Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gencatan Senjata Israel-Palestina dan Posisi Dunia Islam

Tuesday, June 01, 2021 | Tuesday, June 01, 2021 WIB Last Updated 2021-05-31T23:15:12Z

Oleh: Iswatun Hasanah 
(Aktivis Muslimah)

"Bagaikan pungguk merindukan bulan", begitulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan harapan kaum muslim di Palestina agar mendapat pembelaan militer dari negeri-negeri muslim untuk mengusir penjajah Israel dari tanah Palestina. Telah terhitung sejak tahun 1967, Israel mulai membangun permukiman di tanah Palestina. Setelah itu, layaknya pemandangan biasa, tentara militer Israel menggempur wilayah Palestina, terutama Gaza dan kompleks masjid al-Aqsha. Terhitung seratus hari belakangan ini, total korban di pihak warga Palestina mencapai 232 orang dan 65 diantaranya anak-anak. Walaupun kemudian terjadi gencatan senjata pada Jum’at dini hari tanggal 21 Mei 2021, namun beberapa jam kemudian Masjidil Aqsa kembali diserang. Sesungguhnya Kaum Muslimin sudah menduga hal ini terjadi, karena paham betul karakter kaum Yahudi yang tidak akan pernah rida terhadap Kaum Muslimin dan seringkali mengingkari perjanjian. Inilah sesungguhnya yang harus dipahami oleh Kaum Muslimin sehingga tidak keliru dalam bersikap.

Karakter Yahudi

Sesungguhnya Allah SWT telah mengingatkan kita semua tentang karakter orang Yahudi di samping beberapa kelebihan dan kenikmatan yang mereka dapatkan dari Allah. Hal ini telah Allah sampaikan dalam Al-Qur’an. Setidaknya ada 3 hal yang bisa kita bahas, yakni:

Pertama, kaum Yahudi tidaklah pernah rida dengan kita umat Islam sampai kita mau melepaskan agama kita. Allah SWT  berfirman:

*وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ*
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)." Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120).

Firman-Nya (وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ). Ibnu Jarir mengatakan: “Artinya, ‘Hai Muhammad, orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu selamanya, karena itu tidak usah lagi kau cari hal yang dapat menjadikan mereka rela dan sejalan dengan mereka. Akan tetapi arahkan perhatianmu untuk mencapai ridha Allah Ta’ala dengan mengajak mereka kepada kebenaran yang kamu diutus dengannya.”

Ayat ini menggunakan kata "lan" terhadap orang Yahudi, dan kata "la" terhadap orang Nasrani. Menurut pakar-pakar bahasa Al-Qur'an, antara lain Az-Zarkasyi dalam bukunya Al-Burhan, kata "lan" digunakan juga untuk menafikan sesuatu di masa datang, dan penafian tersebut lebih kuat dari "la" yang digunakan untuk menafikan sesuatu, tanpa mengisyaratkan masa penafian itu, sehingga boleh saja ia terbatas untuk masa lampau, kini, atau masa datang. Berdasarkan hal ini, sangat jelas bahwa Yahudi dan Nasrani tidak akan rida kepada kita selamanya. Inilah watak orang Yahudi dan Nasrani sampai hari kiamat.


Kedua, orang Yahudi selalu menyembunyikan kebenaran.
*الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ*
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 146).

Al Qurtubhi mengatakan, diriwayatkan bahwasanya Umar berkata pada Abdullah bin Salam, “Apakah engkau (sebelum masuk Islam) mengenal Muhammad SAW  sebagaimana engkau mengenal anak-anakmu sendiri? Abdullah pun menjawab, “Ya, bahkan lebih dari itu.”

Ibnu Katsir mengatakan bahwa kadang pula maksud ‘seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri’ adalah mereka mengenal sekumpulan  anak-anak manusia lalu mereka tidak merasa ragu sedikit pun untuk mengenal anak mereka sendiri jika mereka melihatnya di antara sekumpulan anak tadi.

Walaupun mereka sudah mengenal Nabi SAW dengan sangat yakinnya, namun Allah katakan, “sebagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran”. Maksudnya adalah mereka menyembunyikan sifat nabi SAW yang ada pada kitab mereka pada manusia padahal mereka mengetahuinya. (Tafsir Al Qur’anil Azhim).

Ketiga, orang Yahudi seringkali mengkhianati dan mengingkari janji. Seperti yang Allah paparkan di dalam Al-Qur’an, “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” (QS. Al-Baqarah: 83).

Ibnu Katsir menjelaskan, melalui ayat ini Allah mengingatkan kaum Bani Israil terhadap apa yang telah Dia perintahkan kepada mereka dan pengambilan janji oleh-Nya atas hal tersebut dari mereka, tetapi mereka berpaling dari semuanya itu dan menentang secara disengaja dan direncanakan, sedangkan mereka mengetahui dan mengingat hal tersebut. Ayat ini juga  memberikan satu penjelasan bahwa ada lima perkara yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim, yang ini diingkari oleh kaum Yahudi pada zaman Nabi Musa as. Padahal, mereka telah mengikat janji dengan Allah Ta’ala untuk tunduk patuh dan taat.

