By : Nurilam binti Abubakar
(Pegiat Literasi Aceh)
Tepat pada bulan Mei 2020 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memulai gerakan “pernikahan massal” atau penyelarasan antara pendidikan vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja (DUDI). “Tujuan utama dari gerakan ini agar program studi vokasi di perguruan tinggi vokasi menghasilkan lulusan dengan kualitas dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja (antara news, 25/5/20).
Industri dan dunia kerja, mohon bersiap menyambut kami,” Ujar Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kemendikbud, Wikan Sakarinto dalam telekonferensi di Jakarta, Rabu. Ia juga menambahkan target dari program penguatan itu adalah sekitar 100 prodi vokasi di PTN dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) agar melakukan pernikahan massal pada 2020 dengan puluhan bahkan ratusan industri (antaranews.com, 27/5/20).
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, pemerintah memiliki sejumlah peran yakni sebagai pendukung, regulator, dan katalis.
Meski demikian, pemerintah tidak bisa memaksa pihak kampus dan industri untuk saling bermitra lewat regulasi, melainkan dengan berbagai macam insentif untuk berinfestasi di bidang pendidikan, misalnya lewat penelitian. “Perjodohan Massal” antara pihak kampus dan industri dilakukan hingga tahap kontrak rekrutmen mahasiswa di perusahaan, terkait peluang usaha.
(lensa Indonesia, 4/7/20).
Sebelumnya Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dalam sambutannya berpesan, salah satunya agar perguruan tinggi aktif untuk menjalin kerjasama dengan industri, termasuk kawasan industri terdekat. “Kerjasama dengan industri bukan hanya memberikan pengalaman kerja kepada mahasiswa, tetapi perguruan tinggi juga bisa bekerjasama untuk penelitian dan pengembangan teknologi, untuk R dan D (Research and Development) di dunia industri sekaligus pengembangan ilmu murni”(lensaindonesia.com, 4/7/20).
Pemerintah Menjadikan Lembaga Pendidikan Pencetak Tenaga Kerja Bagi Industri ?
Revolusi Industri 4.0 yang digagas oleh pemerintah mengerahkan segala upaya untuk mewujudkannya, salah satunya menjadikan lembaga pendidikan yang berasaskan sekular dan memiliki prinsip “pasar” menyebabkan pendidikan kehilangan ruh dan tujuan.
Saat mereka berada di perguruan tinggi seharusnya menjadikan mereka sebagai intelektual muda yang aktif pada berbagai isu yang terjadi ditengah masyarakat, mereka juga seharusnya dapat menciptakan berbagai inovasi melalui riset yang mampu mengasah daya pikirnya di berbagai bidang yang memungkinkan dapat mengelola hidupnya secara mandiri.
Perguruan tinggi juga sebagai tempat untuk menempa kecerdasan emosional dengan mengikuti berbagai organisasi kampus, sehingga akan memberikan kebaikan pada setiap orang yang sudah berjuang dalam meniti jalan keilmuannya. Suatu keadaan kita melihat berbagai permasalahan moral akan terjadi dimasyarakat, dimana setiap orang yang sekolah hanya berorientasi pekerjaan semata.
Pendidikan di negeri ini bukannya melahirkan manusia beradab, tapi malah menghasilkan berbagai problem “kenakalan”. Prinsip mengikuti “pasar” juga menjadikan pendidikan hanya diarahkan untuk menghasilkan buruh terampil nan murah. Bagaimana tidak, hingga hari ini pendidikan di Indonesia seakan jalan di tempat atau bahkan mundur. Wajah Indonesia di masa depan masih akan melewati hari-hari mendung penuh kegelapan.
Lalu apa solusi untuk memperbaiki wajah bopeng pendidikan di Indonesia?, Tentu yang pertama sekali diperbaiki adalah dari sisi akar konsep pendidikan di Indonesia. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negeri dengan mayoritas muslim terbesar di dunia dan kemerdekaan Indonesia menjadikan Islam sebagai spirit dalam memperjuangkan kedaulatan negeri ini.
Islam dan Sistem Pendidikan
Sistem pendidikan yang paripurna tentu memiliki visi dan misi yang jelas, dimana tidak hanya menghasilkan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan semata, tapi juga menghasilkan individu-individu yang bertaqwa kepada Allah SWT.
Pendidikan akan diselenggarakan dengan dasar akidah Islam yang tercermin pada penetapan arah pendidikan, penyusunan kurikulum yang menjadi dasar kegiatan belajar mengajar.
Pendidikan yang dihasilkan dari sebuah peradaban Islam memang tak akan memberikan dampak buruk bagi intelektual muda, karena tujuan terbentuknya sistem pendidikan dalam Islam selain membangun kepribadian yang Islami, untuk meningkatkan keahlian dalam seluruh bidang kehidupan dengan membangkitkan kecerdasan dan memperbaiki prilaku.
Tujuan ini juga selaras dengan tujuan perguruan tinggi dalam Islam yaitu untuk mencetak para pemimpin umat yang bertaqwa kepada Allah SWT, kompeten dan siap menerapkan Islam, melindungi dan mengembannya ke seluruh penjuru dunia.
Disamping itu, perguruan tinggi juga bertujuan membangun ketahanan negara dari ancaman disintegrasi dan berbagai ancaman lain dari luar negeri.
Sistem pendidikan dalam Islam juga menyediakan sarana dan prasarana, seperti pusat penelitian, laboratorium, perpustakaan dan sarana lainnya sesuai dengan kebutuhan. Perlu kita pahami bersama, bahwa perguruan tinggi dengan program studi apapun tetap akan mengajarkan tsaqafah Islam kepada para mahasiswa, agar kelak ketika mereka menjadi pemimpin benar-benar memahami Islam dan memiliki bekal tsaqafah islam yang mencukupi, sehingga mampu mengurus kepentingan rakyatnya dengan baik, apapun bidang yang ditekuni.
Sistem pendidikan Islam mampu mengangkat derajat pengetahuan manusia sebagai hamba Allah yang tak berorientasi industri semata, namun menjadi insan yang memiliki keilmuan dan akhlak yang menjadi contoh bagi masyarakat, sehingga memiliki kepedulian terhadap permasalahan dilingkungan masyarakat.
Wallahu A’lam Bissahawab.