(Anggota Penulis Muslimah Jambi Dan Aktivis Dakwah)
Negeri yang selalu dibela dengan ungkapan NKRI harga mati, selalu ada saja berita-berita yang mengejutkan dan membuat kesal. Setiap hari disuguhkan berita yang tidak mengenakan, seperti hal nya masalah baru kasus “PNS Misterius” yang mendapat gaji dan dana pensiun semenjak tahun 2015.
Terungkapnya 97.000 data ASN fiktif yang dibeberkan oleh Kepala Badan Kepegawaian Negara, Bima Haria Wibisana pada Senin (24/05/2021) membuktikan betapa amburadulnya manajemen kepegawaian negara dalam mengurusi tugasnya.
Menurut Guspardi (Anggota Komisi II DPR) dari fraksi Partai Amanat Nasional kejadian tersebut tak menutup kemungkinan melibatkan sejumlah pihak. Dana yang terkucur terus-menerus tiap bulan menerima gaji, bisa saja mereka berkolusi dengan instansi atau atasan yang bersangkutan, ungkapnya. (Kompas.com, 27/05/2021)
Beginilah keadaan yang terjadi jika hidup dibawah kendali aturan yang memisahkan agama dari kehidupan. Amanah bukanlah hal yang ditakutkan untuk dipertanggung jawabkan, melainkan dimanfaatkan untuk keuntungan pribadi atau kelompok sendiri. Belum usai kasus sebelumnya diusut muncul lagi kasus baru. Begitulah seterusnya jika negeri ini menerapkan aturan buatan manusia.
Kasus PNS “misterius” merupakan masalah serius yang harus diusut tuntas. Ibarat pegawai, ia makan gaji buta, tidak bekerja tapi tetap digaji. Bedanya gaji yang disalurkan ke 97.000 PNS itu tidak ada wujudnya. Lalu kemana larinya gaji buta tersebut ? Sungguh negeri ini benar-benar berada dalam kerugian, tekor, dan tidak balik modal.
Kejadian ini bukan sekedar kelalaian, akan tetapi sudah termasuk tindak kejahatan merampok uang negara. Hal tersebut bukan sesuatu yang baru dalam perjalanan sistem kapitalisme saat ini. Pasalnya sistem kapitalisme yang berasaskan pada sekulerisme, mengajarkan manusia untuk mendapatkan uang dengan berbagai cara, meski haram tetap dilibas tanpa takut dosa dan pertanggung jawaban hari akhirat. Apalagi jika manusia tersebut duduk ditampuk kekuasaan. Maka mereka akan memanfaatkan jabatannya sebagai jalan memperkaya hidup, serta jalan untuk mengembalikan uang yang dihabiskan saat kampanye atau saat proses hendak menjadi pejabat, pegawai bahkan penguasa.
Sistem kapitalisme juga mengajarkan manusia untuk bergaya hedonisme, yakni hidup bahagia jika gaya hidup dan kekayaan dapat diraih. Selain itu, sanksi hukum yang ringan dan tidak tegas membuat manusia mudah dan tidak takut bertindak menyimpang atau melanggar aturan. Sehingga melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak amanah bahkan berkhianat pada rakyatnya.
Berbeda jauh dengan sistem Islam, bahwa amanah itu akan dimintai pertanggung jawaban baik di dunia maupun di akhirat. Sanksi hukum yang tegas kepada siapapun yang melanggar akan menjadikan manusia takut untuk melakukan tindak kejahatan.
Sebagaimana pesan Rasulullah Saw., terkait amanah yang harus diberikan kepada yang ahli dan mampu menjalankannya. Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa Abu Dzar berkata : “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak mengangkat ku menjadi wakil mu ?” Rasulullah SAW menjawab sambil menepuk-nepuk pundak Abu Dzar. “Wahai Abu Dzar sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, padahal kekuasaan itu adalah amanah. Kelak di hari kiamat kekuasaan itu akan menjadi kehinaan dan kesedihan, kecuali orang yang mengambilnya dengan kebenaran dan menunaikan segala kewajibannya.” (HR. Muslim)
Sesungguhnya semua syariat Islam yang datang dari Allah Swt dan Rasul Nya itu adalah amanah untuk diterapkan dalam sistem kehidupan. Hanya saja saat ini manusia masih menuruti hawa nafsunya untuk memenuhi kesenangan duniawinya yang sesaat. Padahal Allah Swt telah berpesan didalam Al Quran bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu atau memperdaya. Kehidupan yang sesungguhnya dan abadi itu adalah di akhirat. (Penjelasan T.QS Ali Imran ayat 185 dan T.QS Al Maidah ayat 49)
Pegawai dalam sistem Islam benar-benar bekerja sesuai dengan akad kerja yang telah disepakati untuk dijalankan. Nama-nama mereka bukan hanya ada dalam data, karena pegawai dalam sistem Islam memahami betul bahwa gaji yang diterima merupakan hasil usaha sendiri. Maka tak ada peluang bagi siapapun yang bekerja untuk melakukan kecurangan.
Kontrol dan evaluasi yang ketat yang dilakukan oleh setiap kepala dari masing-masing departemen, serta kerja yang terpusat dalam kendali Khalifah. Sehingga jika ada pegawai yang melanggar aturan dan menyusahkan rakyat, maka Khalifah tidak akan segan-segan memecatnya.
Dimasa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang terkenal rakyatnya sangat sejahtera dibawah kepemimpinan beliau. Pegawai negara diberikan gaji dan tunjangan yang begitu besar. Pada saat itu beliau menggaji para pegawai negara sebesar 300 dinar atau setara dengan sekitar 15 juta rupiah.
Saat Umar Bin Abdul Aziz ditanya mengapa beliau menggaji para pegawai begitu besar ? Ia menjawab “aku ingin membuat mereka kaya dan menghindarkan mereka dari pengkhianatan.” (Abdullah Bin Abdul Hakam, Biografi Umar Bin Abdul Aziz)
Lalu apa lagi yang kita tunggu ? Sudah jelas faktanya bahwa Islam pernah menaungi peradaban hingga 1400 tahun lamanya. Mari kita berjuang bersama agar Islam menjadi landasan aturan hidup dalam ranah individu, masyarakat, dan negara.
Insya Allah Islam akan mampu menuntaskan segala tindak kecurangan atau kejahatan. Sehingga kita merasakan keadilan dan kesejahteraan, sebagaimana yang tertuang dalam butir-butir pancasila. Wallahu a'alam bishowab.

No comments:
Post a Comment