Oleh : Amilatul Fauziyah
(Mahasiswa Pendidikan Matematika UM)
Tidak banyak generasi muslim saat ini yang pernah mendengar tentang peristiwa berdarah 25 tahun silam di Eropa, tepatnya Kota Srebrenica. Kota itu menjadi saksi bisu pembantaian pasukan biadab Serbia Bosnia terhadap ribuan kaum muslim. Beberapa hari lalu pada tanggal 11 Juli upacara peringatan genosida Srebrenica dilakukan di tengah kebijakan krantina wilayah. Upacara tersebut disertai dengan pemakaman tujuh korban yang baru-baru ini terindetifikasi. Tragedi yang mengiris hati umat muslim ini disebut sebagai kekejaman terburuk di tanah Eropa sejak Perang Dunia kedua.
Pasukan Serbia mengobarkan perang kepada kaum muslim Srebrenica sejak 1992. Pada tahun 1993, PBB melucuti senjata warga muslim yang bersembunyi di kota itu. Namun, PBB tidak melakukan hal yang sama kepada pasukan Serbia Bosnia, sehingga warga muslim lemah dan terus ditembaki secara brutal. Kemudian pada tahun berikutnya, 1995, mereka diserahkan kepada tentara Serbia oleh PBB. Padahal waktu itu sekitar 20.000 muslim Srebrenica ingin meminta perlindungan kepada batalion Belanda sebagai pasukan perlindungan PBB, tetapi yang terjadi adalah pembunuhan dan genosida terhadap 8000 orang muslim.
PBB yang disebut pasukan penjaga perdamaian melihat pembantaian itu di depan mata mereka dan tidak melakukan apapun. PBB bahkan membantu pasukan Serbia memisahkan muslim laki-laki dan perempuan, membawa paksa mereka untuk kemudian ditembak. Ribuan lainnya dieksekusi dan didorong masuk ke dalam kuburan massal menggunakan buldoser, bahkan banyak anak-anak yang dikubur hidup-hidup. Perempuan muslim diperkosa, diperbudak, dan dihamili secara paksa. Suatu laporan menyebutkan jalanan penuh dengan mayat yang bergelimpangan. Innalillahi... Mantan Sekretaris Jenderal Kofi Annan mengatakan, “Tragedi Srebrenica akan selamanya menghantui sejarah PBB.”
Mengapa harus kaum muslim? Mengapa para pembantai keji itu begitu dengki dan bengis kepada kaum muslim? Siapa sesungguhnya korban dalam peradaban sekuler ini? Memang sejak keruntuhan Daulah Khilafah terakhir, yaitu Turki Ottoman, umat muslim bagai anak ayam yang kehilangan induk. Umat muslim terlantar tanpa rumah hangat yang menaungi dan tidak memiliki pemimpin yang melindungi mereka dari keberingasan musuh-musuh Islam. Lembaga perdamaian ala dunia kapitalisme (baca: PBB) hanyalah perpanjangan tangan penjajah. Bagaimana mungkin PBB diklaim sebagai penjaga perdamaian tetapi pada waktu yang sama melakukan “pengawasan” peperangan?
Realitas keberadaan PBB tidak lain adalah lembaga semu kaki tangan imperialis Amerika untuk menguatkan hegemoninya atas negeri-negeri muslim. Justru PBB dimanfaatkan oleh Amerika dan sekutunya sebagai alat legitimasi kebengisan penjahat untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap kaum muslim. Semua propaganda yang diusung PBB hanya omong kosong, sebagai contoh Hak Asasi Manusia, kesetaraan, dan perdamaian dunia. Tidak layak kita berharap kepada PBB atau mempercayainya sedikitpun.
Dulu ketika Srebrenica berada di bawah naungan Khilafah Turki Ustamani, begitu pula bangsa-bangsa dari berbagai belahan bumi, hidup damai dalam perlindungan khalifah. Bahkan Eropa telah merasakan sendiri pengaruh kemajuan pendidikan dan tatanan negara Khilafah yang tiada bandingannya itu. Sungguh jika ada penjajah yang ingin merampas tanah dan kekayaan milik umat muslim, khalifah tidak akan diam dan seketika mengirim tentaranya untuk berjihad melawan penjajah. Begitulah pemimpin dalam Islam wajib melindungi jiwa semua rakyat yang dipimpinnya. Terbukti bangsa Eropa yang saat itu dominan beragama selain Islam menginginkan hidup di bawah kepemimpinan Islam dan berbondong-bondong masuk ke dalam Islam setelah melihat keadilan pemerintahan Islam.
