Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kembalinya Masjid Aya Sofia, Bukti Nyata Kemenangan Islam Semakin Dekat!

Tuesday, July 21, 2020 | Tuesday, July 21, 2020 WIB
Oleh : Fatya Habibah
(Pelajar, Aktivis Komunitas Remaja Islam Peduli Negeri)

Masya Allah, Tabarakallah, Allahu akbar!! Tak luput dari kuasa Allah, Jum'at kemarin pemerintahan Turki mengembalikan identitas Hagia Sophia sebagaimana mestinya. Sungguh peristiwa yang sangat mengharukan bagi kaum muslim baik di Turki ataupun negeri lainnya, termasuk Indonesia.

Siapa yang tak bergetar, setelah penantian lebih kurang 85 tahun, kini Adzan kembali dikumandangkan sebagai tanda bahwa Hagia Sophia bukan lagi sebuah museum, melainkan sebuah Masjid kebanggaan Umat Islam.

Dilansir dari Republika.co.id (11/07/20), Hagia Sophia sendiri dulunya adalah sebuah katedral pertama yang dibangun pada tahun 360 M pada masa pemerintah kaisar Konstantius II oleh uskup Eudexius dari Antioka. Gereja dibangun disebelah istana byzantium. Pada 7 Mei 558 M, di masa kaisar justinianus, kubah sebelah timur runtuh terkena gempa. Kemudian, pada 26 oktober 986 M pada masa pemerintahan kaisar Basil II juga kembali terkena gempa. Akhirnya pada awal abad ke-14 M direnovasi secara besar besaran agar tidak tidak terkena gempa kembali. Keistimewaannya terletak pada kubahnya yang besar dan tinggi. Ukuran tengahnya 30 meter, tinggi dan fundamentalnya 54 meter. Interior pun dihiasi mosaik dan fresko, tiang tiangnya terbuat dari pualam warna - warni dan dindingnya dihiasi ukiran. Atas kebesaran Allah dan kegigihan seorang pemuda muslim yang pantang menyerah, dengan izin Allah Konstantinopel ditaklukkan oleh pasukan kaum muslimin pada 29 Mei 1453, dipimpin langsung oleh pemuda yang bahkan tahajjud tak pernah tinggal, ialah Sultan Muhammad Al Fatih 1453.

Namun, ratusan tahun setelahnya muslim gagal untuk mempertahankan situs peninggalan sejarah Islam yang begitu susah diperjuangkan, sebab keruntuhan Daulah Khilafah Utsmaniyah oleh seorang laknatullah, yang kini dikenal sebagai Bapak Kapitalis modern, Mustafa Kemal Attaturk.

Hingga pada kisaran tahun 1935 M, Mustafa menjadikan Masjid Aya Sofia sebagai museum sejarah di Istanbul. Bahkan UNESCO pun telah mencatat Hagia Sophia sebagai salah - satu museum sejarah modern di dunia.

Puluhan tahun berlalu, sejarah kembali terulang. Namun, bukan sebagai bukti kekalahan lagi, melainkan tanda-tanda bahwa kemenangan Islam semakin terasa. Meskipun, banyak pihak yang tak setuju dengan keputusan pemerintahan Turki ini yang dianggap membatasi Hagia Sophia hanya untuk muslim padahal dulunya setiap orang bebas berkunjung, misalnya Gereja Ortodoks Russia dan Amerika Serikat.

Namun, presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan tetap kekeuh dengan keinginannya sebelum menjabat sebagai presiden, yakni mengembalikan identitas Hagia Sophia sebagai masjid kembali. "Pengambilan keputusan Hagia Sophia adalah hak negara Turki, bukan yang lain. Ini adalah urusan internal kami," koar Erdogan kepada Kriter.

Dikutip Anadolu, Minggu (12/07/2020), dia menekankan setiap negara harusnya menghormati negaranya, dan menjelaskan mengapa dia mengambil langkah yang menjadi sorotan itu.

"Mereka yang tak mengambil langkah dalam mengatasi Islamophobia di negaranya menyerang Turki yang ingin menggunakan hak kedaulatannya," ujar Erdogan dalam sebuah seremoni lewat konferensi video pada Sabtu seperti dilansir Aljazirah.

Selain karena Erdogan sudah sejak lama ingin mengubah status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid, menurutnya Hagia Sophia ini merupakan situs warisan dunia yang harus dipertahankan mengingat perjuangan Sultan Mehmet (Muhammad Al Fatih II) dalam penaklukan konstantinopel (Istanbul) dan mengubah sebuah katedral didalamnya menjadi masjid yang tersohor dimasanya, yaitu masjid Aya Sofia. 

Maka dari itu, kecaman dari internasional tak membuatnya mundur dan ia berulangkali menegaskan status Hagia Sophia yang juga warisan Unesco ini adalah urusan Turki.

Keinginan Erdogan mengubah Hagia Sophia menjadi masjid terwujud setelah pengadilan mencabut keputusan status museum yang disematkan pada 1934 ketika Kemal Attaturk berkuasa pada Jumat lalu. Setelah putusan itu ia langsung mengeluarkan dekrit bahwa Hagia Sophia tak lagi di bawah Menteri Kebudayaan, namun di Kementerian Urusan Agama. (Republika.co.id Minggu, 12/7/2).

Meskipun hingga hari ini pihak yang tak menyetujui semakin banyak,  namun dukungan penuh dari para ulama, ormas Islam dan kaun muslimin diberbagai belahan dunia juga tak kalah besar. 

Sebab, kini ummat sadar bahwa peristiwa mengharukan ini tak lain dan tak bukan adalah jalan menuju pembebasan-pembebasan besar selanjutnya, yakni pembebasan masjid Al - Aqsha di Palestina. 

Lebih dari itu, kembalinya masjid Aya Sofia ini juga merupakan bukti kecil yang akan membuka mata mereka yang selama ini menyangkalnya, jika kemenangan Islam itu sebentar lagi akan kita raih. Janji Allah itu pasti, dan tak ada satupun yang mampu mengingkarinya. 

Maka sebagai kaum Muslim, marilah mengambil bagian dalam perjuangan. Allahu Akbar!!

Wallahu a’lam bish-showab.
×
Berita Terbaru Update