Rencana mengubah nama jalan di daerah Menteng, Jakarta Pusat, menjadi Jalan Ataturk serentak menyedot kontroversi di tengah masyarakat. Kelompok-kelompok yang tidak sudi nama Ataturk dipakai menjadi nama jalan di Indonesia meradang dengan berbagai cara dan ekspresi yang sangat kentara di dunia maya.
Informasi-informasi seputar Mustafa Kemal Ataturk kembali bermunculan dengan reproduksi sedemikian rupa.
Dalam belantika sejarah, Turkilah negara Islam yang pertama kali mengadopsi konsep sekuler. Runtuhnya Turki Usmani dan berkembangnya arus modernisasi akhirnya menjadikan Turki bermanuver menjadi negara sekuler di bawah kendali Mustafa Kemal Atatürk. Ia beranggapan bahwa hanya dengan konsep sekulerlah Turki bisa bangkit dan menjadi negara maju layaknya Barat.
Ide sekularisasi yang dijalankan Mustafa kemal memang tidak sampai menghilangkan agama. Menurut Alexander de Groot, solusi yang dilakukan Mustafa kemal bukan suatu gejala sosial dengan kekerasan atau pergantian suatu kelas sosial dengan kelas sosial lain. Tetapi merupakan revolusi nilai, jadi gerakan ini adalah bertujuan untuk mengganti Islam sebagai sistem normatif.
Serif Mardin berpendapat bahwa konsep negara modern yang diajukan Mustafa kemal itu untuk menjaga negara agar bebas dari pengaruh ulama dan pimpinan tarekat.
Kita akan memahami bahwa nilai-nilai agama yang dipandang oleh kemal itu sebagai penghambat kemajuan sekularisasi, seperti pemisahan antara agama dan negara, agama hanya memainkan peranan sekunder dan hanya sebagai nilai personal.
Rencana penyematan tokoh asal Turki ini, merupakan bagian kerjasama antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Turki. Di Pakistan mengizinkan nama Ataturk tercatat pada nama jalan, yaitu Ataturk Avenue. Sebaliknya, di Ankara terdapat nama jalan dengan nama Cinnah Caddesi (Jalan Jinnah).
Sebagian kita memang masih sangat alergi dengan Bapak Bangsa Turki ini. Karena dianggap sebagai tokoh yang mengacak-acak ajaran Islam.
Tetapi disisi lain, penulis Lord Kinross, menggambarkan Mustafa Kemal sosok yang dikagumi masyarakat turki, dimana ia menggambarkan suasana kehilangan mendalam bangsa Turki ketika Ataturk meninggal, Turkiye, sevgilisini kaybetti (Turki kehilangan kekasihnya).
Mantan elite PKS, Fahri Hamzah pun mengatakan persetujuan nama tersebut bukan perkara pro dan kontra. Namun menurutnya, pemberian nama tersebut juga bukan lah keinginan pemerintah secara sepihak.
"Yang akan menentukan nama jalannya bukan Pemerintah Indonesia dan juga bukan Pemda DKI. Pemerintah Turki yang akan menentukan nama jalan tersebut nanti," jelas Dubes RI di Turki, .
Apapun nama jalan itu nanti, pasti itu mewakili harapan pemimpin dan rakyat Turki. Akhiri pro kontra, mari kita dukung penuh atas jalinan kerja sama agar dapat memperkuat kedua negara yang sama-sama mayoritas muslim.
Mia Fitriah Elkarimah
el.karimah@gmail.com

No comments:
Post a Comment