Oleh: Citra Hardiyanti Rukmana
“Pasti akan kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik...”(TQS Al Maidah ayat 82)
Apa yang dikabarkan Allah dalam penggalan ayat di atas, telah terbukti saat ini. Kekejaman zionisme Israel terhadap saudara seiman kita di Palestina, di luar batas manusiawi. Dilansir dari kompas.com, Israel terus memborbardir jalur Gaza dengan serangan udara dan perluru artileri pada Sabtu (15/5/2021). Israel meningkatkan pengerahan pasukan dan tank di dekat kantong Palestina yang terkepung. Melansir dari Al Jazeera dalam kompas.com, hingga Sabtu (15/5/2021) pagi setidaknya 137 warga Palestina, termasuk 36 anak-anak telah tewas. Sementara itu sebanyak 920 orang cedera, dan jumlah korban akan diperkirakan meningkat, Karena serangkaian serangan udara Israel lainnya. Meskipun ada seruan internasional, perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji serangan itu akan berlanjut ”sebagaimana diperlukan untuk memulihkan ketenangan di negara Israel”. (Kompas.com)
Ditengah desingan peluru dan roket Hamas membalas serangan dengan menembakkan roket lagi ke arah Israel, menghantam kota Ashdod pada Sabtu pagi. Sedikitnya 9 orang Israel juga tewas (Kompas.com). Hal ini menyulut kemarahan Joe Biden dan menghubungi presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk menghentikan serangan roket ke Israel. “Menekankan perlunya Hamas menghentikan penembakan roket ke Israel” demikian isi pernyataan Gedung Putih yang disampaikan. (detikNews)
Timbul pertanyaan dalam benak kita, apa kaitan negara Amerika dengan konflik Israel-Palestina hingga sedikit pergerakan dari Palestina membuat Joe Biden selaku presiden Amerika serikat turun tangan?
Akar sejarah pendudukan Palestina
Di dalam kitab suci (Taurat) menyebutkan bahwa wilayah Syam adalah wilayah yang dijanjikan oleh Allah bagi orang-orang Yahudi, sebagai tempat berlindung dari kejaran bala tentara Fr’aun, Allah memerintahkan kepada mereka untuk merebut kota suci dari pemerintahan yang kejam dan dzalim (suku amaliqa dari sisa sisa kaum Ad) yang bertubuh besar dan kekar (Tabari, jami' Al Bayan,176) . Namun orang-orang Yahudi menolak berperang lantaran takut. Kisah ini diabadikan di dalam Al Qur’an surat Al Maidah ayat 21:
“Hai kaumku masuklah ke tanah suci yang telah ditetapkan Allah bagimu, dan janganlah kalian lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kelak kalian akan menjadi orang-orang yang merugi”.
Perintah inilah yang mengandung penolakan dari kaum Yahudi lantaran mereka takut berperang dan enggan merebut wilayah mereka dari musuh-musuh mereka. Di dalam tafsir Al Arif Al muqaddasah, tempat suci yang dijanjikan adalah bukit Sinai dan sekitarnya. Dalam periwayatan qatadah adalah tanah Syam, namun ada pula yang menganggap tanah tersebut adalah wilayah Damaskus, negeri Palestina dan sebagian wilayah Yordania. Dan di dalam kitab Taurat tempat tersebut adalah wilayah Palestina. Allah telah menetapkan wilayah tersebut untuk ditinggali, hanya saja janji ini mengisyaratkan adanya ketaatan, sehingga ketika syarat yang diajukan tidak dipenuhi oleh orang-orang Yahudi sendiri, maka sebenarnya telah kehilangan hak untuk tinggal di tempat itu.
Tahun 1897 zionis Israel mengadakan kongres zionis Israel di Basel, Teodhor Herzl sebagai pendiri bagi zionisme modern mengusung ide di dalam bukunya The Judenstaat untuk mempersatukan orang-orang Yahudi dalam satu tempat, tempat yang terjanjikan yang sebenernya mereka telah kehilangan hak didalamnya. Pada tahun 1901 Theodor Herzl datang kembali dan meminta kepada Khalifah Abdul Hamid II dengan segala iming-iming yang mereka tawarkan ( 150.000.000 CBP setara dengan 305 T, membangun universitas Ustmani, dan membuatkan kapal perang) namun semua tawaran itu di tolak dengan penolakan tegas.