Sesungguhnya fakta seringnya bangsa Yahudi mengingkari janji yang telah mereka buat sendiri sudah menjadi rahasia umum. Karenanya, ketika menyepakati adanya gencatan senjata, beberapa pihak tidak mempercayainya. Terbukti beberapa jam kemudian Yahudi Israel menyerang kembali tanah Kaum Muslimin, Palestina.

Seberapa Besar Kekuatan Israel?
Dikutip dari republika.co.id (10/10/2020) yang menyajikan berita tentang KTT OKI di Malaysia, Oktober 2003, PM Malaysia ketika itu, Mahathir Mohamad, sudah mengingatkan, Yahudi memerintah dunia dengan proksi, melalui tangan negara-negara besar. Padahal, dari segi jumlah, dibandingkan Islam dan Kristen, jumlah Yahudi sangat kecil. Dalam Atlas of The World’s Religions disebutkan jumlah pemeluk agama Yahudi 15.050.000 orang. Meskipun demikian, mereka adalah para pekerja tangguh dan memiliki perencanaan jelas dalam pergerakan mewujudkan “negara” Israel.

Dalam Kongres Zionis I di Basel, 1897, pendiri Zionisme modern, Theodor Herzl sudah mencanangkan berdirinya “negara” Yahudi 50 tahun kemudian. Rancangan itu terwujud dengan berdirinya Israel pada 14 Mei 1948. Tak ayal, bangsa kecil yang telah mengalami penindasan selama 2.000 tahun ini berhasil bertahan, bahkan kemudian menjadi salah satu kekuatan dunia (world power). Penting untuk diketahui, Yahudi selamat lebih karena menggunakan “otak” (licik), bukan hanya kekuatan fisik. Mereka sedikit “lebih pintar” melobi negara-negara besar untuk mendukungnya demi tetap bertahan di muka bumi.

Berbagai Solusi Ditawarkan
Semakin brutalnya  agresi militer Israel terhadap warga Palestina, dengan korban yang sangat banyak, tidak hanya kaum laki-laki dewasa yang menjadi korban, tapi kaum ibu dan anak-anak pun menjadi korban,  tanpa pandang bulu. Sehingga banyak pihak menawarkan berbagai solusi untuk selesainya permasalahan ini.

Pertama, solusi two state, dua negara. Yang dimaksud adalah  mengakui kemerdekaan Palestina dan hidup berdampingan dengan Israel. Uni Emirat Arab (UEA) siap memfasilitasi perdamaian Palestina dan Israel, seusai keduanya sepakati gencatan senjata. Kantor berita negara UEA, Minggu 23/5/2021) melaporkan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamed Bin Zayed Al-Nayhan siap mewujudkan perdamaian.

Jika kita mencermati solusi yang ditawarkan ini, seolah-olah bisa menyelesaikan masalah tapi sesungguhnya membahayakan bagi umat Islam. Mengapa? Karena sesungguhnya jika ini dilakukan, maka sama saja dengan kita mengakui entitas Yahudi, artinya mengakui negara Israel Yahudi di tanah Palestina. Padahal Palestina adalah tanah Kaum Muslimin, berstatus tanah kharajiyah yang ditaklukkan di masa Khalifah Umar bin Khattab ra. Sehingga status Palestina hingga hari kiamat adalah tanah Kaum Muslim. Dan yang dimaksudkan Palestina bukan Tepi Barat dan Jalur Gaza saja, tapi semua wilayah termasuk yang dijajah Israel. Israel adalah agresor dan imperialis. Kehadirannya adalah batil sehingga haram mengakui kehadiran Israel walau hanya sejengkal tanah. Karenanya, Kaum Muslim mesti berhati-hati terhadap pandangan yang kelihatannya benar tapi batil, yakni gagasan kemerdekaan Palestina.

Kedua, solusi memboikot barang-barang Yahudi Israel. Seruan boikot yang dikampanyekan beberapa kalangan terhadap produk-produk Israel patut diapresiasi sebagai bentuk perlawanan terhadap institusi penjajah tersebut. Hanya saja jika kita dalami lebih lanjut, hal ini tidak akan memberikan pengaruh signifikan terhadap penyelesaian masalah Palestina. Peneliti Forum Analisis dan Kajian Kebijakan untuk Transparansi Anggaran (FAKKTA) Muhammad Ishak, menyatakan, “Efek boikot dari sisi ekonomi, sepertinya tidak akan sangat kuat, sebab institusi itu didukung oleh negara-negara Barat." (Mediaumat.news).

