(Pemerhati Umat)
Suriah mengalami krisis pangan yang belum terselesaikan hingga kini. Seorang pria dari Kota Zabadani mengatakan, keluarganya yang beranggotakan empat orang telah berhenti makan keju dan daging pada awal 2020. Kini mereka hanya mengandalkan roti untuk makanan mereka.
Namun, dengan kenaikan harga roti dan adanya batasan pemerintah, mereka terpaksa hanya memakan secuil roti tiap harinya. Kami memecah roti menjadi gigitan kecil dan mencelupkannya kedalam teh agar tampak lebih besar, kata orang tersebut, dalam keterangan pers Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada hari Ahad (30/5/2021).
Berdasarkan laporan Humas rights Watch, konflik bersenjata selama satu dekade telah menyebabkan kekurangan gandum yang parah di Suriah akibatnya lahan-lahan pertanian semakin sedikit dan toko-toko roti yang ikut hancur. Kelaparan di Suriah sebagian besar karena kegagalan pemerintah mengatasi krisis roti yang ditimbulkannya, ujar Sara Kayyali, peneliti Suriah di Human Rights Watch. (https://www.msn.com/id-id/berita/dunia/krisis-pangan-warga-suriah-hanya-bisa-makan-secui-roti/ar-AAKwsiM?ocid=uxbandlbing)
Program Pangan Dunia (WFP) juga mendengungkan bahwa jutaan warga Myanmar kini menghadapi ancaman krisis pangan dan kelaparan ekstrim. Ekonomi dan sistem perbankan nasional negeri itu telah lumpuh sejak perebutan kekuasaan militer yang mendorong pemimpin sipil Aung San Suu Kyi lengser pada bulan Februari lalu.
Bertualang di tempat umum untuk mencari nafkah sangat mengancam keselamatan dengan latar belakang tindak keras tanpa pandang bulu dan brutal oleh pasukan keamanan terhadap perbedaan pendapat yang telah menewaskan lebih dari 800 warga sipil.
Selain kenaikan harga telah menghantam daerah terpencil dengan sangat keras. WFP memperkirakan dalam waktu 6 bulan kedepan sebanyak 3,4 juta lebih orang akan kelaparan di Myanmar. (https://lenterasultra.com/blog/2021/05/29/krisis-pangan-hingga-kelaparan-ancam-jutaan-warga-di-myanmar/)
Miris krisis pangan ekstrim yang melanda diberbagai belahan dunia terjadi akibat buah dari cengkraman sistem kapitalisme yang sangat eksploitatif yang merusak alam dan iklim dunia. Konflik negara yang terjadi sejatinya adalah konflik yang dilatar belakangi perebutan kekuasaan dan pengaruh negara adidaya.
Guncangan iklim yang terjadi sejatinya adalah prinsip dan pilar-pilar ekonomi kapitalisme yang berkonsisten memproduksi krisis pangan secara struktural. Bertujuan ingin menghisap kekayaan-kekayaan negeri-negeri kaum muslimin di berbagai belahan dunia tanpa melihat kerusakan lingkungan yang terjadi.
Kesenjangan ekonomi dalam sistem kapitalisme sangatlah nyata. Bisa dilihat disaat sebagian negeri-negeri mengalami krisis pangan yang terbilang sangat ekstrim. Namun di negara pencetus kapitalisme yang mengalami kelimpahan pangan abai akan derita tersebut.
Inilah kesalahan yang terjadi dengan menerapkan sistem ekonomi kapitalisme sebagai sistem yang mengatur kehidupan dunia hari ini yang akibatnya menimbulkan kesenjangan yang berfokus pada peningkatan produksi semata. Namun upaya penghapusan kemiskinan dan krisis pangan itu hanya diarahkan pada produksi total negara maupun pendapatan per kapita.
Krisis pangan yang terjadi disebabkan karena salah fokus mencari akar masalahnya. Sehingga negeri-negeri yang terdampak konflik pun kurang diperhatikan oleh perekonomian dunia. Semua itu terpaku karena kekayaan-kekayaan alam di negeri-negeri kaum muslimin sudah terjajah.
Solusi pemecahan yang hakiki agar negeri kaum muslimin yang terdampak konflik terlepas dari krisis pangan adalah harus kembali dengan penerapan sistem Islam secara kaffah, karena negara mempunyai peran yang sangat penting dalam mengatasi masalah krisis pangan tersebut.
Dalam sistem Islam sangat memahami bahwa pemimpin dalam negara adalah pengurus umat untuk menyelesaikan segala problematika kehidupan umat manusia dan bertanggung jawab sepenuhnya dalam urusan rakyatnya.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW; " Imam (Khalifah) adalah raain (pengurus rakyat) dan dia bertanggung jawab atas pengurus rakyat ". (HR. Imam Muslim).
Dalam hadist lainnya Rasulullah SAW menegaskan; “Khalifah itu laksana perisai tempat orang-orang berperang dibelakangnya dan berlindung kepadanya”. (HR. Muslim).
Maka solusi masalah pangan yang dihadapi umat saat ini tidak lepas dari peran kebijakan negara. Dalam sistem Islam melalui bidang ekonominya, seperti di bidang produksi bahan pangan, distribusi, proteksi negara terkait impor, infastruktur, dan lain sebagainya. Semua tercantum dalam sistem ekonomi Islam yang memiliki prinsip bahwa negaralah yang benar-benar memegang kendali, bukan diserahkan kepada swasta.
Islam pun menerapkan politik pertanian dengan kebijakan guna meningkatkan produksi pertanian melalui intensifikasi pertanian dan ekstensifikasi pertanian. Negara berperan langsung membantu petani baik berupa modal, benih, peralatan, teknologi, dan sebagainya.
Selain itu negara juga akan menggunakan lahan sesuai kondisi dan peruntukannya, lahan yang subur diprioritaskan untuk lahan pertanian dengan menghidupkan kembali lahan mati atau membuka lahan baru lalu diberikan kepada rakyat yang mampu mengelolanya.
Adapun masalah krisis pangan akan bisa diminimalisir dengan membentuk ketahanan pangan negara yang sudah diantisipasi sebelumnya oleh negara Islam. Semua ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab mereka sebagai pemimpin umat yang akan dimintai pertanggung jawaban kelak di hadapan Allah SWT.
Dengan demikian sudah saatnya umat manusia mencampakkan sistem kapitalisme dan kembali kepada sistem Islam dalam naungan Khilafah Ala Minhaj Nubuwwah dengan menerapkan aturan Islam secara kaffah dengan mengharap ridho dari Allah SWT. Hanya melalui penerapan syariah Islamlah yang mampu mewujudkan kesejahteraan yang hakiki bagi seluruh umat manusia.
Wallahu 'Alam Bish-Shawab

No comments:
Post a Comment