By : Yanti Mursidah Lubis
Ibu Rumah Tangga
Tren Dunia akibat kematian Covid-19 semakin mengkhawatirkan. Walaupun ada beberapa negara yang mulai melandai grafiknya, bahkan sudah tidak ada kasus baru, namun sebagian besar negara-negara di dunia masih menunjukkan tren yang meningkat. Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona atau COVID-19 Achmad Yurianto, mengatakan, terhitung sejak 22 Mei 2020 pukul 12.00 WIB hingga 23 Mei 2020 pukul 12.00 WIB, kasus positif mengalami kenaikan sebanyak 949 orang. "Gambaran inilah yang kita dapatkan bahwa penularan masih saja terus terjadi. Oleh karena itu, pesan pemerintah soal COVID, tolong ikuti dengan baik," kata Yuri dalam keterangan persnya yang disiarkan langsung dari channel YouTube BNPB Indonesia, Sabtu (23/5).
Kalau kita lihat bagaimana pemerintah yang terkesan lamban dalam mengatasi pandemi ini bikin kita nyesek, tampak sekali rezim pemerintah kian tak peduli dan kehilangan rasa empati. Mereka seolah ingin lepas tangan dari kewajiban mengurus rakyat terutama yang terdampak wabah.Tak heran jika ada yang berpandangan, rezim hari ini sesungguhnya sedang berdiri di sisi kepentingan kapitalisme global. Karena roda ekonomi yang sedang coba kembali diputar hakikatnya adalah roda ekonomi kapitalisme global. Bukan roda ekonomi rakyat yang di situasi wabah semestinya jadi tanggungan pemerintah.
Islam memposisikan rakyat sebagai amanah yang harus diurus penguasa. Karena memang keberadaan penguasa semata untuk menyelesaikan permasalahan umat. Jika terjadi pandemi, tentu fokus penyelesaian pada keselamatan nyawa. Ekonomi pun jika landasan awalnya untuk kemaslahatan umat, maka akan terlahir kebijakan-kebijakan ekonomi yang mengutamakan keselamatan nyawa manusia.
Tiga prinsip Islam dalam menanggulangi wabah antara lain:
Pertama, jika terjadi wabah maka penguncian area yang terkena wabah harus dilaksanakan sesegera mungkin. Kebijakan ini serupa dengan kebijakan lockdown atau karantina wilayah. Sehingga seluruh kebutuhan pokok umat dipenuhi negara. Wabah pun akan cepat mereda. “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar rumah.” (HR Muslim)
Kedua, Isolasi yang sakit. Jika ada penyakit yang menular, maka wajib bagi pasien yang terjangkit melakukan isolasi. Baik itu isolasi mandiri ataupun ditangani tenaga medis.
Di sini dibutuhkan kesadaran masyarakat sebagai garda terdepan dalam memerangi wabah ini. Sehingga tenaga kesehatan sebagai garda terakhir tidak akan mendapatkan beban yang begitu berat. Kematian para nakes pun akan bisa dihindari.
Kesadaran yang dilandasi oleh keimanan akan menghasilkan amal yang produktif. Artinya, masyarakat yang memahami bahwa Islam harus dipakai dalam kehidupannya, mereka akan melakukan social distancing dengan maksimal. Karena mereka memahami bahwa hal demikian adalah bentuk ikhtiar dalam kesembuhan yang merupakan perintah Allah Swt. “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR Imam Bukhari Muslim).
Ketiga, pengobatan hingga tuntas. Bagaimana pun, nyawa manusia lebih berharga dibanding dunia dan isinya. Maka pengobatan harus maksimal dan ditunjang dengan sistem kesehatan yang baik. Fasilitas rumah sakit akan prima, APD mumpuni, tenaga medis yang banyak dan berkualitas, juga pendanaan yang sehat.
Sungguh sayang, sistem kesehatan di negeri ini pun tak lepas dari cengkeraman korporasi. Alih-alih menggratiskan pelayanan kesehatan, Indonesia malah menaikan iuran BPJS. Sangat minim empati! Oleh karena itu, jika kita menginginkan permasalahan pandemi ini berakhir, selain berikhtiar untuk menjaga diri dari virus, juga harus dibarengi dengan ikhtiar menerapkan Islam secara kaffah, karena hanya dalam sistem Islamlah seluruh masalah akan tuntas diatasi.
Wallahu’alam Bi Shawwab.
No comments:
Post a Comment