Oleh: Susi Damayanti
(Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan)
Syam adalah tanah kaum muslim yang diperoleh dengan penaklukan di masa Rasulullah dengan perang mu’tahnya. Kemudian dilanjutkan dengan perang yarmuk pada masa kekhilafahan Umar radhiyallahu'anhu. Kaum muslim mendapat kemenangan dalam perang tersebut. Setelah Syam ditaklukan oleh kaum muslim maka kemudian Syam dibagi menjadi 4 wilayah bagian yaitu Palestina, Yordania, Damascus dan Homs.
Nasrani, Yahudi, dan Islam. Masing-masing dari agama samawi ini meyakini bahwa Palestina merupakan tanah suci bagi keyakinannya. Nasrani yang meyakini bahwa di Palestina adalah tempat Yesus disalib dan menjadi makam Kudus yang disucikan, sementara Islam meyakini adanya masjid al-aqsa sebagai tempat yang disucikan dan kiblat pertama kaum muslimin. Yahudi pun demikian, Karena disana terdapat dinding ratapan sebagai tempat sucinya. Menilik dari adanya 3 tempat suci inilah yang kemudian para penganut keyakinan ini saling berebut wilayah Palestina
Secara hukum internasional, Ketika suatu wilayah telah ditaklukan, maka wilayah tersebut menjadi kekuasaannya dan menjadi bagian wilayah yang akan dikelolanya. Sehingga tak Ayal pada masa kekhilafahan Sultan Hamid ll yang merupakan Kesultanan utsmaniyah yang memimpin selama 34 tahun pemerintahannya tidak membiarkan tanah Palestina dimiliki oleh bangsa lain walaupun hanya sejengkal. Padahal Saat Sultan Abdul Hamid ll menjadi khalifah di Turki Utsmani, kondisi ekonomi saat itu sangat minus. Hal ini memang sengaja dipicu oleh Yahudi dengan bantuan Inggris. Maka Yahudi (Lewat tokoh bernama Theodor Herzl) berusaha membeli tanah Palestina sebesar 150 juta Poundsterling, Selain itu akan dibayarkan semua utang pemerintah Turki Usmani yang saat itu mencapai 33 juta Poundsterling serta diiming-imingi untuk dibuatkan kapal induk untuk menjaga pertahanan pemerintah Usmani senilai 120 juta Frank, dan dipinjami uang tanpa bunga sebesar 5 Juta Poundsterling untuk pembangunan Universitas Utsmani di Palestina.
Tawaran menggiurkan dari delegasi Yahudi itu ditolak oleh Sultan Abdul Hamid ll dengan mengirimkan pesan melalui utusannya dengan mengatakan “nasehati Mr. Herzl, agar tidak terlalu sering menanggapi masalah Palestina ini. Sesungguhnya, saya tidak sanggup melepas Tanah ini Kendati hanya satu jengkal tanah lepas dari pemerintahan ku. Tanah ini adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan Palestina, mereka telah menyiramnya dengan darah mereka. Yahudi dipersilahkan menyimpan harta mereka. Jika suatu saat kekhilafahan Turki Utsmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya”
Yahudi pun berusaha untuk menumbangkan Sultan Hamid ll. Dan sampai sekarang, Yahudi Laknatullah berusaha merampas tanah Palestina. Celakanya, Amerika Serikat sebagai negara adidaya turut mengamini. Presiden Amerika Serikat Donald Trump berusaha melakukan perdamaian antara Palestina dengan Israel yahudi dengan membentuk dua negara di Palestina, yakni negara Israel dan negara Palestina. Pada rapat perdamaian tersebut tanpa melibatkan Palestina pada 6 Desember 2017, Amerika membentuk negara Israel sert menjadikan Yerusalem sebagai Ibukotanya.
Dari sini, Amerika dinilai dunia bukan menjadi penengah dalam melakukan perdamaian, Tetapi malah memicu kekeruhan dunia dalam menyelesaikan masalah palestina. Bahkan pada akhir-akhir ini Palestina semakin memanas karena serangan yang dilancarkan Israel secara tiba-tiba pada 10 Mei 2021 lalu, di saat kaum muslim Palestina melakukan salat tarawih. Israel telah melancarkan serangan udara di Kota Gaza Palestina. Serangan ini bermula pada upaya Israel yang menggusur warga Palestina yang ada di wilayah Sheikh Jarrah, kota Yerusalem bagian timur. Ketegangan ini meningkat pada kerusuhan yang terjadi di Masjid al-aqsa saat kepolisian Israel membubarkan warga Palestina yang melakukan salat tarawih. Hingga saat ini jumlah korban jiwa masih terus berjatuhan dan banyak bangunan yang kemudian runtuh akibat Serangan Roket Israel ini. Jumlah korban Palestina yang meninggal dunia sebanyak 248 jiwa pada 21 mei 2021. Ditambah dengan korban luka-luka baik parah maupun ringan. Termasuk infrastruktur infrastruktur umum hancur karena serangan yang terus berlanjut.
Kondisi seperti ini sebenarnya tidak hanya dialami Palestina, tetapi negeri-negeri muslim yang lain juga mengalami hal yang serupa. Kedzaliman terjadi di Uighur, Rohingya, India, Libanon maupun yang lainnya. Untuk menyelesaikan berbagai masalah tersebut, sudah dilakukan berbagai cara namun belum membuahkan solusi yang tuntas. Perlu pendiagnosaan yang secara cermat untuk dapat mengatasi masalah tersebut. Perlu diungkap berbagai tipu daya dalam peristiwa-peristiwa yang ada. Baru setelah terbukti adanya maksud terselubung maka di obatilah penyakit-penyakit ini.
Dibutuhkan jihad fisik di Kancah peperangan. Sayangnya jihad ini tidak dilakukan oleh negeri-negeri kaum muslimin. Kaum muslimin butuh daulah khilafah yang mampu menyatukan kaum muslimin sebagai institusi global dalam bentuk negara yang mampu menerapkan seluruh hukum Allah dengan adil. Daulah khilafah islamiyah akan menjaga harta, kemuliaan, jiwa, darah dan kehormatan kaum muslimin di seluruh dunia. Di sinilah pentingnya upaya untuk penegakan Daulah Islamiyah dalam memberikan solusi atas berbagai masalah akan terealisasi. Wallahu a’ lam bish showab

No comments:
Post a Comment