Ibu Rumah Tangga
Hari ke hari pandemi COVID-19 semakin mencemaskan. Banyak masyarakat terpapar virus ini, dalam sehari mencapai lebih dari 50.000 kasus. Rumah sakit penuh hingga tidak lagi dapat menampung pasien, tenaga kesehatan kewalahan dan ada juga yang sakit terpapar virus ini dan wafat.
Setiap musibah turun atas izin Allah. Sebagai seorang Muslim, setiap musibah harus dihadapi dengan keimanan agar tidak keliru dalam berpikir dan bersikap.
Dalam menghadapi musibah, pertama seorang Muslim wajib mengimani bahwa tidak ada musibah yang terjadi tanpa izin Allah SWT. Hal itu Allah jelaskan dalam Q.s at-Taubah:51 dan Q.s al-Hajj:18. Dengan memahami kenyataan dan mengimaninya, seorang hamba akan mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah SWT dan menyadari kelemahannya sebagai makhluk. Karena, bahkan sampai saat ini kecanggihan teknologi kesehatan belum mampu melawan virus ini hingga dunia hamper lumpuh dibuatnya.
Kedua, seorang Muslim wajib memahami bahwa dalam kehidupan di dunia, kita akan selalu dihadapkan dengan ujian, seperti yang Allah SWT firmankan dalam Q.s al-Baqarah:155.
Demikian hakikat kehidupan, tidak ada satupun hamba yang melewati hidupnya tanpa ujian. Ketika seorang hamba ikhlas dan bersabar terhadap ujian maka Allah SWT akan membersihkan dosanya sebagai mana yang telah disabdak
an oleh Rasulullah Saw.
“Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”(HR at-Tirmidzi).
Selain ikhlas dan sabar, sebagai kaum Muslim kita diperintahkan juga untuk melakukan evaluasi diri atas kemungkinan dosa-dosa yang telah dilakukan sehingga datang bencana. Dalam surat asy-Syuara: 40 Allah SWT mengingatkan bahwa bencana datang karena ulah manusia.
Hari ini, banyak sekali kita temui tindak kedzaliman. Ulama dihukum berat karena aturan prokes, sedangkan pejabat negara yang melanggar diloloskan begitu saja. Dan hukuman untuk koruptor yang diringankan.
Benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah Saw. Saat ini, begitu banyak kemungkaran lalu datanglah bencana yang juga menimpa orang - orang soleh. Selama pandemik, dilaporkan ada sekita 584 ulama yang meninggal karena wabah ini. Selain ikhtiar dengan teknologi kedokteran dan obat-obatan kita juga dianjurkan untuk melakukan taubat nasuha.
Saat ini, yang harus umat sadari bahwa pemerintah tidak serius dalam mengurus urusan rakyat. Meledaknya kasus di masa pandemi ini adalah rangkaian ketidaksesuaian kebijakan pemerintah. Pemerintah tidak mau menerapkan prokes dengan ketat di tengah masyarakat dan tidak mau menjamin kebutuhan masyarakat agar tidak beraktivitas di luar rumah. Sejak awal pandemi, pemerintah tidak menutup pintu kedatangan WNA ke dalam negeri, akibatnya wabah terus masuk dan tidak terkendali hingga masuknya varian delta dari luar negeri. Hal ini menimbulkan kemudharatan bagi negeri ini.
Umat membutuhkan seorang pemimpin yang serius mengurus dan melindungi rakyatnya dari bencana. Pemimpin ini tentu yang mengurus umat dengan Syariah Islam. Pemimpin yang menanamkan iman dan taqwa, menjaga diri dari berbagai tindakan madarat. Wallahu allam bishawwab

No comments:
Post a Comment