuk membenturkan paham kebangsaan dengan keyakinan seorang muslim. Moderasi agama juga menyerang ajaran-ajaran islam dengan senjata bernama hak asasi manusia. Moderasi beragama pun berusaha melemahkan islam memakai isu toleransi. Sayangnya, seperti serigala berbulu domba, moderasi beragama menyusup di tengah kaum muslimin. Layaknya racun berbalut madu, moderasi beragama hadir dalam wajah pendidikan.
Moderasi beragama jika terus digalakkan maka akan memperparah krisis identitas generasi muslim dan menciptakan islamofobia (ketakutan terhadap Islam). Sebab para muslimah khawatir dianggap ekstrem dan tidak memperoleh pekerjaan, hingga memutuskan menanggalkan jilbabnya. Maka, lahirlah praktisi pendidikan, para pegawai dan generasi-generasi yang tidak paham hukum Islam dan tidak taat kepada Allah Rabb-nya. Mereka menanggalkan identitas diri sebagai muslim yang taat dengan dalih cinta tanah air, toleran, anti kekerasan, dan ramah terhadap keragaman budaya lokal.
Melalui moderasi, ada penanaman di benak praktisi pendidikan, pegawai dan generasi generasi bahwa syariat Islam tidak penting, yang penting adalah esensinya. Yakni mengambil syariat Islam sebatas ibadah ritual dan akhlak saja, tetapi meninggalkan ajaran Islam yang mengatur urusan kehidupan secara menyeluruh. Inilah yang disebut dengan sekuler, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Tentu saja ini bertentangan dengan Islam karena Islam memerintahkan setiap muslim untuk menjalankan syariat Islam secara keseluruhan (kaffah).
Moderasi beragama telah menghalangi generasi muslim dari memahami kesempurnaan agama Islam. Mereka pun tidak tahu bahwa syariat Islam mampu menyelesaikan semua problem yang menimpa kaum muslim hari ini ketika tegak secara sempurna dalam sebuah institusi negara Islam, yaitu Daulah Khilafah.
Sudah jelas, katakan "TIDAK" kepada moderasi beragama”. Ini Merupakan peperangan antara haq dan bathil. Yakni, peperangan antara kapitalisme (liberalisme) dengan ideologi islam. propaganda-propaganda untuk menyudutkan umat muslim dalam berbagai bidang kehidupan kembali di blow up, termasuk menjadi pegawai ASN harus siap menanggalkan jilbab, mentoleransi penyimpangan LGBT serta mengakui semua agama benar.
Saatnya umat memperkuat aqidahnya. Karena tak ada solusi yang hakiki untuk menyelesaikan semua problematika umat kecuali memenangkan sistem Islam sebagaimana yang sudah dicontohkan Rasulullah sebagai sendi-sendi dalam kehidupan.
Wallahu a’lam bishowab.
No comments:
Post a Comment