Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pemblokiran Film JKDN Bukti Insecure-nya Rezim

Saturday, October 03, 2020 | Saturday, October 03, 2020 WIB


Oleh : Ummu Abdurrahman

Alhamdulillah wa MasyaaAllah, beberapa waktu lalu kita telah menyaksikan bahwa pertolongan Allah itu sungguh nyata. Dibalik pemutaran film Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN) yang terdapat banyak hambatan dan rintangan, namun dengan izin Allah pemutaran film tetap berlangsung hingga selesai. Film Jejak Khilafah di Nusantara yang diluncurkan pada Minggu (02/8/2020) lalu, dibuat oleh Nicko Pandawa dan Komunitas Literasi JKDN. Film tersebut diputar perdana pada Kamis (20/8/2020), namun film tersebut sempat diblokir beberapa kali di tengah pemutaran film.

Banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa penyebaran Islam di Negeri ini tidak lepas dari pengaruh kuat Kekhilafahan Islam, mulai dari Khilafah Abbasiyah sampai Utsmaniyah. Jika umat Islam mau mencermati dan menelusuri sejarah Islam di Indonesia, maka sesungguhnya beberapa wilayah Indonesia pernah menjadi bagian dari Khilafah. Para ahli sejarah mengakui, Kekhilafahan Islam itu memang ada dan menjadi kekuatan politik riil umat Islam.

Film JKdN yang tayang pada 1 Muharram 1442 H lalu menuai banyak pro dan kontra. Banyak yang menyambut antusias dikarenakan film ini mengungkap fakta-fakta sejarah yang selama ini tidak diketahui oleh publik. Namun sayang, pihak yang kontra lebih ditonjolkan oleh media. Seperti beberapa pertanyaan benarkah ada Khilafah di Nusantara? Apa itu Khilafah dan hubungannya dengan Nusantara?

Sebelumnya ada beberapa kendala yang dihadapi dalam menanti film ini, mulai dari susah masuk karena banyak yang login, pembuatan link youtube palsu sampai terdapat beberapa kali pemblokiran dengan menyebut “konten ini tidak tersedia di domain Negara karena ada keluhan hukum dari pemerintah”. Langkah pemblokiran ini sangat disayangkan, sebab apa yang ada dalam film ini merupakan sebuah pengakuan tentang jejak Kekhilafahan Islam di Nusantara, yang selama ini telah mengalami penguburan sejarah.

Pemerintah merasa insecure terhadap tayangnya film yang menyuguhkan fakta sejarah ini. Mereka khawatir film ini akan membuat ummat semakin sadar akan adanya hubungan antara Khilafah dengan Nusantara. Sehingga pemerintah mengambil jalan memblokir film ini. Karena selain film ini mengungkap kebenaran di masa lalu, film ini juga mengungkap fakta bahwa ternyata nenek moyang kita dulu sangat open mind dan mudah menerima kebenaran Islam.

Upaya pencegahan kebangkitan Islam yang dilakukan para pembenci Islam sangat kental terasa. Para pendukung Islam ideologi makin di musuhi dengan cara melabeli mereka sebagai radikalis, ekstrimis, fundamentalis dan lainnya. Sebutan fundamentalis/ekstrimis ditujukan Barat pada person atau kelompok yang menolak demokrasi dan nilai Barat serta memandang Islam sebagai Ideologi.

Di negeri mayoritas muslim seperti Indonesia, bahkan tidak hanya label yang disematkan, tapi orang-orang  yang kritis terus dibungkam, persekusi terhadap penceramah terus dilakukan, aksi penangkapan teroris, dan lainnya. Semua itu merupakan strategi Stick and Carrot yang dilakukan oleh rezim kapitalisme untuk mencegah kebangkitan Islam.

Pihak yang mau bersahabat dengan penjajah dan penguasa bonekanya, diberikan wortel dan tentu dimanfaatkan untuk kepentngan si pemberi wortel. Termasuk untuk bersinergi melawan dan memusuhi pihak yang ditarget mendapat pukulan tongkat. Dalam tubuh masyarakat diletuskan prahara dan pecah belah. Sementara yang mengambil untung dari itu semua, yang tertawa puas di balik itu semua adalah para penjajah dan segelintir orang yang sedang berkuasa.

Bagi Kaum Muslimin atau kelompok Islam yang mendukung penguasa diiming-imingi dengan "carrot" (penghasilan, pekerjaan, jabatan, dan lainnya) maka mereka akan merangkulnya. Akan tetapi bagi mereka yang tidak mau maka akan diberikan "stick" (pentungan). Bisa dengan dikriminalisasi, dicabut BHP, diframing negatif, dan lainnya.

Meneladani Dakwah Rasulullah SAW di Fase Mekah

Islam memandang bahwa metode dakwah adalah hal yang baku, tidak boleh berubah. Sedangkan uslub adalah suatu yang dinamis sehingga bisa menyesuaikan dengan kondisi dan keadaan ummat. Di masa sekarang terlebih di masa pandemi ini, dimana orang-orang harus berdiam  diri di dalam rumahnya, maka uslub dakwah dengan membuat tayangan akan sangat efektif. Namun tetap harus memperhaikan hukum syara di dalamnya terkait konten dan juga cara pembuatannya.

