Eksploitasi Alam Secara Brutal, Penyebab Banjir (Lagi) di Banua
Oleh : Aafiaa Syahida (Aktivis Dakwah)
Lebaran disambut banjir
Banjir kembali melanda Provinsi Kalimantan Selatan tepatnya di Kabupaten Tanah Bumbu saat Lebaran Idul Fitri lalu. Luapan sungai Satui mengakibatkan beberapa desa mengalami banjir. Terhitung sudah dua kali terjadi bencana banjir di Kalsel sejak awal tahun hingga kini.
Akibat musibah banjir kedua kalinya tahun ini di Kalsel, menyebabkan ratusan kepala keluarga di sejumlah desa harus mengungsi dari terjangan banjir yang merendam daerah pemukiman mereka. Kepala BPBD Kabupaten Tanah Bumbu, Eryanto Rais menyebutkan setidaknya terdata 4.413 jiwa warga Desa Sinar Bulan, Kec. Satui yang terdampak banjir. (TribunTanahBumbu.com,14/05/2021).
Banjir juga terjadi di hari yang sama pada Sungai Haruyan pada sore harinya, tepatnya pukul 18.00 waktu setempat. Pada peristiwa ini menyebabkan sejumlah rumah terdampak banjir dengan ketinggian bervariasi. (Tribunnews.com, 14/05/2021).
Perlu kita cermati mengapa Kalimantan termasuk Kalimantan Selatan yang dikenal dunia sebagai paru-paru dunia dapat mengalami banjir besar saat curah hujan meningkat sedikit lebih tinggi? Apakah semata hanya faktor alami ? atau justru ada penyebab mengakar lainnya?
Perlu Analisa Kondisi
Jika kita amati, tentu bukan faktor curah hujan yang menjadi sebab utama banjir, sebab kalau kita mau melihat kebelakang, beberapa tahun yang lalu Kalimantan Selatan merupakan wilayah yang jarang terjadi banjir meskipun terjadi intensitas hujan tinggi.
Namun kini, hanya dalam hitungan jam dengan curah hujan tinggi berpotensi besar mengakibatkan di beberapa wilayah Kabupaten yang ada di Kalimantan Selatan. Tentu ada faktor lainnya yang menjadi sebab terjadinya banjir.
Salah satu yang bisa menjadi fokus kita adalah kondisi alam Kalimantan Selatan saat ini. Tidak bisa kita pungkiri jika aktivitas pertambangan yang dilakukan di sebagian besar wilayah Kalsel nyatanya memberikan effek negatif bagi daerah tersebut. Dimana daya tahan tanah sudah mulai berkurang, dan daerah resapan air yang juga kian memburuk.
Eksploitasi alam yang dilakukan secara brutal tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan. Membiarkan alam rusak tanpa upaya berarti untuk memperbaikinya. Semua karena kepentingan segelintir korporasi. Para Kapitalis yang rakus hanya mementingkan perut dan menumpuk kekayaan mereka. Mereka tidak peduli nasib ratusan bahkan ribuan warga yang menjadi korban banjir tersebut.
kenapa? karena faktanya kerusakan alam terus terjadi. Eksploitasi sumber daya alam tidak berhenti meski banyak pihak yang mengeluhkan berbagai kerusakan yang terjadi. Para Kapitalis tetap bungkam. Mereka terus berdalih jika curah hujan yang menjadi faktor utama banjir. Hingga pada gilirannya rakyat lagi yang menjadi tumbal kepentingan para kapitalis.
Butuh Mekanisme Sistem Islam.
Maka benarlah Firman Allah SWT dalam Q.S Ar-Rum : 41 “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Akibat keserakahan para kapitalis inilah bumi yang Allah ciptakan dengan segala kebaikan, hari demi hari kian rusak.
Inilah watak asli Kapitalis. Segala sesuatu mereka standar kan pada materi dan keuntungan. Berbeda dengan Islam, sumber daya alam yang merupakan kepemilikan umum dalam Islam akan di kelola oleh negara dengan maksimal dan memperhatikan kepentingan dan kemaslahatan umat.
Pengelolaannya bersih dari setiap kepentingan. Negara tidak akan menyerahkan pengelolaan sumber daya alam kepada pihak asing.
Apalagi membiarkan asing dan aseng sampai menguasai sumber kekayaan alam umat. Negara Islam juga akan menyerahkan hasilnya pada umat untuk mengatur dan memenuhi kebutuhan mereka. Negara tidak akan berbisnis dengan rakyat. Apalagi sampai menzalimi rakyat dalam pengelolaannya.
Sebisa mungkin negara akan meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan dalam aktivitasnya mengelola sumber daya alam. Karena keselamatan umat adalah prioritas dan tanggung jawab negara. Tentu hal ini tidak akan kita dapati pada sistem kapitalis saat ini. Sistem Kapitalis tidak akan peduli nasib umat. Mereka hanya peduli pada kantong-kantong mereka.
Dari sini dimana berbagai peristiwa yang terjadi akibat buruknya pengelolaan sumber daya alam dan peri'ayahan penguasa kepada rakyatharusnya menjadikan umat semakin sadar untuk segera mencampakkan sistem kapitalis. Untuk kemudian menggantinya dengan sistem Islam.
Sebagaimana Firman Allah SWT, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” QS. Al-Maidah [5]: 50. Maka bagi seorang yang beriman tentu tidak akan mengambil hukum selain yang Allah tetapkan.
Karena hanya dengan sistem Islam lah kita mampu menyudahi berbagai keburukan yang terjadi. Menghindarkan negeri ini dari kerusakan yang semakin parah. Hingga menjadikan negeri ini Baldatun Tayyibatun Warabbun Ghafur. Menjadi Negeri yang diberkahi oleh Allah SWT.[]

No comments:
Post a Comment