Menurutnya, banyak perusahaan-perusahaan yang didirikan oleh orang-orang Yahudi, namun produknya dikonsumsi oleh penduduk global. Jadi, kalaupun seluruh rakyat dan pemerintah memboikot produk Israel maka tidak akan signifikan terhadap ekspor institusi. “Apalagi selama ini seruan boikot hanya lahir dari masyarakat dan bukan dari pemerintah sehingga dampaknya lebih kecil.”

Ketiga, meminta PBB untuk memberikan sanksi kepada Israel. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa sesungguhnya Yahudi mendapatkan wilayahnya dengan merampasnya secara illegal dari Kaum Muslimin. Sejak Khilafah Utsmaniyah runtuh tahun 1924, akhirnya bumi Palestina jatuh ke tangan zionis Yahudi tanpa mereka harus mengeluarkan uang sepeser pun. Zionis Yahudi berhasil mendirikan entitas negaranya pada tahun 1948 dengan menduduki 77% tanah Palestina dan setelah mengusir 2/3 (dua pertiga) rakyat Palestina dari tanah mereka. Dan saat ini yang tersisa hanya jalur Gaza dan tepi Barat sungai Yordan.

Jadi masalah substansial Palestina sebenarnya adalah perampasan tanah Palestina oleh Israel dengan dukungan Inggris, AS, dan PBB. Jadi, keberadaan negara Israel yang didukung oleh barat itulah yang menjadi pangkal persoalan Palestina. Buktinya, agresi dan penindasan yang dilakukan Yahudi Israel terhadap tanah Kaum Muslimin -Palestina- tidak hanya kali ini, tapi sudah berulang kali dilakukan dan PBB pun tetap ‘biasa-biasa’ saja bahkan seolah tutup mata dan tutup telinga. Lalu, apakah kita masih bisa berharap kepada PBB ?  Tentu tidak!

Keempat, solusi Muslim Palestina berhijrah meninggalkan negeri mereka agar aman dan leluasa menjalankan ibadah. Solusi ini seolah-olah akan bisa menyelesaikan masalah padahal sesungguhnya merupakan penyelesaian yang ‘menyesatkan’. Mengapa? Karena hal ini sama saja dengan kita menyerahkan tanah Palestina kepada musuh Kaum Muslimin. Padahal tanah Palestina adalah tanahnya Kaum Muslimin. Penyelesaian seperti ini, sesungguhnya bertentangan dengan  firman Allah SWT yang memerintahkan Kaum Muslim untuk memerangi dan mengusir orang-orang yang telah memerangi dan mengusir Kaum Muslim.

*وَٱقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُم مِّنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ ۚ وَٱلْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ ٱلْقَتْلِ*
“Dan perangilah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah/kekufuran lebih berbahaya dari peperangan.” (TQS al-Baqarah: 191).

Jihad dan Khilafah,  Solusi Hakiki Masalah Palestina


Telah sangat nyata perangai dan karakter Yahudi Israel dan telah nyata pula fakta-fakta dan keistimewaan tanah Palestina. Tanah Palestina adalah sebuah negeri Islam yang diberkahi dan penduduknya adalah orang yang paling berhak untuk menempati negeri itu daripada yang lainnya. Palestina adalah negeri tempat isra’ Nabi SAW dan tempat beliau bertolak mi’raj ke langit. Karenanya, Kaum Muslimin yang paling berhak atas tanah ini. Gencatan senjata yg diusulkan berbagai pemimpin dunia Islam hanya menegaskan tiadanya pembelaan sempurna terhadap saudara muslim Palestina, membiarkan zionis berlindung dan memulihkan kekuatan  di balik istilah gencatan senjata dan perdamaian.

Hal ini menegaskan keengganan dunia islam mengirimkan militer dan memberi solusi menghentikan pendudukan dan mengusir zionis dari bumi palestina karena terlalu banyak jerat negara besar dan Israel terhadap dunia Islam (berupa hubungan dagang maupun sudah terjadinya normalisasi hubungan diplomatic). Karena itu sikap kita seharusnya terhadap Israel yang telah merampas tanah Palestina adalah sebagaimana yang telah Allah SWT perintahkan, yakni perangi dan usir. Sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah  firman-Nya dalam Q.S  At-Taubah: 14.

Sikap inilah yang kita bangun dalam diri umat Islam, kita bangun jiwa militansi dalam diri-diri kita sebagai pejuang syariah dan Khilafah.  Karena penyelesaian tuntas masalah ini tidak cukup hanya dengan mengirimkan donasi atau doa semata. Akan tetapi harus diiringi dengan mewujudkan kekuasaan Islam yang berlandaskan akidah dan syariah Islam. Itulah Khilafah Islam yang mengikuti manhaj kenabian. Khilafahlah, sebagai satu-satunya pelindung umat yang hakiki, yang bakal melancarkan jihad terhadap siapa saja yang memusuhi Islam dan Kaum Muslim. Tentu dengan kekuatan jihad pula Khilafah akan sanggup mengusir Israel dari tanah Palestina.  Wallahu a’lam bishshawwab.[]

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update