By : Umi Sari Nadhira
Lampung
Istilah minimalis akhir-akhir ini sangat populer di antara generasi Y dan Z. Lalu apakah itu minimalis? Minimalis adalah perspektif seseorang yang tahu kebutuhan pokok dalam hidupnya, dengan mulai mengurangi kepemilikan barang untuk memberi ruang dalam diri sehingga dapat menekan bahkan menghilangkan rasa stres dan depresi yang dialami.
Istilah ini semakin populer ketika terbit buku yang berjudul “Goodbye, Things on Minimalist Living” ditulis oleh penulis asal Jepang bernama Fumio Sasaki. Dimulai saat sang penulis merasa ada yang kurang pada dirinya, sehingga ia sering membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Kemudian ia mengalami streqs ketika bangun tidur melihat barang-barang yang menumpuk tidak pernah rapi di apartemennya. Hal tersebut membuat Fumio Sasaki mengalami ketidaktenangan dalam hidup sampai mengakibatkan depresi. Pada akhirnya ia memutuskan untuk mengosongkan kamar dan mengurangi barang kepemilikan dan menyimpan barang yang ia pikir memiliki manfaat prioritas.
Dalam bukunya, Fumio menerapkan motto “less is more” dengan berkurangnya barang maka berkurang pula rasa tanggung jawab. Juga membantu untuk mengatasi rasa depresi yang Fumio alami. Sehingga rasa bahagia tumbuh saat berada di apartemen bahkan tempat kerja.
Fumio mengatakan dalam bukunya “minimalist are people who khow whats’s truly necessary for them versus what they may want for the sake of appearance, and they’re not afraid to cut down on everything in the second category.” (Goodbye, things by Fumio Sasaki). Dalam bukunya tersebut Fumio ingin menyampaikan bahwa minimalism tidak selalu soal mengurangi barang dan menyimpan barang sesuai kebutuhan hidup yaitu tidak hanya sekadar tinggal di rumah dengan sedikit furniture dan cat hitam dan putih. Tapi minimalis juga harus dibangun melalui mindset bahwa seseorang harus benar-benar tahu apa yang dibutuhkan bukan seperti apa yang ingin orang lain lihat.
Konsep minimalis ini sangat terkenal dan sukses dianut oleh masyarakat luas bahkan masyarakat di luar Jepang. Banyak orang-orang yang mulai mengikuti gaya hidup minimalis dengan tujuan mendapatkan kebahagian. Namun, tahukah bahwa di dalam Islam konsep ini telah ada jauh sebelum Fumio menuliskan. Sebagaimana Rasululllah sudah menerapkan konsep hidup minimalis dari ribuan tahun yang lalu.
Dalam Islam konsep minimalis dikenal dengan sikap qana’ah dan zuhud. Qana’ah ialah sikap senantiasa merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah dan zuhud ialah meninggalkan sesuatu yang kurang bermanfaat yang akan cenderung menjauhkan ketaatan kepada Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يٰبَنِيْۤ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَا شْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf: 31)
Selain yang demikian, Rasulullah Saw pun senantiasa menampakan gaya hidup sederhana. Beliau hanya memiliki beberapa helai baju dan tinggal dalam rumah sederhana dan tidak bermegah-megahan. Padahal seluruh umat Muslim tahu bahwa Rasulullah Saw adalah seorang utusan Allah dan pemimpin negara, tetapi beliau lebih memilih untuk bersikap sederhana yakni tawadu' dan zuhud.
Namun terkadang masih ada umat Muslim yang gagal paham dengan makna zuhud, dengan menghindari hal-hal yang bersifat duniawi. Tak jarang pula mereka melakukan perbuatan menyendiri di tempat terpencil untuk mengkhususkan peribadatan kepada Allah. Meninggalkan keluarga, termasuk juga tidak perlu bekerja dengan beranggapan kaya adalah menyalahi konsep zuhud. Hal tersebut ditinggalkan karena bersifat duniawi.
Contoh terbaik itu ada pada Islam. Ketahuilah bahwa Rasulullah Saw adalah orang yang senantiasa mengajarkan kepada manusia untuk hidup dengan minimalis yakni zuhud dan senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah Allah anugerahkan.
Oleh karena itu jadilah Muslim yang bergaya minimalis dan maksimalis. Minimalkan kecintaan terhadap dunia dan maksimalkan kecintaan terhadap akhirat (Allah dan RasulNya). Sehingga insyaa Allah akan mencapai kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Wallahu'alam.
