Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Palestina Terjajah, Gencatan Senjata Tiada Guna

Saturday, May 29, 2021 | Saturday, May 29, 2021 WIB Last Updated 2021-05-29T11:17:56Z
Oleh : Enny Prima Putri S.Hut M.Si

Palestina, selain merupakan tanah tempat diutusnya banyak para Rasul Allah, negeri ini juga disebut dengan kota tiga agama, yang merujuk pada Yerusalem. Sebab, dari negeri inilah berkembang tiga agama Samawi (langit), yakni Islam, Nasrani, dan Yahudi.

Bagi umat Islam Yerusalem atau Palestina adalah kota di mana pada 610 M Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah dari Mesjidil Haram Mekah ke Masjidil Aqsa Palestina, kemudian naik ke sidratul muntaha untuk menerima perintah solat dalam peristiwa Isra dan Mi'raj.

Hal lain yang menjadikan Palestina memiliki kemuliaan dan keberkahan dari Allah, karena di sinilah berdiri kiblat pertama umat Islam, yakni Baitul Maqdis atau Masjid Al Aqsa. Selama kurang lebih 16 bulan sejak hijrah dari Makkah ke Madinah. Rasul Sallallahualaihiwassalam dan umat Islam saat itu, melaksanakan ibadah shalat lima waktu dengan menghadapkan wajah ke arah Masjid Al Aqsa.

‘’Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjid Al Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjid Al Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.’’(QS Al Baqarah [2]: 144).

Bagi umat Kristen, Yerusalem menjadi kota suci karena menurut Perjanjian Baru, Yesus disalib pada 30 M. 300 tahun kemudian Saint Helena menemukan salib Yesus di kota ini. Di Yerussalem juga ada bukit Golgota yang menjadi tempat suci umat Kristen. Bukit Golgota adalah tempat Nabi Isa (Yesus Kristus) disalib, menurut keyakinan mereka (Kristen). Karena itu (Yerussalem) juga adalah kota suci bagi umat Kristen.

Bagi umat Yahudi di Yerussalem ada satu tempat yang disebut tembok ratapan dan di situlah umat Yahudi berdoa dan dijadikan sebagai tempat suci.

Berkumpulnya 3 agama Samawi ini tentu saja tak pernah lepas dari konflik sehingga kerusuhan di Yerusalem nyaris tidak pernah berhenti sejak zaman nabi sampai sekarang.
Yerusalem setidaknya telah dihancurkan dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dikuasai dan direbut kembali 44 kali.

Dari sekian banyak konflik dan kekerasan di Palestina maka Konflik Israel (Yahudi) - Palestina (Islam) merupakan salah satu sejarah kelam dunia. Nafsu Israel mencaplok tanah menjadi muaranya. Israel yang menganggap bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan membuat Israel menghalalkan segala cara untuk merebut tanah Yerusalem, yang oleh paham zionis dianggap sebagai tanah tak bertuan sehingga mereka merasa berhak mengklaim seluruh kawasan Palestina adalah milik mereka.

Konflik berkepanjangan itu membuat jutaan orang Palestina kehilangan kebebasan dan hak-hak lainnya. Pemandangan itulah yang dunia dapat saksikan, setidaknya hingga hari ini, termasuk dalam ngototnya Israel menggusur pemukim Palestina dari kawasan Sheikh Jarrah.

Sudah menjadi rahasia umum pemerintah Israel lebih peduli dengan perluasan wilayah, ketimbang perdamaian. Peristiwa Yawn an-Nakba (hari bencana) pada 14 Mei 1948 jadi puncak sekaligus awal mula konflik abadi di era modern.

Proklamasi pendirian Israel yang menjadikan Yerusalem sebagai ibukota itu mengacu pada perang yang dilancarkan terhadap rakyat Palestina. Selama peristiwa nakba, empat dari lima desa terjadi pembersihan kelompok etnis yang kebanyakan dilakukan dengan kekerasan.
Di atas tanah itu, 95 persen komunitas Yahudi baru hidup. Sementara, hampir satu juta rakyat Palestina diusir dari tanah kelahirannya.

Konflik Palestina - Israel di bulan Ramadhan 1442 H
Israel dan Palestina kembali memanas sejak terjadinya kekerasan di Yerusalem timur bulan lalu. Warga Palestina bentrok dengan polisi karena ancaman penggusuran puluhan keluarga Palestina oleh pemukim Yahudi. Fokus bentrokan adalah Masjid Al-Aqsa, kompleks masjid yang terletak di puncak bukit yang dihormati oleh Muslim dan Yahudi.

