Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Selamatkan Anak Bangsa dari Gadget

Monday, June 01, 2020 | Monday, June 01, 2020 WIB Last Updated 2020-06-01T15:41:00Z
Oleh : Sri Rahmawati

Sebagian orangtua merasa bangga dan keren bila mampu menyediakan fasilitas hiburan bagi buah hatinya, satu per satu anak-anaknya dibekali handphone, hingga televisi dan play stations di kamarnya masing-masing. Apabila tidak ada uang maka ngutang pun jadi, atau bahkan minta dari saudara. Orangtua menjadi minder dan tidak tega melihat anak kesayangannya tidak bergadget, takut dibilang orangtua jadul enggak gaul alias tidak uptodate bin primitive.

Mengawali tulisan ini, saya ingin memaparkan fenomena orangtua zaman now yang mewujudkan bukti cintanya kepada anak dengan cara yang keliru, justru banyak memberikan dampak negatif bagi anak di dunia maupun akhiratnya. 

Ada seorang ibu yang hendak mengeluarkan zakanya, bingung kemana disalurkannya, akhirnya pikirannya tertuju pada keluarga dhuafa yang sudah lama ia kenal. Setelah beberapa hari diserakhan zakat tersebut dalam bentuk uang yang lumayan besar jumlahnya, si ibu tersebut penasaran menanyakan kepada sang penerima zakat itu, sudah digunakan untuk apa uang tersebut. Alangkah sedihnya si ibu setelah mengetahui uang zakat itu ternyata dihabiskan semuanya membeli handphone untuk anaknya, dengan alasan karena anaknya malu tidak seperti anak-anak yang lain. Lalu untuk memenuhi semua kebutuhan pokok keluarga, mereka kembali ngutang sana sini untuk memenuhinya. Sekarang gadget tidak hanya dimiliki orang berduit, bahkan orang yang kekurangan dari segi materi pun sangat memperjuangkan gadget bukan untuk tujuan yang penting. Duuh sedih memang, mungkin akan lebih bermanfaat kalau kita berbagi dalam bentuk barang atau kebutuhan pokok.

Di tempat lain, Ada orangtua yang rela tidak punya handphone karena diserahkan kepada anaknya, gara-gara anaknya ngamuk mengancam akan bunuh diri kalau tidak dikasih handphone. Peran orang tua sungguh lemah, tidak mampu mengendalikan emosi anak dan kalah akan ancamannya karena tidak ada wibawa sama sekali di hadapan anak. 

Lebih miris lagi, gara-gara orangtua merasa terganggu karena anak-anaknya minta didongening, minta diajak bermain, dan segudang permintaan lainnya, akhirnya dibelikanlah handphone untuk si anak. Alhasil pemandangan di rumah sehari-hari, orang tua dan anak masing-masing anteng dengan handphonenya.

Banyak kita temukan moment kumpul keluarga zaman sekarang pun terasa lebih hening, dari mulai balita hingga orangtua jarang bertegur sapa karena obrolan keluarga tidak lebih seru dari obrolan di dunia maya (media sosial). Sering kita temukan ya kondisi seperti ini, orangtua membiarkan masing-masing anaknya mojok menyendiri bahkan bersembunyi di dalam kamar tengah asyik memainkan gadgetnya. Naah kalau lagi kumpul keluarga, yang seru adalah moment bagi-bagi uang, sesekali coba tanya deh terutama ke anak-anak, itu uang yang didapat digunakan untuk apa, bisa jadi dikumpulin buat beli kuota agar bisa asyik kembali bermain youtube. 

Lebih parah lagi di masa wabah pandemi saat ini, justru stay at home membawa dampak buruk dalam keluarga apabila orangtua abai mengontrol anaknya dalam penggunaan gadget. Justru saat pandemi ini tayangan berbagai film terutama drama Korea sangat mudah dicari dan digandrungi oleh segala usia. Kadang bisa kompakan antara orangtua dan anak sama-sama menggemari drakor, mudah-mudahan tidak terjadi pada keluarga kita. Nonton film itu boleh, kita manfaatkan hobi nonton ini dengan tontonan yang islami, syarat hikmah, dan bisa membangun akhlak yang baik bagi penikmatnya.

Masa stay at home ini, ada juga orangtua yang sengaja memfasilitasi anak selain gadget juga play stations dengan layar tivi yang besar biar puas main games nya, ada juga orangtua yang iseng download banyak games untuk anaknya, tidak peduli dengan dampak bahayanya.Parahnya. Akhirnya barengan tuh orang tua dan anak pada main game online.

Demikianlah, sedikit kisah nyata yang bisa saja terjadi di dalam keluarga kita atau lingkungan sekitar. Masih banyak bahaya ekstrim lainnya akibat orangtua abai mengontrol penggunaan gadget kepada anak. Gara-gara gadget, anak bisa lalai beribadah (mengingat Alloh), lalai belajar, anak jadi menyia-nyiakan waktu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 “Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia menjadi tertipu, yaitu: sehat dan waktu luang.” (Hr. Bukhari, no. 6412). Hadits ini merupakan hadits pertama dalam Kitab Raqa’iq dari Shahih Bukhari. Maknanya, barangsiapa yang memanfaatkan kesehatan dan waktu luang pada hal-hal yang dapat mendatangkan kebaikan maka akan beruntung. Dan barangsiapa yang memanfaatkannya untuk hal-hal selain itu maka ia tertipu dan rugi. 

