Pembangunan infrastruktur peningkatan kualitas permukiman Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) sangat ditunggu masyarakat. Karena manfaat dari kegiatan tersebut berimbas pada geliat roda perekonomian dengan peningkatan kualitas, pengelolaan serta pencegahan timbulnya permukiman kumuh baru, melalui penanganan pembangunan infrastruktur serta pendampingan sosial dan ekonomi untuk keberlanjutan penghidupan masyarakat yang lebih baik di lokasi permukiman kumuh.
Dan memasuki triwulan ke II tahun 2021 ini, semestinya program secara keseluruhan KOTAKU di Sumatera Barat telah mencapai 40 persen, namun karena berbagai kendala dilapangan yang harus diselesaikan, sehingga serapan progres rada telat.
Kondisi ini diakui Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Sumbar, Kusworo saat dimintai tanggapannya terkait progres pekerjaan dihadapan wartawan Senen (8/6) di ruang kerjanya.
Semestinya sesuai schedule, kegiatan pada tahun ini telah terealisasi sebesar 40 persen. Namun karena ada beberapa faktor, terutama kondisi alam yang kurang mendukung, sehingga progres pekerjaan tidak dapat dicapai.
Nah, untuk mencapai hal tersebut, Ia telah menegaskan kepada PPK dan Satker agar lebih intens lagi menggenjot kinerja rekanan.
Dalam hal ini, Ia juga berharap kepada kawan-kawan media agar bisa membantu dan memberi masukan yang positif, bagaimana pembangunan ini berjalan dengan baik, sehingga Sumbar bisa menjadi pilot projek pembangunan bagi daerah lain.
Pengamat pembangunan, Reinier saat dimintai tanggapannya mengatakan, bahwa semua pekerjaan pasti ada yang menjadi kendala. Terutama kondisi cuaca dan masyarakat sekitar.
Dan itu semua terjadi tidak hanya di Sumbar saja, tetapi hampir diseluruh Indonesia. Tetapi, jika lari dari progres atau schedule awal, artinya terlambat 10 persen, itu sangat besar.
Dalam hal ini, diperlukan kepiawaian seorang leadership yang mampu melakukan terobosan-terobosan yang bijak dalam mentelaah persoalan ini.
Menurutnya, seorang pemimpin harus bisa mengkomunikasikan maksud dan tujuannya dengan sangat jelas dan tegas ke bawahan. Kalau punya ide, jelaskan gagasan itu ke bawahan dengan detail dan penjelasan yang mudah dimengerti.
Dengan kemampuan berkomunikasi yang baik, bawahan bisa mengeksekusi setiap tugasnya sesuai dengan keinginan.
Tentunya kepiawaian pemimpin itu harus ditunjang oleh bawahan yang mempunyai integritas dan sumber daya manusia yang sesuai. Sebab, bagaimanapun piawai seorang pimpinan dalam memanajemen, kalau tidak didukung oleh orang-orang yang mempunyai loyalitas terhadap kinerjanya, ya juga sia-sia.
Loyalitas yang bagaimana? Ini perlu juģa dipahami. Apakah setiap masalah harus diketahui dan dilaporkan ke atasan?. Jawabannya tentu tidak, kecuali itu bersifat sangat krusial.
Kalau sedikit-sedikit ada persoalan harus atasan yang menyelesaikan persoalan, tentu fungsi mereka selaku perpanjangan tangan atasan tidak ada. Untuk apa mereka bekerja, kalau tidak bisa menyelesaikan persoalan kecil.
Kalau dapat, seorang bawahan orang cepat tanggap, dan mampu mentelaah dan memenej persoalan dari awal.
Nah, apabila ini bisa disingkronkan, kita yakin, apa yang menjadi tujuan itu akan terwujud, ucap Reinier beberapa waktu lalu, dikediamanya. N3

No comments:
Post a Comment