Di saat umat Islam di seluruh dunia sedang menjalankan ibadah puasa dan hari raya. Umat Islam di Palestina harus berjuang melawan serangan demi serangan yang digencarkan oleh Yahudi Israel laknatullah.
Mulai dari serangan polisi Israel di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, pada Jumat (7/5) malam waktu setempat. Hingga serangan udara Israel pada hari Sabtu (15/5) yang menghancurkan gedung 12 lantai tempat Associated Press dan jaringan TV Al Jazeera berkantor. Korban tewas di Gaza melonjak menjadi 192, termasuk 58 anak-anak. (Detik.com, 17/5/2021)
Sebenarnya serangan demi serangan yang digencarkan oleh zionis Israel terhadap muslim Palestina bukan yang pertama kali terjadi. Hal ini sudah berlangsung lama dan menimbulkan banyak korban jiwa. Yaitu sejak awal pendudukan Zionis Israel pada tahun 1948, jadi sudah lebih dari 70 tahun lamanya muslim Palestina dijajah. Hingga saat ini belum juga ada yang mampu menolongnya.
Sejatinya seorang mu'min dengan mu'min lainnya adalah bersaudara. Ibarat satu tubuh apabila salah satu anggota tubuh terluka, maka yang lain akan merasakan sakitnya. Derita yang dirasakan oleh muslim Palestina seharusnya menjadi duka bagi seluruh muslim dunia.
Seharusnya umat Islam bersatu menolong muslim Palestina, tapi nyatanya hingga saat ini tidak satu pun dari pemimpin negeri muslim yang bergerak untuk mengirimkan bala tentaranya menolong muslim Palestina. Para penguasa negeri-negeri muslim hanya diam menyaksikan, kalaupun ada yang membela tidak lebih hanya sekedar kecaman.
Bahkan 16 negara yang tergabung di dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun mereka melakukan pertemuan untuk membahas agresi Israel di wilayah Palestina, khususnya Al-Quds Al-Shareef atau Yerusalem dan juga jalur Gaza. Namun, hasilnya tindakan yang diambil tetap tidak memuaskan.
18 butir hasil pertemuan 16 negara anggota OKI tak lebih dari sekedar retorika berupa kecaman dan desakan terhadap PBB agar bersikap tegas sikapi agresi Israel ke Gaza.
Sedangkan Israel didukung oleh negara adidaya AS yang mengirimkan senjata membantu Israel untuk menyerang muslim Palestina. Mengutip Tempo.co, dalam setahun bantuan militer AS untuk Israel senilai US$4 miliar. Nilai itu setara Rp57,2 triliun dengan perkiraan kurs Rp14.300 per dolar AS. Bahkan baru-baru ini Presiden AS, Biden menghubungi Presiden Palestina Mahmoud Abbas agar menggerakkan kelompok Hamas untuk Menghentikan serangan roket ke Israel. (Detik.com, 17/5/2021)
Lalu apa pantas kekuatan Israel yang didukung AS hanya dihadapi dengan kecaman dan beragam resolusi? Termasuk apa yang dilakukan negara Arab dan dunia Islam lewat OKI hanya menunjukkan pembelaan setengah hati. Berharap PBB turun tangan menyelesaikan konflik di Palestina, bagai mencincang air. Mustahil terjadi.
Solusi satu-satunya untuk menolong Palestina adalah dengan menegakkan khilafah. Karena kekuatan Israel yang didukung negara adidaya hanya bisa dihadapi dengan kekuatan negara pula.
Saat ini negeri-negeri muslim terpecah belah menjadi 55 negara. Umat Islam tidak punya khalifah yang melindungi darah, harta dan kehormatannya. Sehingga umat Islam dengan mudah dijajah dan dianiaya. Namun, apabila negeri-negeri Islam bersatu di bawah naungan khilafah, umat Islam akan memiliki kekuatan dan khalifah yang menjadi junah.
Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)
Ketika khilafah tegak, khalifah dan bala tentaranya akan melindungi umat Islam dimanapun dia berada. Jangankan banyak umat Islam yang dibunuh, bahkan ketika seorang muslimah saja dilecehkan khalifah akan menolongnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Khalifah Al-Mu'tashim Billah dan bala tentaranya yang datang menaklukkan Kota Amuriyah untuk menolong seorang muslimah.
Hal inilah yang harus disadari oleh umat Islam, yaitu berjuang menegakkan khilafah. Agar umat Islam punya perisai yang melindunginya. Bukan terus terbuai oleh sistem bobrok Demokrasi yang menyebabkan penderitaan umat Islam tak bertepi.
Wallahu a'lam bishshawwab.

No comments:
Post a Comment