Oleh : Salma Rufaidah
Duka lama yang sangat menyesakkan dada pada tanggal 7 Juli. 25 tahun lalu terjadi genosida di Srebrenica yang menewaskan lebih dari 8.000 jiwa Muslim Bosnia. Barat, untuk sebagian besarnya, bungkam. Tak mau tahu ada tragedi mengenaskan dan paling mengerikan selepas Perang Dunia II.
Begitu pula terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan pada tanggal 10 Juli. Turki mencabut peraturan yang menjadikan Hagia Sophia sebagai museum dari awalnya masjid. Pencabutan berselisih 3 hari dari peringatan 25 tahun Tragedi genosida di Srebrenica, pada hari mulia, Jumat. Hagia Sophia bakal berfungsi lagi sebagai masjid, dan resmi dipergunakan 14 hari kemudian, masih para Jumat.
Sejarah mencatat, Konstantinopel jatuh ke pangkuan Islam pada 1453 M. Berjarak 10 tahun kemudian, yakni pada 1463 M, Sang Sultan menaklukkan Bosnia.
Sebenarnya kalau melihat dari keduanya, Hagia Sophia dan Srebrenica ini, tak bisa dilepaskan dari jejak keberkahan persatuan kaum muslimin di bawah naungan sistem Kekhilafahan Islam. Sampai akhirnya Mustafa Kemal meruntuhkan Khilafah pada 1924. akhirnya semua tercerai berai
Ini pula argumentasi kuat mengapa Khilafah yang perkara terbesar bagi kaum muslimin. Karena lihat saja, mana lembaga internasional yang bersuara? PBB? Terkhusus tragedi Srebrenica, adalah bukti yang sangat kuat ketiadaan perlakuan adil PBB terhadap negara berpenduduk muslim. Tragedi Srebrenica dan perang Bosnia menjadi pelajaran penting bagi anak umat ini bahwa tanpa khilafah negeri muslim akan terus menjadi medan pertarungan kepentingan negara besar yang tak segan mengorbankan ribuan nyawa muslim.
Tragedi ini juga menjadi bukti tidak adanya perlakuan adil PBB terhadap negara berpenduduk muslim, bahkan PBB menjadi alat melegitimasi kebengisan segelintir penjahat untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap Islam dan kaum muslim.
Faktanya, kita bisa melihat PBB tak ubahnya alat legitimasi kebengisan segelintir penjahat peradaban untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap Islam dan kaum muslim. Menurut sejarah kelahirannya pun, PBB lebih menguatkan ikatan diantara negara penjajah dan mengerat-ngerat persatuan dan kesatuan umat Islam dunia.
Sesungguhnya jejak sejarah masih terekam di sebagian kaum muslim dan bahkan sulit dihapus.. Keberkahan bagi Hagia Sophia di Konstantinopel dan Srebrenica di Bosnia, bisa disaksikan ketika memang keduanya berada dalam naungan sistem Islam.
Sebelum 1453, yakni pada masa Perang Salib IV, pasukan Salib menduduki Konstantinopel dan mendirikan Kekaisaran Latin (Romawi Timur Katolik) pada 1204. Setelahnya, tangan-tangan keji kaum kafir dengan begitu serakah menjarah keberkahan itu dan menggantinya dengan mimpi buruk sekularisme dan nasionalisme. Na’udzu billaahi.
Tak ayal, Hagia Sophia dan tragedi Srebrenica sangat jelas menegaskan urgensi tegaknya kembali Khilafah untuk menaunginya dengan sistem Ilahiyah secara kaffah.Ini benar-benar pelajaran penting bagi generasi umat Rasulullah ﷺ yang hidup di masa saat ini, bahwa tanpa Khilafah negeri muslim akan terus menjadi medan pertarungan kepentingan negara besar yang tak segan mengorbankan ribuan nyawa muslim.
Jikalau bukan dengan pertarungan fisik yang berdarah-darah, srategi barat terus menerus mendobrak agar umat Islam melupakan bahkan bersemangat berteriak khilafah bukan ajaran Islam. Rekam jejak keberkahan pelaksanaan sistem Islam di Konstantinopel dan Bosnia ini bukan berita tipuan dan penuh dusta. Pihak yang mengabadikan dalam tinta emas sejarah bukan hanya sejarawan muslim, tapi juga sejarawan nonmuslim. Semua tak bisa mengelak akan bukti keberkahan ini, meski segala polemik turut mewarnai demi mengingkarinya.