“Nasihat untuk Dr. Herzl, agar jangan sekali-kali meneruskan rencana itu. Aku tak bisa berikan tanah itu, tanah itu bukan milikku, tanah itu milik ummat yang telah berjihad dan telah menyiraminya dengan darah mereka, Yahudi silahkan simpan uang mereka. Jika khilafah Islam dimusnahkan pada suatu hari, maka mereka boleh mengambil tanah Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang daripada tanah itu dikhianati dan dipisahkan dari khilafah Islam, aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup”. Sultan Abdul Hamid II.
Mulailah Theodor Herzl melobi negara-negara besar untuk mewujudkan Tujuannya, hingga usaha ini berakhir dengan masuknya kekhilafahan di blok sentral pada perang dunia I yang mengakibatkan kekalahan besar dan akibatnya keruntuhn Khilafah tidak bisa dibendung lagi. Melalui perjanjian Sykes-Picot Inggris dan Perancis membagi bagi wilayah kekhilafahan, dan menjadikannya negara-negara kecil di bawah jajahan imperialis. Dan secara khusus Inggris dan LBB memberikan wilayah Palestina kepada orang-orang Yahudi. Melalui deklarasi Balfour tahun 1917 zionis Israel merangsek masuk dan menganeksasi wilayah Baitul maqdis yang sebelumnya sudah ditinggali oleh kaum muslimin.
Bergantinya negara adidaya setelah perang dunia kedua, kekuasaan dunia beralih pada Amerika dan melalui PBB Amerika membuat plan untuk membagi wilayah Baitul maqdis menjadi 2 bagian melalui UN partition plan (resolution 181) tahun 1947 Arab stated 45%, jewish state 55% (Al Jazeera) sebagai wujud mimpi dari Theodore hazel.
Pada tahun 1948 PBB menyetujui dan mengakui berdirinya negara Israel sebagai negara yang sah dan Amerika mendukung apa yang sudah dimulai Inggris pada tahun 1916 memberikan hak kepada zionis untuk secara legal menduduki wilayah Baitul maqdis, karena setelah runtuhnya kekhilafahan wilayah Baitul maqdis di anggap wilayah yang tak bertuan. Tidak diakui di mata hukum dunia. Stateless wilayah Palestine menjadikan mereka tidak memiliki kewarganegaraan di mata dunia, sehingga mereka bisa di dzolimi dsb.
Amerika serikat beserta PBB mengakui Israel sebagai negara tetapi tidak untuk Palestina. Penduduk di Jalur Gaza, West Bank dan Sabratina mengelompokkan diri untuk melawan penjajahan. Hingga muncullah dua kelompok besar yaitu Hamas dan Fatah. Namun Fatah dan LPO mengakui kedaulatan Israel. Fatah menang di pemilu dan menguasai wilayah Palestina dan membuat perjanjian Oslo tahun 1944 dengan negara Israel dan dimediasi oleh Amerika. Dari perjanjian itu disepakati adanya pemerintahan otoritas Palestina yang wilayahnya meliputi Jalur Gaza dan tepi barat sungai Yordania. Dari segi hukum internasional, otoritas ini rapuh karena tidak diakui oleh Anggota PBB, dan melalui perjanjian ini wilayah Palestina dibagi menjadi 3 bagian, yaitu Palestina diberikan wilayah di jalur Gaza dan tepi barat sungai Yordania (18%) dan wilayah di bawah kendali Palestine dan Israel (22%), di bawah kendali Israel (60%).