JKDN dari sisi konten sangat bagus dan mmiliki bukti yang kuat. Ketika proses pembuatannya pun tidak melanggar hukum syara sehingga film ini selamat dari pelanggaran syariat. Maka uslub dakwah dengan cara pemutaran film sangat relevan dengan kondisi sekarang, dimana fase dakwah sudah mencapai fase Tafa’ul taam.

Tafa’ul taam (tafa’ul sempurna) adalah tahap interaksi dengan masyarakat dan perjuangan politik. Setelah tiga tahun masa kenabian, dengan turunnya QS. Al-Hijr [15]: 94, Allah SWT memerintahkan Rasululah untuk menyampaikan risalah secara terbuka kemasyarakat dan mengajak mereka masuk Islam.

Pada fase ini,Rasulullah SAW menyerukan perubahan tatanan kehidupan bermasyarakat, tatacara ibadah, nilai-nilai sosial dan praktik mu’amalah mereka. Identitas dan gaya hidup mereka yang jahiliyyah di kritik, dijelaskan kebobrokannya agar mereka mau menggantinya dengan agama dan gaya hidup yang baru. Nabi SAW menyerang sistem kehidupan yang dijalankan oleh Quraiys seraya menawarkan sistem Islam sebagai penggantinya. Perjuangan dakwah Rasulullah dan para sahabat pada tahap kedua ini dilakukan tanpa kekerasan. Beliau melakukan pergulatan pemikiran (shira’ al-fikr) dan perjuangan politik (kifah al siyasi) tanpa menggunakan kekuatan fisik/ mengangkat senjata, meskipun setiap lelaki Arab pada waktu itu sudah terbiasa menunggang kuda dan memainkan senjata.

Meneladani Dakwah Rasulullah SAW    

Firman Allah dalam Al Quran Surat Yusuf : “Katakanlah inilah jalan (dakwah)ku. Aku beserta orang2 yang mengikutiku (yang) mengajak kalian kepada Allah dengan hujah yg nyata. Maha Suci Allah dan aku tiada termasuk orang2 yg musyrik” (QS Yusuf [12]: 108)

Kehidupan Rasul SAW adalah kehidupan dakwah. Selama 23 tahun Rasul SAW mengajak manusia kepada Islam dengan dakwah fikriyyah dan siyasiyyah. Rasulullah SAW telah sukses dalam mengemban dakwah, membentuk masyarakat Islam, mendirikan daulah dan menyatukan umat dibawah panji Islam. Setelah runtuhnya daulah Khilafah umat terpecah menjadi berbagai bangsa dan negara. Agar umat dapat bangkit harus mengikuti metode dakwah yang benar, dengan memahami jalan dakwah Rasulullah SAW.

Sejarah tidak bisa dipisahkan dari umat Islam. Umat Islam diminta untuk mengambil pelajaran dari sejarah sebagai hikmah kehidupan. Dengan sejarah, umat Islam bisa meraih kembali kejayaannya untuk mencetak peradaban yang gemilang. Maka dengan adanya pemutaran film JKDN ini, masyarakat diharapkan akan kembali memahami identitas dirinya.

Setiap masa atau zaman akan terulang pola yang sama. karenanya bagian dari solusi kehidupan hari ini ialah dengan mempelajari sejarah di masa lalu. Sebagaimana para ahli sejarah menyatakan bahwa inna tarikh yuidu nafsahu, " Sesungguhnya sejarah itu akan berputar (berulang). Dari pernyataan tersebut dapat kita pahami bahwa segala sesuatu yang pernah terjadi di zaman dahulu baik berupa permasalahan atau pun yang lainnya dapat terulang di zaman ini. Sehingga solusi atau penyikapan permasalahan yang terjadi di masa lalu dapat menjadi inspirasi, acuan atau tolak ukur dalam menghadapi permasalahan hari ini. tidak terkecuali permasalahan dakwah yang kita hadapi hari ini yang mengharuskan kita meneladani dakwah Rasulullah SAW.

Di periode Mekkah, Rasulullah mendidik para sahabat dengan mengokohkan keimanan mereka. Sebagaimana ayat-ayat yang turun di periode Mekkah adalah ayat tentang keimanan dan ketauhidan. Maka sahabat dikokohkan keimananya di periode ini. Bahkan pada saat itu, penyiksaan terhadap Sumayyah dan Bilal tidak direspon oleh Rasulullah dengan membalas atau memerangi kafir Quraisy, tetapi Rasulullah mendiamkannya. Hal ini karena belum ada perintah Allah terkait kejadian ini.

Di masa sekarang bisa kita ambil pelajaran bahwa dakwah di periode tafa’ul taam haruslah mencontoh dua hal tadi yaitu senantiasa menjaga suasana keimanan dan juga tidak mudah terpancing atas perlakuan pembenci Islam kepada pengemban dakwah. Tetap berdakwah seperti yang Rasulullah SAW contohkan, dengan tidak menyertakan kekerasan.

Wallahu a’lam bishowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update