Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Klaster Baru Orang Tanpa Gejala

Monday, July 20, 2020 | Monday, July 20, 2020 WIB Last Updated 2020-07-20T04:57:36Z
Oleh: Endang Seruni
(Ibu Peduli Generasi)


Sejak Corona mewabah di Nusantara, dari hari ke hari jumlah pasien positif terus bertambah. Kurva tidak menunjukan kelandaian namun terus membumbung tinggi.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan covid-19 Achmad Yurianto menyatakan sebagian besar kasus pasien positif covid-19 yang ditemukan saat ini kebanyakan berstatus OTG (Orang Tanpa Gejala).

Para OTG tidak merasakan keluhan dan tidak merasakan sakit apapun meski sudah dinyatakan positif covid-19 (CNN Indonesia,12/7/20)

Sementara menurut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan 66% dari kasus positif baru di DKI Jakarta merupakan orang tanpa gejala (OTG).

Para OTG ditemukan berdasarkan pelacakan kasus secara aktif yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan baik rumah sakit, klinik, maupun puskesmas.
Untuk itu Anies mengingatkan warganya untuk lebih disiplin lagi menjaga diri dari paparan covid-19. Karena Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat 3 kali rekor tertinggi penambahan kasus positif. Penambahan terhitung tanggal 12 Juli 2020 dengan 404 kasus positif dimana sebelumnya terjadi pada tanggal 5 Juli 2020 sebanyak 256 kasus dan 359 kasus pada 11Juli 2020 (Tempo.co,12/7/2020).

Sejak new normal atau kenormalan kehidupan baru diberlakukan, masyarakat merasa bahwa situasi sudah aman. Ibarat burung yang lepas dari sangkarnya, mereka merasa bisa terbang bebas kemana mereka suka. Hingga lupa bahwa di balik kenormalan baru masih harus lebih waspada dari serangan virus yang terus memakan banyak korban. Walau banyak yang dapat disembuhkan namun tidak sedikit jumlah pasien positif.

Dalam Islam kesehatan, keamanan, juga kebutuhan pangan disejajarkan. Ini menunjukan bahwa kesehatan dan keamanan statusnya sama sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.

Ada beberapa cara Islam mengatasi masalah wabah ini. Pertama, edukasi prefentif dan promotor. Islam mewajibkan kaum muslimin untuk beramal ma'ruf nahi munkar yakni menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Pembinaan pola sikap dan perilaku sehat baik fisik, mental, maupun sosial, merupakan bagian dari pembinaan Islam. 

Dengan keimanan yang kuat dan ketakwaan menjadi keniscayaan. Islam memerintahkan kepada setiap orang untuk mempraktikkan gaya hidup sehat. Dan negara mempunyai peran untuk mengedukasi warganya.

Kedua, sarana dan prasarana kesehatan. Pelayanan kesehatan berkualitas hanya bisa di dukung dengan sarana dan prasarana yang memadai serta sumberdaya manusia yang profesional dan kompeten. Untuk menyediakan semua itu adalah menjadi tanggung jawab negara. Pelayanan kesehatan harus diberikan secara gratis tanpa diskriminasi baik orang kaya atau miskin. Pembiayaan diambil dari Baitul Mal baik dari pos harta milik negara atau umum.

Ketiga, membangun sanitasi yang baik. Sanitasi yang buruk menyumbang terjadinya wabah. Tata kota dan ruang yang dilaksanakan akan senantiasa memperhatikan kesehatan, sanitasi, drainase, keasrian dan sebagainya.

Keempat, Karantina wilayah. Wabah menular pernah terjadi di masa Rasulullah. Wabah tersebut adalah kusta yang menular dan belum ada obatnya. Untuk itu Rasulullah menerapkan karantina wilayah yang terkena wabah juga karantina orang yang menderita. Dan orang yang sehat dilarang mendekat.

Kelima, Islam menginpirasi negara menciptakan vaksin. Sementara para penderita diisolasi, para ilmuan juga para dokter terus berikhtiar mengembangkan ilmunya mencari solusi atas wabah yaitu dengan vaksinasi. Hal ini juga ada peran negara di dalamnya. Ini juga dilakukan oleh para dokter-dokter muslim pada zaman pemerintahan Islam Usmaniyah. Sebagai muslim kita patut waspada dan optimis jika setiap penyakit, Allah akan menurunkan obatnya.

Dengan demikian, sekalipun kenormalan baru telah ditetapkan kita harus disiplin dengan protokol kesehatan, begitu pula dari pihak pemerintah yang harus mengedukasi masyarakat hingga mereka memahami betapa bahayanya jika tidak disiplin mengikuti protokol kesehatan. Agar tidak muncul klaster baru seperti orang tanpa gejala. Orang tersebut merasa sehat padahal sejatinya terpapar Corona, sehingga bisa menyebabkan wabah semakin tersebar luas.
Waallau'alam bisshawab.
×
Berita Terbaru Update