Bagaimana kabar hati kita saat ini?

Oleh: Citra Anita Dewi 
(sweet shaley cookies)

Bicara masalah hati menjadi topik yang tidak ada habisnya. Kadang senang, gembira, kesal, sedih, marah, dendam, takut, gelisah atau bahkan dalam keadaan depresi. 

Apalagi sebagai perempuan yang lebih mengandalkan perasaannya. Kadang dalam satu hari bisa merasakan berbagai perasaan, bahkan saat tertawa pun setelahnya bisa menangis sedih. 

Lantas bagaimana agar hati kita bisa lebih bersih dan memasrahkan segala apa yang kita rasakan hanya kepada Allah. Sebagaimana yang dilakukan nabi Allah salah satunya Ya'qub as. Diabadikan kisahnya dalam qur'an surat  Yusuf ayat 86 :

قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ 

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya". 

Kita punya kecenderungan untuk membicarakan masalah kita kepada orang lain. Bisa jadi orang itu adalah orang tua, suami, sahabat, guru, ustadzah, tapi kalimat nabi Ya'qub ini punya arti yang sangat dalam. Bisa jadi kita merasa nyaman ketika membicarakan semua perasaan kita kepada orang yang kita percaya, tapi  ketahuilah sebaik dan seempati apapun orang lain mereka tidak akan bisa memahami kita dengan utuh. Apa yang sebenarnya kita sedang rasakan. Satu-satunya yang bisa memahami apa yang kita rasa adalah Allah. 

 Syeikh Ibnu Atha'illah berkata 
 “Hati itu adalah batang pohon yang harus sering di siram dengan air keta’atan “ 
Ketika air ketaatan kita kering, maka basahilah dengan dzikir. Seseorang yang hatinya bersih dan bening akan menghasilkan amal yang baik karena semua aktifitas dipengaruhi oleh hati/qolbu. 

Beliau juga berkata, "Hati itu ibarat cermin dan nafsu itu seperti nafas, semakin banyak bernafas dalam cermin maka akan buram atau kotorlah cermin itu".

Bagaimana caranya agar hati kita senantiasa hati kita bening bak cermin yang bersih? Beberapa cara di bawah ini bisa dicoba. 

1. Basahi lidah dengan dzikir. Bukan hanya dzikir yang durasi cepat seperti yang sedang balapan.  Lisan kita terus berdzikir tapi kita tidak mensucikan Allah. Lakukan dzikir dengan penuh penghayatan, "Maha suci engkau wahai Allah, tapi kami masih melakukan ghibah, kami masih sering hasad kepada teman yang lebih sukses, kami lebih sering sombong di hadapan orang tua, bahkan kami sering merasa paling baik diantara teman.  Astagfirullah. 

Contoh lain, berdzikir hamdalah. Tapi kita tidak memuji Allah, kita malah sering takut kepada atasan, kita lebih takut kepada orang lain atau manusia daripada Allah. Cobalah cek kamar dan buka lemari, coba lihat jilbab dan khimar kita ada 1,2,3,4,5,6 yang tidak lain adalah untuk puji makhluk Allah, bukan untuk Allah.
Dzikir kita hanya sekedar lisan, kalau hanya dzikir lisan anak kecil berusia 3 tahun pun bisa berdzikir atau bahkan burung beo pun bisa berdzikir. 
Berdzikirlah dengan hati / qolbu yang benar-benar memaknai artinya bukan kuantitas ataujumlah setoran yang kita kejar. 

2. Diam 
Bagi seorang perempuan, apalagi ibu, susaaaah sekali rasanya untuk disuruh diam. Bahkan ilmuwan mengadakan riset mengatakan bahwa kosa kata yang harus dikeluarkan dalam sehari bagi perempuan jauh lebih banyak dari pria. 

Dalam satu riwayat nabi pernah bersabda. 
سلامة الإنسان في حفظ اللسان


"Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan." (H.R. al-Bukhari).

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah disebutkan, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik)" (HR: al-Bukhari dan Muslim). 

Tidaklah mengherankan jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa menjaga lisan ada di antara pokok kebaikan. Diriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dalam sebuah hadits yang panjang, di akhir hadits disebutkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ

“Maukah Engkau aku kabarkan dengan sesuatu yang menjadi kunci itu semua?” 

Aku menjawab, “Ya, wahai Nabi Allah.” 

Lalu beliau memegang lisannya, dan bersabda, 

كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا

“Tahanlah (lidah)-mu ini.” 

Aku bertanya, “Wahai Nabi Allah, (apakah) sungguh kita akan diadzab disebabkan oleh perkataan yang kita ucapkan?” 

Beliau menjawab, 

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“(Celakalah kamu), ibumu kehilanganmu wahai Mu’adz! [1] Tidaklah manusia itu disungkurkan ke dalam neraka di atas muka atau hidung mereka, melainkan karena hasil ucapan lisan mereka.” (HR. Tirmidzi no. 2616, dinilai shahih oleh Al-Albani)

3. Lakukan sesering mungkin berkholwat dengan Allah. Hanya berduaan dengan Allah. Ini salah satu cara untuk membeningkan hati bak cermin. Banyak “me time “ dengan Allah. 
Banyak 1000 alasan untuk tidak bangun di sepertiga malam bagi perempuan karena dengan seribu aktifitasnya tapi ada 1000 jalan / cara juga untuk bangun hanya untuk me time dengan sang Pencipta. 

4. Kurangi makan dan minum 
Kita ditempa pada bulan Ramadhan oleh kondisi lapar dan haus karena dengan kondisi kita lapar dan haus, kita sering merasakan perasaan saudara kita yang berkekurangan. Rasul pun pernah bersabda

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

Makanya jangan heran kita sering mendengar jikalau Rasul sehari lapar dan sehari kenyang. 

Makan dan minumlah hanya untuk mengisi lambung kita. Bukan berarti kita tidak boleh makan makanan enak, boleh saja tapi jangan jadikan itu kewajiban yanh kita fikirkan selalu. 

Jangan sampai kita terlalu kenyang. Jangan sampai kita kenyang sendirian. 


Sudah menjadi fitrah manusia mempunyai perasaan sedih , kesal ,marah , senang, bahagia, dendam ,takut , gelisah dll, maka Al qur'an sudah mengatur semuanya bagaimana kita menyikapi perasaan kita. 

Tulisan ini adalah pengingat khususnya saya pribadi untuk sering membersihkan cermin dalam hati saya dengan mencoba mengamalkannya. 

Wallahu ‘alam bishowab
Previous Post Next Post