Oleh : Sri Rahmawati
Tidak sedikit para bunda yang mengeluh kegalauan tingkat tinggi saat dilanda pandemi. Salah satunya saya, ibu rumah tangga yang terpaksa banting setir dari kebiasaan doyan rebahan berjam-jam di sofa ketika semua anak-anak bersekolah seharian, menjadi guru dadakan yang ala kadarnya namun dipaksa harus serba bisa. Pasrah dengan keadaan, menjadi guru yang tanpa pelatihan, tanpa persiapan, tanpa liburan, dan tanpa bayaran, akhirnya mau tidak mau terus diterpa pelajaran ikhlas dari Sang Pencipta. Bayangkan, sudah tiga bulan ini anak-anak bahkan suami pun full ‘stay at home’ membersamai bundanya di rumah, justru ini bukannya memberi ketenangan pada bunda, malah sebaliknya, hiks ...mungkin ini terjadi pada saya saja, tidak pada bunda-bunda yang lain.
Anak-anak sudah besar dan bersama saya dari sejak mereka lahir, namun Maasyaa Alloh, pandemi ini memberikan sejuta hikmah yang belum pernah saya rasakan, segala kekurangan anak-anak, seperti ketidakdisiplinan, ketidak mandirian, kemalasan dan kenakalan yang ada pada diri ke empat anak-anak saya baru Alloh tampakkan semuanya, membuat saya kaget sendiri. Yaa Robb, kemana saya selama ini, hanya sibuk dengan urusan orang lain dan urusan dunia. Saya merasa mereka tidak seperti apa yang saya harapkan. Mungkin selama ini saya terlalu banyak menuntut ini dan itu kepada anak agar menjadi sholeh, tanpa mendidik mereka sesuai dengan ajaran Alloh dan rosulNya. Faktor minimnya ilmu agama yang saya miliki sebagai orangtua adalah penyebab utamanya.
Apakah saya harus pasrah begitu saja? Ah mungkin ini sudah takdir anak-anak saya seperti itu, tanpa ada ikhtiar untuk move on. Saya menyadari bahwa selama ini telah menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anak kepada guru mereka di sekolah. Sekarang mau sekolah bagaimana, semua ditutup, nah lho bingung sendiri. Apa anak-anak dibiarkan begitu saja hanya cukup dengan pelajaran online yang entah sampai kapan. Orangtua bisa stres kalau yang dipikirkan hanya seputar kapan pandemi berakhir dan kapan sekolah dibuka kembali. Walau dalam keadaan apapun, anak-anak harus mendapat pendidikan yang baik.
Ternyata pemahaman saya yang salah tentang pendidikan anak itu diserahkan kepada sekolah, dan orangtua hanya menuai hasil. Ketika anak berhasil maka orangtua bangga tetapi ketika gagal maka sekolah disalahkan.
Padahal dalam Islam pendidikan terhadap anak adalah kewajiban kedua orangtuanya, sekolah hanya membantu, sementara tetap tugas utama mendidik anak adalah kedua orangtuanya. Tugas pengasuhan itu adalah ibu kandungnya.
Inilah yang akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah terhadap pendidikan anak kelak, yaitu orangtuanya, bukan sekolah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memikulkan tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada kedua orang tua. Dari Ibnu radhiallahu ‘anhu, bahwa dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278).
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,
“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123).
Orang tua yang berusaha keras mendidik anaknya dalam lingkungan ketaatan kepada Allah, maka pendidikan yang diberikannya tersebut merupakan pemberian yang berharga bagi sang anak, meski terkadang hal itu jarang disadari. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Hakim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim: 7679)
Pernah datang dihadapan Umar bin Khattab seorang ayah yang menyeret anaknya meminta agar Umar memberikan hukuman untuk anaknya yang durhaka. Kemudian anak itu tidak terima dan mengatakan kepada Umar bahwasanya ia durhaka gara-gara ayahnya. Lalu Umar bertanya kenapa bisa begitu. Anak itu menjelaskan bahwa penyebab ia durhaka adalah: pertama bahwa ayahnya telah memilihkan seorang ibu yg buruk yg mendidik dan mengasuh dengan keburukan, yang kedua Ayahnya memberikan nama yang buruk, yang ketiga adalah Ayahnya tidak memberikan pendidikan Islam untuknya.
Umar pun lalu berkata kepada sang ayah itu, "Sebelum anakmu durhaka maka engkau telah menjadi Ayah yang durhaka"
Pendidikan terhadap anak itu penting dan itu kewajiban yang melekat pada kedua orangtuanya ketika Allah berikan mereka amanah memiliki anak. Dan pendidikan itu kelak yang akan mengarahkan anak menjadi apa.
Ibu adalah madrasatul ula atau madrasah pertama untuk anaknya, pendidikan ibu itu dimulai ketika anak masih berada dalam janinnya, kemudian dalam penyusuannya, dan setelah disapih barulah Ayah berperan besar terhadap anaknya.
Di rumah, kita sebagai orangtua, khususnya saya sebagai ibu, utamakan mendidik anak pelajaran agama dan akhlak islami, biasakan sholat fardhu berjamaah tepat waktu, memperbanyak sholat sunah, puasa sunah, qiyamul lail bersama (walaupun bunda sedang haid tetap membangunkan anak untuk qiyamul lail atau sahur), mengingatkan berdoa ketika hendak melakukan aktivitas, menyampaikan kisah teladan para nabi, rosul, dan sahabat serta orang-orang sholeh, sedeqah, dan lain-lain. Bila merasa ilmu kita masih minim, jangan berkecil hati, banyak berjuta cara untuk mensiasatinya di era teknologi ini.
Inilah yang tidak dipahami oleh kebanyakan kaum Muslimin mungkin juga kita. Ide femenisme atau kesetaraan gender telah menghilangkan fungsi keduanya terutama ibunya.
Perempuan dituntut eksis sementara anak nya dibiarkn entah dlm pengasuhan siapa, hingga akhirnya si anak salah arah karena kurangnya sentuhan dr ibunya.
Inilah yang diinginkan para feminis yang merupakan program Barat, mereka ingin merusak generasi ini. Mereka katakan jika ingin merusak generasi ini maka rusak dulu perempuannya.
Selama anak-anak stay at home sebenarnya ada sebuah kesempatan luar biasa dimana ibu bisa hadir seutuhnya. Hanya kenapa kita kelimpungan ? karena kita tidak terbiasa dan kita tidak tahu Ilmunya, sehingga menghadapinya dengan emosi.
Kita kembalikan fitrah ibu untuk menjadi pendidik dan pengasuh untuk anak. Kita mencari ilmu dengan banyak belajar pendidikan anak dalam Islam, kita latih emosi dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW karena beliau lah pendidik terbaik, akhlak beliau terhadap anak luar biasa.
Yuk kita kelola emosi dgn menata qolbu kita.
Selain peran orangtua yang telah dipaparkan di atas, juga peran masyarakat dibutuhkan untuk mengedukasi, menasehati para anak dan remaja, serta media masa untuk menyebarkan konten islami yang mendidik generasi penerus kita.
Yang terakhir adalah peran negara yang menjamin pendidikan bagi generasi muda dan berbagai upaya lainnya seperti yang yang telah dicontohkan rosululloh menangani permasalahan umatnya di saat pandemi.
Wallohu a'lam bish showab

No comments:
Post a Comment