Oleh : Nurhalidah Muhtar
Kebijakan Pemerintah dalam menanggulangi wabah Covid-19 menuai kritikan dan protes dari berbagai pihak. Mulai dari masyarakat awam hingga para ulama. Kebijakan yang diterapkan dinilai berat sebelah. Dimana kebijakan PSBB ini hanya diberlakukan kepada hal-hal tertentu yang tidak menguntungkan nilai bisnis mereka, sedangkan dilain hal kebijakan PSBB ini dilonggarkan. Contohnya saja sholat jumat, sholat berjamaah, tarawih, kajian keagamaan, dll. ditiadakan. Namun di pusat-pusat perbelanjaan, bandara, pelabuhan, dan tempat hiburan masih dibuka tanpa memperhatikan protokol penanganan Covid-19.
Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (Sekjen MUI) Anwar Abbas mempersoalkan sikap pemerintah yang tetap melarang masyarakat berkumpul di masjid. Anwar mempertanyakan, mengapa pemerintah tidak tegas terhadap kerumunan yang terjadi di bandara.
"Tapi yang menjadi pertanyaan, mengapa pemerintah hanya tegas melarang orang untuk berkumpul di masjid. Tapi tidak tegas dan tidak keras dalam menghadapi orang-orang yang berkumpul di pasar, di mal-mal, di bandara, di kantor-kantor dan di pabrik-pabrik serta di tempat-tempat lainnya," kata Anwar Abbas dalam keterangan tertulis. (detiknews, 17/5/2020).
Kritikan juga datang dari Anggota Komisi Agama DPR RI John Kennedy Azis mengkritik pemerintah yang tidak konsisten dalam menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di tengah pandemi virus corona (Covid-19).
John menyebutkan sejumlah video di media sosial yang menayangkan pusat perbelanjaan atau mal disesaki pengunjung. Sementara tempat ibadah tetap dibatasi. (CNN Indonesia, 12/05/20).
Kebijakan tebang pilih seperti ini menggambarkan kepada masyarakat bahwa kecepatan penyebaran Virus ini melonjak hanya pada kerumunan orang pada tempat peribadatan. Sedangkan ditempat keramaian lainnya minim penyebarannya. Padahal faktanya Covid-19 rawan penyebarannya ditempat-tempat yang dipadati oleh keramaian orang, baik dimesjid, tempat hiburan, bandara, pelabuhan, pusat perbelanjaan, dll.
Alhasil kebijakan yang diterapkan sangat berseberangan dengan keinginan Pemerintah sendiri dimana ingin memutuskan dan mengurangi rantai penyebaran Covid-19. Akibat dari ketidakjelasan ini membuat masyarakat bingung dan hidup dalam bayang-bayang Covid-19.
Kebijakan ini juga sekaligus menggambarkan bahwa Pemerintah saat ini adalah Pemerintah yang tidak konsisten terhadap apa yang diucap dan diterapkannya. Sebab setiap kebijakan yang diterapkan dipilih-pilih dan dipangkas sedemikian rupa sesuai dengan keinginan dan manfaat yang mereka peroleh. Hal ini didukung oleh sistem yang diterapkan dinegeri ini. Sistem Kapitalisme Sekular yang memisahkan antara kehidupan dan Agama. Dalam Penutupan mesjid ada alasan bisnis dibaliknya sebab mesjid tidak memberikan keuntungan terhadap negara dan pengusaha. Karena tempat peribadatan tidak dipajaki oleh negara. Beda halnya dengan tempat-tempat publik lainnya yang dipajaki oleh negara dan memberikan ruang untuk meraih keuntungan para pengusaha dan pemilik modal. Maka sudah seyogyanya pemerintah memberikan kelonggaran PSBB. Hidup dalam bingkai Kapitalisme nilai materi lebih mulia daripada nilai nyawa manusia.
Maka Pemerintah seharusnya menyadari bahwa kebijakan sejenis ini tidak mengantarkan pada solusi melainkan melahirkan persoalan baru (gejolak rakyat) bagi negeri ini. Rakyat mana yang tidak geram terhadap kebijakan yang mengekang salah satu pihak. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi bom waktu pembangkangan massal karena adanya diskriminasi kebijakan seperti ini.
Maka sudah seharusnya para ulama lebih menajamkan lagi pandangannya terhadap kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah beserta dengan antek-anteknya dan lebih lantang lagi dalam menyuarakan aspirasi umat yang menjerit akibat kebijakan zalim yang diterapkan oleh rezim kapitalis. Dengan adanya wabah ini juga menjadi jembatan bagi ulama untuk menyadarkan umat untuk kembali kepada syariat islam. Mengajak umat menyelesaikan setiap masalah yang terjadi disetiap sudut kehidupan dengan solusi islam termasuk dalam menyelesaikan wabah ini. Sistem islamlah yang menjadi satu-satunya sistem yang mampu memanusiakan manusia. Yang aturannya bukan dari pangkasan tangan-tangan jail manusia. Melainkan langsung dari Sang Khalik. Wallahu a’lam bish-showab.

No comments:
Post a Comment