Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mengubah Insecure Jadi Syukur

Saturday, July 18, 2020 | Saturday, July 18, 2020 WIB Last Updated 2020-07-18T11:20:28Z
Oleh: Ainul Ma’rifah

Hari ini dunia media sosial tak ubahnya dunia nyata. Hampir tak ada orang yang tak memiliki akun media sosial, baik itu instagram, faceebook, telegram, whatsApp, twitter, dan seabrek media sosial lainnya. Jika tak memiliki akun media sosial instagram misalnya, tapi memiliki akun media sosial facebook atau sebaiknya. Jika tak gandrung dengan media sosial facebook misalnya, bisa jadi gandrung dengan media sosial twitter atau sebaliknya.

Kondisi kehidupan nyata yang telah beralih ke dunia maya seperti ini, ternyata banyak menimbulkan kondisi insecure pada diri seseorang. Yakni kondisi perasaan yang tidak aman, tidak tenang, gelisah, dan takut akan sesuatu kondisi. Perasaan ini bisa hadir karena banyak hal, misalnya karena merasa bersalah, malu, merasa banyak kekurangan dan tidak mampu. Dan dunia maya ternyata sangat mendukung akan hadirnya perasaan tersebut. Mudahnya seseorang saling berkomentar di dunia maya tanpa harus kenal atau tanpa takut akan menyakiti seseorang semakin membuat kondisi insecure sangat mudah muncul.

Komentar nyinyir seperti, “Ehh, lu sekarang kok gendutan ya”, “Ehh, lu sekarang kok kurusan ya”, “Mbak, sudah 3 tahun menikah kok belum punya anak?”, “Mbak, anaknya banyak amat, ternak anak ya?”, Ihh, sekolah tinggi-tinggi ujungnya jadi ibu rumah tangga.” Dan seabrek komentar sejenis yang berujung kepada bullyan sehingga mengakibatkan kondisi insecure pada seseorang semakin menjadi-jadi.

Jika kondisi bullying ini terus berlanjut, kondisi insecure akan menunjukkan penampakan pada diri seseorang yang mengalaminya. Penampakan ini tergantung dari kekurangan yang membuat seseorang merasa insecure. Dan penampakannya bisa terlihat secara fisik atau psikis. Dari segi fisik terlihat dari cara berpakaian, berbicara, atau gaya biicaranya. Sedangkan dari segi psikis bisa dilihat dari adanya perubahan sikap yang semakin menutup diri. Dan keduanya sama-sama sangat mengkhawatirkan. Jika tidak segera ditangani akan bisa mengakibatkan sampai pada tataran depresi bahkan sampai bisa bunuh diri.

Sangat membahayakan jika sudah sampai pada depresi dan bunuh diri. Sebenarnya jika dilihat dari alasan timbulnya insecure, yakni rangsangannya adalah dari luar. Maka ini adalah wujud dari penampakan salah satu bentuk naluri manusia. Dimana naluri ini adalah fitrah dalam diri manusia. Namun meskipun fitrah bukan berarti “wajar” dan selalu bisa dimaklumi. Lalu bagaimana memposisikannya?

Jadi, setiap manusia itu memiliki potensi kehidupan yang telah Alah karuniakan untuk bisa melanjutkan kehidupannya. Salah satu potensi itu adalah naluri. Ada naluri berkasih sayang, naluri mengesakan sesuatu atau beragama, dan naluri mempertahankan diri. Nah, naluri mempertahankan diri inilah yang apabila dia mendapat rangsangan dari luar seperti diejek, dibandingkan atau diganggu oleh orang lain, maka naluri mempertahankan diri ini akan merespon. Dan respon ini akan memunculkan defensif atau pertahanan diri. Jika pertahanan dirinya positif akan bagus jadinya. Tapi jika pertahanannya negatif maka akan menimbulkan insecure. 

Namun, selain karena fitrah, kondisi insecure ini juga semakin diperparah dengan adanya sistem sekulerisme. Yakni sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga yang menjadi standar kehidupan manusia bukanlah standar bagaimana Allah menilai baik buruk seseorang, tapi standar baik buruk yang digunakan adalah standar manusia.

Contohnya saja, bagaimana menusia hari ini lebih mengutamakan kecantikan di mata manusia dari pada di mata Tuhannya. Berlomba-lomba mempercantik diri secara fisik tapi lupa mempercantik diri secara hati. Lebih pusing baterai handphone habis dari pada baterai iman habis.

Makanya tidak heran banyak bermunculan iklan-iklan kecantikan seperti pemutih, pelangsing, peninggi, pembesar dan seabrak lainnya.

Sebenarnya mempercantik diri itu boleh, tetapi kalau sampai pada tataran bertentangan dengan aturan Islam, maka sebagai seorang muslim kita paham bahwa itu tidak diperbolehkan. Sehingga kita harus tetap mengetahui bagaimana koridor aturan Islam.

Bagi seorang muslim sebenarnya kalimat insecure itu tidak harus ada. Karena apa? Karena kita pahami bersama bahwa Allah mengatakan bahwa kita adalah “sebaik-baik penciptaan”. Sebaik-baik penciptaan dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dimana kekurangan dan kelebihan itu tercipta untuk saling melengkapi dan memahami sesama manusia. Dan Islam memandang standar manusia mulia itu dari segi taqwanya, bukan dari segi cantiknya, cerdanya, kayanya, kedudukannya ataupun yang lainnya. 

Ingatkah kisah nabi Yusuf as. yang karena ketampanan fisiknya dia masuk penjara dan karena ketampanan hatinya dia dibebaskan dari penjara? Ingatkah juga bahwah Rasulullah pernah bersabda bahwa, “Kaya itu di hati dan miski itu di mata?” Artinya bahwa kaya adalah merasa cukup atas apa yang Allah telah anugerahkan kepada kita dan rasa cukup itu adalah bentuk syukur. Sedangakn miskin itu ada di mata, artinya mata kita yang selalu tak pernah puasdan sering membandingkan diri dengan orang lain, sehingga munculah insecure dalam diri.

Lalu, bagaimana agar insecure tak sampai menghinggapi diri kita, atau jika pun ada kita bisa segera menghalaunya? Yang pertama, pahami bahwa kita adalah  hamba Allah yang istinewa, kenapa istimewa? Karena tak ada seorang pun yang sama dengan kita dan Allah sudah mengatakan bahwa kita adalah sebaik-baik penciptaan. Dan kembalikan semua pemahaman pada standar penilaian Allah bukan pada standar manusia, baik maupun buruknya. 

Kedua, jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Syukuri apa kelebihanmu dan mencobalah menjadikan kekurangan menjadi kelebihan. Allah tak akan pernah dzolim kepada hambaNya. Di setiap kekurangan pasti ada kelebihan dan akan ada hikmah yang bisa disyukuri.

Terakhir adalah, hindari TOXIC POEPLE, yakni orang-orang yang selalu menebar kebencian yang suka nyinyir dan tidak bisa menghargai orang lain. Hindari mereka dan berkumpulah dengan orang-orang positif yang selalu membuat kita percaya diri atas apa yang telah Allah karuniakan. Orang-orang yang selalu membuat kita semakin menyadari bahwa Allah sangat sayang pada kita. Sehingga dari sanalah rasa syukur akan mudah tercipta. Wallahua’lam bi ash-showab
×
Berita Terbaru Update