Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ledakan Kasus Covid-19 di Era New Normal

Saturday, July 18, 2020 | Saturday, July 18, 2020 WIB Last Updated 2020-07-18T10:57:25Z
By : Imanda Agustina

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kini telah menembus angka 80.000 orang. Penambahan kasus positif Covid-19 menjadi lebih masif semenjak dilonggarkannya PSBB Juni lalu. Masa transisi menuju new normal life justru menjadikan kasus positif Covid-19 semakin tinggi. Namun, belum ada upaya lebih serius yang dilakukan oleh pemerintah guna mencegah penyebaran Covid-19.

Dilansir dari CNN Indonesia pada Minggu (12/07/2020), Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menyatakan sebagian besar kasus pasien positif virus corona (Covid-19) yang baru ditemukan hari ini kebanyakan berstatus sebagai orang tanpa gejala (OTG). Kemenkes pun menghimbau bagi kasus Covid-19 tanpa gejala yang telah terkonfirmasi positif perlu mematuhi protokol isolasi mandiri dengan ketat.

Kasus tersebut semestinya dianggap serius karena dapat menimbulkan sumber ledakan baru penyebaran Covid-19. Pemerintah tidak mengharuskan orang tanpa gejala (OTG) Covid-19 untuk menjalani isolasi di rumah sakit. Meskipun begitu, tentunya perlu dilakukan pengawasan yang lebih terhadap pasien isolasi mandiri agar menjalankan protokol isolasi dengan benar.

Apalagi World Health Organization (WHO) telah resmi mengeluarkan pernyataan bahwa virus corona dapat bertahan lama di udara. Setelah sebelumnya WHO membantah Covid-19 bisa menular melalui transmisi udara. Kini, WHO mengakui hasil investigasi dari 239 ilmuwan dari 32 negara bahwa virus corona menyebar lebih luas di udara (airborne). Hal inilah yang menjadikan resiko penyebaran Covid-19 lebih cepat dari satu orang ke orang lain dalam ruang tertutup.

Sampai saat ini, belum ada kebijakan antisipasi terbaru dari pemerintah bagi para pegawai BUMN, pekerja kantoran, bahkan PNS yang akan sering bekerja pada ruang tertutup. Semua masih bersifat himbauan yang pada akhirnya kembali kepada kesadaran individu untuk menjalankan protokol kesehatan. 

Mengatasi masalah pandemi tak mungkin bisa hanya mengandalkan individu saja. Pastinya diperlukan tindakan tegas dari pemegang kekuasaan untuk membuat kebijakan yang solutif. Tumpang tindihnya peraturan seakan menunjukkan ketidaksiapan negeri ini mengatasi wabah. Berbagai masalah yang selalu dibenturkan, seperti halnya aspek kesehatan yang dibenturkan dengan aspek ekonomi.

Di satu sisi negara wajib menjamin kebutuhan masyarakatnya, baik dari segi pendidikan, kebutuhan pokok, juga kesehatan. Namun, sekarang sepertinya aspek ekonomi lebih diutamakan daripada keselamatan rakyat. Berbagai kebijakan lebih banyak memihak kepada korporasi. Jika kita mengingat kembali, sebenarnya apakah kebijakan new normal ini adalah untuk rakyat atau segelintir kelompok saja? 

Tentunya semua itu tidak lepas dari sistem demokrasi kapitalis yang sedang diadopsi oleh negeri ini. Bukan menjadi rahasia lagi jika sistem kapitalisme hanyalah memberi keuntungan kepada pihak-pihak yang memiliki modal saja. Mulai dari kelonggaran PSBB sampai pada kebijakan new normal life, sebenarnya hanyalah cara agar para kapitalis tidak menuai kerugian lebih banyak dari kemerosotan ekonomi.

Sistem seperti itu tidak akan mampu membawa kepada kesejahteraan umat. Negara yang seharusnya menjadi pelayan dan pelindung, justru melahirkan kebijakan yang menindas rakyat. Saatnya kita kembali ke sistem Islam yang telah terbukti mampu membawa rahmat, bukan hanya kepada pemeluknya tetapi juga seluruh umat manusia. Sistem yang datang dari Sang Pencipta, bukan dari akal manusia. 

Islam memandang negara sebagai penanggung jawab utama dalam melayani dan melindungi rakyat. Pemimpin pun tak akan berbuat semena-mena karena mereka paham betul jika amanah ini akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat. 

Dalam menangani pandemi maka kebijakan yang diambil pun akan sesuai dengan syariat Islam. Sejak awal khalifah akan segera me-lockdown wilayah yang menjadi sumber utama wabah. Sehingga tidak akan mematikan seluruh aktivitas rakyat. Wilayah lain akan tetap berjalan dengan normal. Negara pun bisa lebih fokus untuk memberi pelayanan kesehatan terbaik. Selain itu juga akan digelontorkan dana untuk riset penelitian mengenai vaksin penyakit.

Berbeda dengan sekarang yang sejak awal sudah salah langkah. Kebijakan yang lebih cenderung pada kepentingan ekonomi, sehingga wabah justru telah menyebar ke seluruh penjuru negeri. Rakyat menjadi semakin tersiksa. Tidak ada jaminan kebutuhan pokok dari negara ditambah lagi sulitnya ekonomi.

Sudah semestinya kita memahami kekacauan yang ada bukanlah hanya sekedar masalah pemimpinnya saja. Tetapi juga akibat dari bobroknya sistem yang tak layak digunakan untuk mengatur kehidupan. Hanya Islam lah satu-satunya sistem kehidupan yang memberi solusi terbaik atas segala problematika umat. Kini saatnya umat bangkit dan bersatu menjemput kemenangan.
×
Berita Terbaru Update