Dilansir dari harian online Tirto.id, Jumat (7/5/2021) bentrokan terjadi ketika polisi Israel mengerahkan pasukannya menuju kompleks Masjid Al Aqsa, saat muslim Palestina melaksanakan ibadah shalat tarawih.


Rekaman video memperlihatkan para jemaah melempari polisi Israel dengan kursi, sepatu, dan batu, yang kemudian dibalas dengan tembakan senjata api.

Sebelumnya, pada Jumat (7/5/2021) pagi, polisi Israel menangkap 15 warga Palestina pasca-kerusuhan yang terjadi di kawasan timur Yerusalem.

Ketegangan di Yerusalem meningkat dipicu oleh ancaman pengusiran terhadap warga
Palestina yang bermukim di kawasan Sheikh Jarrah, sebelah timur Yerusalem.

Polisi Israel mengatakan, pengunjuk rasa Palestina menyalakan petasan dan melempar batu ke petugas dan kendaraan pada Jumat pagi di pemukiman Sheikh Jarrah.

Sementara itu, media Palestina melaporkan bahwa polisi dan penduduk Israel telah menyerang warga Palestina di Sheikh Jarrah pada Jumat pagi.

Pengusiran warga Palestina di Sheikh Jarrah
Terletak di bagian timur Yerusalem, Sheikh Jarrah telah menjadi pusat sengketa selama beberapa dekade.

Baik penduduk Israel dan warga Palestina, sama-sama mengklaim hak kepemilikan tanah di Sheikh Jarrah.


Terdapat 4-6 keluarga yang mencoba bertahan di Sheikh Jarrah, untuk menyatakan dukungan terhadap mereka, warga Palestina berkumpul di Sheikh Jarrah selama berhari-hari untuk berbuka puasa bersama.

Aksi dukungan itu dibalas polisi Israel dengan memberlakukan blokade di kawasan pemukiman itu, dan mengancam akan mengusir puluhan warga yang tinggal di Sheikh Jarrah.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak Israel untuk membatalkan penggusuran paksa terhadap warga Palestina yang tinggal di Yerusalem Timur.
PBB memperingatkan, bahwa tindakan Israel itu dapat dianggap sebagai kejahatan perang.


"Kami ingin menekankan bahwa Yerusalem Timur tetap menjadi bagian dari wilayah Palestina yang diduduki, di mana hukum kemanusiaan internasional berlaku," kata Juru Bicara Kantor Hak Asasi PBB Rupert Colville kepada wartawan di Jenewa, Swiss.
Sebelumnya, Israel telah menerima protes dari komunitas internasional atas keputusannya membangun 540 koloni pemukiman di Tepi Barat, Palestina.

Jerman, Inggris, Perancis, Spanyol, dan Italia telah mendesak Israel untuk menghentikan pembangunan pemukiman ilegal di wilayah Palestina yang diduduki.

Diberitakan Kompas.com, Sabtu (8/5/2021), Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan, korban luka akibat bentrokan di Masjid Al Aqsa, Jumat (7/5/2021) malam, bertambah menjadi 200 orang.

Bulan Sabit Merah mengatakan kepada CNN, polisi Israel mengenakan perlengkapan anti huru-hara dan melontarkan tembakan peluru karet kepada warga Palestina.

Perlengkapan yang digunakan oleh polisi tersebut membuat sebagian besar korban mengalami cedera.

Penggiringan Opini Penyerangan ke Palestina adalah bukan masalah Agama
Sejak dulu kita semua tahu bahwa perampasan wilayah dan pemukiman oleh Zionis Yahudi adalah berdasarkan kepercayaan agama mereka bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan kepada kaum Yahudi.

Bahkan dalam banyak kesempatan, kaum Yahudi kerap mengklaim Yerusalem sebagai “tanah yang dijanjikan Tuhan” untuknya. Biasanya, mereka merujuk pada dalil dari teks Alkitab, terutama Kitab Kejadian (Genesis).

Salah satu ayatnya berbunyi, “Aku (Tuhan) akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau (Musa) serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal …. Akan Kuberikan negeri ini yang kau diami sebagai orang asing, yakni seluruh Tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya.”

