Oleh: Eno Fadli
(Pemerhati Kebijakan Publik)
Lonjakan kasus covid-19 semakin mengkhawatirkan karena didapatinya beberapa temuan baru penyebab dari lonjakan tersebut. 239 ilmuan dari 32 negara dalam riset mereka yang bertajuk It is Time to Address Airborne Transmission of Covid-19, mereka membuktikan bahwa penyebaran virus-19 bukan saja ditularkan melalui cipratan dari orang yang batuk, bersin ataupun berbicara (Droplet). Tetapi penularannya juga bisa disebabkan partikel-partikel yang lebih kecil yang melayang di udara selama berjam-jam setelah orang batuk, bersin, atau berbicara, hal ini juga dapat menginfeksi orang-orang yang menghirupnya (Kompas.com, 07/07/2020).
Sebagian kasus juga diakibatkan dari orang-orang telah terpapar Corona tapi tidak memiliki gejala bahwa meraka telah terinfeksi Covid-19 atau yang sering disebut orang tanpa gejala (OTG).
Terbukti dengan ditemukannya ribuan siswa-siswi Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD) telah terpapar virus Covid-19. Terkonfirmasi 1.280 orang positif Covid-19 yang diantaranya 991 merupakan siswa dan 289 orang staf Secapa AD beserta keluarganya (IDNTimes.com, 12/07/2020).
Gambaran di atas membuktikan bahwa penyebaran virus Covid-19 haruslah ditanggapi dengan serius dikarenakan temuan kasus baru yang menjadikan generasi millenial menjadi klaster baru dari penyebaran virus ini, disebabkan kebanyakan dari mereka tidak merasakan gejala telah terinfeksi dan pada akhirnya menyebarkannya ke publik. Tidak bisa dipungkiri mereka kaum millenial ini tidak kuat menahan rasa jenuh karena terus berdiam diri dan terkadang mengabaikan protokol kesehatan dikarenakan merasa aman dari virus. Tentunya ini memperparah penyebaran virus Covid-19.
Di sisi lain dengan diberlakukannya New Normal Life, dianggap perlu adanya PSBB transisi yaitu dengan memberikan kelonggaran kepada masyarakat untuk beraktifitas kembali ditandai mulai dibuka kembali sarana-sarana umum yang tadinya ditutup seperti perkantoran, mall, bioskop, tempat-tempat pariwisata dan bahkan moda transportasi umum, ini harus sesuai ketentuan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.
Dengan dibukanya sarana umum ini memunculkan kekhawatiran akan terjadi lonjakan yang signifikan terhadap kasus virus covid-19, dikarenakan penyebab penyebaran virus covid-19 bukan saja dari para OTG tapi juga bisa ditularkan oleh udara. Antisipasi yang kurang dari pemerintah terhadap situasi ini ditandai dengan pemerintah hanya mengandalkan kesadaran individu dan kehati-hatian masyarakat.
Tentunya ini tidaklah cukup, mengingat kasus ini merupakan pandemi yang tidak akan putus penyebarannya karena kesadaran semata dari masyarakat tanpa ada langkah kongkret dari pemerintah untuk menghentikannya.
Di samping itu, pemerintah juga seperti menyepelekan para OTG, karena para OTG ini hanya diminta melaksanakan karantina diri disebabkan tidak ada indikasi untuk mereka dirawat di rumah sakit karena mereka sama sekali tidak ada merasakan keluhan apapun meski telah dinyatakan positif Covid-19.
Dari situasi ini bisa kita lihat, rapuhnya pengurusan urusan rakyat pada pemerintahan yang berideologikan kapitalis. Pemerintahan kapitalis dalam menghadapi urusan rakyat kala pandemi hanya berkutat pada mengotak-atik kebijakan tanpa langkah pasti dalam menghadapi kondisi yang ada.
Sedangkan untuk mengatasi pandemi haruslah diambil langkah karantina wilayah (Lockdown), dan ini dilakukan secara serentak mengingat pandemi ini sudah menyebar kemana-mana. Dan negara juga berkewajiban memberikan pengobatan kepada mereka yang sudah terpapar virus, karena masalah kesehatan rakyat juga merupakan tanggung jawab negara.
Langkah-langkah ini merupakan cara efektif memutus mata rantai penyebaran wabah yang pernah diterapkan Amirul Mukminin Umar bin Khatab ra, bukan hanya sekedar himbauan mematuhi protokol kesehatan dan meminta kesadaran masyarakat akan kondisi yang ada, tetapi juga dengan penanganan khusus, tepat dan cepat agar tidak lagi bertambah korban. Terlebih lagi melihat kasus baru yang terjadi kaum millenial menjadi klaster baru dari penyebaran covid-19 dan ini tentunya akan memperparah kondisi yang ada.
Wallahu a’lam bishshowab