Karena gadget juga anak bisa jadi pemarah, anak bisa menjadi candu pornografi dan pornoaksi (terjebak dalam pergaulan bebas), hingga  anak menjadi pembunuh atau bunuh diri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai sedangkan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang berbau syahwat”. (Hr. Bukhari, No. 6478 dan Muslim, No. 7130 dengan lafazhnya).

Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Shahih Muslim (hadits no. 6754) yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
“Telah ditentukan atas anak Adam (manusia) bagian zinanya. Ia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari. Zina kedua mata adalah memandang, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah memegang (wanita yang bukan mahram), zina kaki adalah melangkang, zina hati adalah berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakan semua itu.”

Fitnah yang ditimbulkan gadget sangatlah besar dan berbahaya berhubung ia ada dalam genggaman orang dewasa maupun anak kecil; ada di rumah mereka siang dan malam.  Apalagi jika sudah kecanduan. 

Dari segi kesehatan, bahaya gadget  bila dimainkan dengan intensitas yang tinggi dapat menurunkan kemampuan mata hingga menyebabkan kebutaan, maka hilanglah nikmat mata. Selain itu menyebabkan buta hati, yaitu berbagai penyakit syahwat yang dapat merusak akhlak dan penyakit syubhat yang dapat merusak akal. Alloh SWT berfirman : “Sebab, bukanlah mata yang menjadi buta, tetapi hati yang ada di dalam dadalah yang menjadi buta” (Qs. Al Hajj: 46).

Adalah berbahaya jika anak dan remaja sebagai mutiara penerus generasi, dibiarkan diam terlena oleh gadget. Terlebih konten yang ada di dalamnya tak mendidik. Game online misalnya, banyak sekali disusupi aroma pornografi dan pornoaksi yang terbukti merusak akal. 

Fenomena demikian bisa tumbuh subur tak lain karena kecanggihan teknologi tak diiringi dengan keimanan. Sehingga teknologi dikembangkan tak mengenal batasan nilai dan norma yang semestinya dijaga demi kebaikan manusia. 

Standar keuntungan materi menjadi yang tertinggi yang harus dicapai, tanpa memandang baik buruknya dampak bagi kehidupan. 

Apalagi sasaran utama konsumen produk game online adalah anak-anak dan generasi muda, yang pada faktanya sedang mengalami perkembangan otak yang signifikan. 

Terbayang sudah dampak luar biasa semacam genosida generasi, jika hal tersebut dibiarkan tanpa solusi. Anak-anak dan pemuda dirusak sejak dini. Hingga tak mampu lagi diajak berpikir serius, dan cemerlang tentang kondisi umat yang kini mengalami berbagai permasalahan.

Maka apa solusinya?
Pertama, orang tua harus tahu bagaimana cara menjaga dan mendidik anak-anaknya. Rasa sayang dan cinta tidak diukur dengan memberi mereka materi. Mainan mahal, pakaian bagus atau makan enak bukan hal penting yang harus mereka dapatkan. Apalagi HP mahal yang diberikan pada anak yang belum mengerti kegunaan HP. Ini tentu tidak tepat.

Yang dibutuhkan anak adalah dididik dan diarahkan. Terlebih untuk anak yang masih belum baligh. Maka penguatan akidah dan memberi pemahaman tentang ilmu agama ini menjadi sesuatu yang sangat penting ditamankan pada anak. Sehingga ketika mereka keluar dari rumah, mereka tahu mana yang baik dan buruk. Mereka punya imun yang akan menjaga mereka dari penyakit sosial yang ada di lingkungan masyarakat.

Selain itu, temani anak bermain. Beri mereka perhatian dan kasih sayang. Sehingga mereka betul-betul merasakan kehadiran kita. Simpan dulu HP dan segala hal yang bisa menghalangi kedekatan kita dengan anak.

Penggunaan gadget sendiri akan menjadi mudhorot apabila digunakan selain untuk komunikasi yang mubah dan menimba ilmu yang bermanfaat. Berilah pengertian kepada anak jikalau orangtua belum bisa menyediakan gadget, sampaikan bukti sayang kita sebagai orangtua dan bahayanya apa saja dari handphone itu sendiri. 

Kepedulian para ayah dan siapa saja yang mempunyai kekuasaan khusus terhadap keselamatan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab mereka dari penyalahgunaan ponsel (untuk tujuan buruk) adalah wajib ‘ain berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla:
يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At Tahrim: 6) 
Kedua, masyarakat yang peduli terhadap generasi. Mereka tidak akan membiarkan kerusakan merajalela. Media yang selalu menyebarkan konten islami, memiliki andil untuk mendidik generasi. Maka mereka tidak hanya mengedepankan materi, tapi justru selalu berpikir untuk kemajuan dan kebaikan generasi. Sebab masa depan negara dan dunia, ada di tangan mereka.

Begitu juga masyarakat pada umumnya yang senantiasa beramar ma'ruf nahi munkar, akan sangat membantu terciptanya lingkungan sehat yang penuh dengan spirit Islam.

Ketiga, pemerintah membuat aturan yang jelas untuk membatasi kerja media. Pemerintah tidak boleh membiarkan media seperti pornografi dan pornoaksi bertebaran dengan seenaknya. Apakah bisa? Tentu saja. Sebagaimana mereka mampu memblokir website-website islami beberapa tahun lalu. Maka bukan hal yang sulit juga seharusnya mereka memblokir setiap media yang memiliki andil untuk merusak generasi.
IWallohu a’lam bish showab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update