Menghilangkan tantangan pihak – pihak yang getol menyuarakan kebencian pada ajaran khilafah tentu tidak bisa dibiarkan. Tapi harus dilawan dengan dakwah yang bisa mengubah pemikiran dengan berbagai cara. Mungkin banyak umat yang tak sabar dan terus mempertanyakan efektivitas dakwah seperti ini. Namun hendaknya mereka mengerti, dakwah seperti inilah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.Kendati lama menuju garis finish, namun itulah kesejatian ittiba’, meneladani semua yang dituntun Muhammad ﷺ dalam perkara yang kita diwajibkan mengikutinya tanpa reserve.
Apa yang dialami umat hari ini, yang menjadi sasaran narasi kebencian, tak jauh beda dengan yang dialami Rasulullah ﷺ dan para Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka melalui kehidupan dakwahnya dengan menghadapi kebencian kaum kafir Jahiliyah.
Kafir Quraisy menggunakan berbagai propaganda seperti berdebat, menggugat, mencaci, melemparkan berbagai isu dan tuduhan. Propaganda itu juga digunakan untuk menyerang akidah Islam dan para pemeluknya, membusuk-busukkan dan menghina esensi ajaran Islam. Persis kondisi hari ini.
Lalu apakah yang dilakukan Nabi yang mulia tersebut? Beliau ﷺ menuntun para Sahabat yang telah tergabung dalam kutlah –kelompok dakwah politik- untuk konsisten menyampaikan wahyu Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى apa adanya.
Kutlah dakwah Rasulullah ﷺ terus menerus menggencarkan seruannya kepada manusia agar kembali ke jalan Allah, disertai kalimat tegas yang merendahkan dan mencela sistem yang digunakan kafir Quraisy.
Tentu saja dakwah Rasulullah ﷺ di masa at tafa’ul wa al kifah (interaksi dan perjuangan) itu penuh risiko. Rasulullah ﷺ dan tempat yang sering disinggahi beliau dilempari najis oleh para pembencinya. Kaum muslim dinista dengan hinaan yang menyakitkan, diteror, bahkan dianiaya.
Kenyataan yang diterima pada saat itu tidak membuat gentar. Mereka terus dengan sabar dan istiqomah serta berbekal keyakinan bahwa Allah akan memberi kemenangan kepada hambaNya yang mau menolong dan memperjuangkan agama Allah.
Allah memang belum memberi pertolongan untuk kemenangan saat ini. Tapi Allah menunjukkan sudah mulai nampak ada perubahan dari dakwah yang umat Islam lakukan. Allah memberikan kegembiraan itu melalui kesadaran umat untuk tak ragu menyuarakan Khilafah sebagai ajaran Islam, bangga mengibarkan Ar Royah dan Al Liwa sebagai simbol kemenangan Islam, ataupun berani “melawan” narasi busuk rezim dan kroni-kroninya yang mendiskreditkan Islam dan pejuangnya.
Percayalah, urgensitas kebangkitan Islam bukan sekedar kaleng-kaleng. Tapi sudah banyak keterangan yang meyakinkan bahwa ini pasti nyata. Kebangkitan, kemenangan Islam, dan kejayaan Khilafah adalah keniscayaan. Bila masanya tiba, hanya penyesalan saja yang dirasakan para pembenci Allah, Rasulullah ﷺ, dan kaum muslimin.
“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali..” (TQS An-Nisa’ Ayat 115).
Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengerjakan apa yang telah Allah syariatkan bagi mereka, jika kalian menolong Allah dengan cara menolong Nabi-Nya dan agama-Nya serta dengan memerangi orang-orang kafir, niscaya Allah akan menolong kalian dengan memberikan kemenangan kepada kalian atas mereka dan meneguhkan kaki-kaki kalian dalam peperangan saat menghadapi mereka.(https://tafsirweb.com/9643-quran-surat-muhammad-ayat-7.html)