Otoritas ini depimpin oleh Yasser Arafat dan sepanjang kepemimpinannya Otoritas Nasional Palestina (PNA) hanya menjadi kepanjangan tangan dalam menekan perjuangan rakyat Palestina termasuk Hamas. Segala bentuk penyerangan yang dilakukan oleh Hamas maka Palestina wajib dikategorikan sebagai tindak terorisme dan wajib untuk memeranginya. (wikipedia)
Kebrutalan yang dilakukan oleh zionis Israel semakin membabi buta, hal ini dikarenakan aksi mereka diamini oleh negara adikuasa dan diamankan oleh PBB, bahkan negara adikuasa ini mendukung sepenuhnya tindakan mulai dari menggelontorkan dana hingga menambah sistem pertahanan udara iron dome untuk Israel. Karena selama ini Israel masih bergantung pada iron dome untuk bertahan dari serangan roket. (CnnIndonesia.com)
Disisi lain Biden dan PBB berkomitmen untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada Palestina dan rekontruksi jalur Gaza setelah berakhirnya konflik Hamas dan Israel. Namun hal ini hanyalah pencitraan dunia, ibarat membiarkan korban dipukul kemudian diobati dan dipukul lagi, maka tindakan ini tidak lain hanyalah cara untuk semakin memperburuk kondisi di Palestina. Perundingan demi perundingan hanyalah perpanjangan waktu yang membuat zionis Israel semakin leluasa mencaplok wilayah Palestina. Hingga mampu membius kaum muslimin bahwa ini adalah solusi win-win diantara dua negara yang sebenarnya condong pada terbentuknya kekuasaan utuh negara Israel atas wilayah Palestina. Israel selayaknya tokoh utama yang akan selalu diberikan jalan mulus dalam kisah ini dengan sutradara negara adikuasa Amerika yang menjamin terpenuhinya kebutuhan mereka untuk menganeksasi wilayah Palestina, hingga seluruh wilayah dibawah kekuasannya.
Solusi untuk Palestina
Inspirasi Israel mendirikan negara berpatokan pada agama mereka, mulai dari batas batas wilayah yang dijanjikan, hingga bendera yang mereka gunakan, mereka menggunakan agama sebagai alat untuk memudahkan mereka meraih dukungan.
Jika Baitul maqdis dipahami sebagai masalah agama maka ini akan menjadi jalan bagi bersatunya umat muslim di seluruh dunia dan Israel paham betul tentang potensi kekuatan itu. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Salahuddin Al Ayyubi (1099), beliau mencurahkan perhatiannya pada wilayah Palestina dan membebaskannya dari pasukan salibis pada saat itu. Sebab beliau memahami Baitul maqdis adalah tanah spesial yang setara dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Haramain sebagai tempat penuh berkah bagi penduduk dunia. Nabi SAW bersabda “para Nabi tinggal di Syam dan tidak ada sejengkal pun Kota Baitul Maqdis kecuali seorang Nabi dan malaikat pernah berdoa atau berdiri di sana”.(HR. At-Tirmidzi)
Dalam hadist lain disebutkan bahwa “sekali shalat di Masjidil Haram sama dengan 100.000 shalat. Sekali shalat di Masjid kuno (Masjid Nabawi di Madinah) sama dengan 1.000 shalat. Sekali shalat di Masjidil Aqsa sama dengan 500 shalat”.(HR at -Thabrani dan Al – Bazaar)
Selain itu Baitul maqdis adalah kiblat pertama, dan dijadikan sebagai salah satu mukjizat Rasulullah, yaitu diperjalankannya Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dalam satu malam, mukjizat yang memisahkan antara orang yang yakin dengan munafik.
Pendudukan wilayah Palestina saat ini sama dengan pendudukan Belanda atas wilayah Nusantara, jika Kyai Hasyim Asy’ari mencetuskan resolusi jihad untuk membebaskan Nusantara dari cengkeraman Belanda. Maka sudah semestinya resolusi jihad berlaku untuk saudari kita di Palestina. Namun kita telah mengetahui siapa sutradara dibalik tirani zionis Israel, maka tidak cukup hanya kekuatan Palestina saja, namun butuh kekuatan seluruh umat muslim dalam kepemimpinan yang satu. Jika negara adikuasa dibalik plot ini maka tandingan yang setara adalah negara adikuasa dengan keimanan yang menjadi motor penggerak. Tiada lain adalah Khilafah yang mengikuti metode Kenabian.
“.....kemudian akan datang kembali masa Khilafah yang mengikuti metode Kenabian”. {HR. Ahmad)
Wallahu'alam binshowab.

No comments:
Post a Comment