“Tanah Kanaan” yang dimaksud adalah wilayah di sebelah barat Sungai Yordan. Dahulu, Bani Israil yang dipimpin Yusya bin Nun (Yosua) berhasil menaklukkan kawasan tersebut. Pada zaman modern, Kanaan kini merujuk pada Yerusalem, wilayah Palestina.
Maka akan sangat aneh bila pada kejadian penyerangan Yahudi kepada Palestina dianggap bukan berdasar agama. Namun pada kejadian terakhir ini publik seakan digiring opini dan pemikirannya bahwa kasus yang terjadi hanyalah konflik antara Hamas dan tentara Yahudi, sehingga masyarakat luar negeri tak perlu ikut campur.

Penggiringan opini ini diharapkan melunakkan kecaman negara luar terhadap serangan yang dilakukan Israel kepada Palestina. Bahkan di Indonesia sendiri dukungan terpecah antara mendukung Palestina ataukah Israel.

Namun disisi lain membingkai konflik di Palestina sebagai konflik agama saja membuat masyarakat Indonesia beraksi secara hitam putih dan emosional.

Sebagian umat Islam akan pro kepada rakyat Palestina sementara sebagian umat Kristen -karena menganggap bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan- pro terhadap Israel.

Polarisasi seperti ini terlihat dalam diskusi di media sosial. Keadaan ini tidak sehat dan jika terus berkembang bisa memecah belah kebersamaan.

Reaksi yang didorong sentimen agama ini kontraproduktif sebab dapat mengalihkan fokus utama perjuangan. Dari upaya membangun perdamaian di Palestina menjadi hasrat balas dendam dan mengalahkan kelompok yang berbeda agama.

Gencatan Senjata yang tak dipatuhi Israel
Setelah 11 hari Israel melakukan penyerangan dan pemboman ke wilayah Palestina, akhirnya dilakukanlah gencatan senjata yang ditengahi oleh Mesir yang berlaku mulai hari Jum'at dini hari tanggal 21 Mei 2021.

Namun seperti tabiat bangsa Yahudi yang tak pernah menepati janji, kesepakatan gencatan senjata yang dicapai antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza terjadi pada Jumat (21/05/2021) dini hari, di mana polisi Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa dan menembakkan gas air mata ke arah warga Palestina setelah salat Jumat (21/05/2021).

Dilansir di harian online cnbcindonesia.online dari kantor berita Aljazeera, Sabtu (22/05/2021), melaporkan bahwa dari pendudukan Yerusalem Timur, penyerbuan kompleks Masjid Al-Aqsa oleh polisi Israel tidak terduga dan mencerminkan betapa rapuhnya gencatan senjata itu.

Negara-negara terdekat yang diharapkan dapat membantu meredakan ketegangan atau bahkan membalas serangan membabi buta oleh Israel ke Palestina tak jua kunjung datang, selain hanya menunjukkan kecaman dan rasa prihatin.

Sebenarnya hal ini pun sudah bisa ditebak selain karena merasa bukan urusan negara mereka juga karena negara-negara ini telah tersandera oleh kepentingan-kepentingan politik dengan Israel juga karena terlalu banyak jerat negara besar dan Israel terhadap dunia Islam (berupa hubungan dagang maupun sudah terjadinya normalisasi hubungan diplomatik)

Negara Islam Solusi Tuntas
Tentu tak dapat dipungkiri bahwa penegakan negara berdasarkan Islam Kaffah adalah solusi terbaik untuk memberi pembelaan dan perlindungan bila ada wilayahnya yang sedang diperangi atau diserang oleh kaum kafir. Keberadaan negara berdasarkan Islam Kaffah akan menghapus sekat-sekat negara bangsa, menghilangkan nasionalisme hingga kekuatan 1,6 miliar kaum muslim bisa menyatu, saling menolong atas dasar ukhuwah islamiyah.

Satu komando dari pemimpin negara akan memudahkan setiap umat muslim di seluruh dunia untuk bergerak saling bantu membantu dalam penyelesaian setiap konflik yang ada dalam wilayah negaranya.
Wallahu'alam.

https://tirto.id/penyebab-israel-menyerang-palestina-situasi-terkini-di-palestina-gf2f
https://www.kompas.com/tren/read/2021/05/09/133000665/mengenal-sheikh-jarrah-kawasan-pa lestina-yang-terancam-digusur-israel?page=all#page2
https://www.republika.id/posts/16986/untuk-siapa-%E2%80%98tanah-yang-dijanjikan%E2%80
%99 https://www.cnbcindonesia.com/news/20210522050326-4-247509/gencatan-senjata-tapi-polisi-i srael-masih-serbu-al-aqsa

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update