Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dilema Masuk Sekolah, Akankah Terus Berlangsung?

Saturday, June 06, 2020 | Saturday, June 06, 2020 WIB Last Updated 2020-06-06T16:49:59Z
By : Sarah Adilah Wandansari, S.Pd., M.A
Bandung

Juli mendatang adalah bulan yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan kepada siswa di seluruh Indonesia untuk kembali belajar secara langsung di sekolah. Beberapa lembaga yang fokus dalam masalah anak secara kontinyu melakukan kajian terhadap masalah ini. Mengingat anak-anak juga merupakan kelompok masyarakat yang rentan terkena dampak covid-19. Hal ini agaknya menjadi hal yang bertolak belakang dengan anggapan sebagian besar masyarakat akibat dari opini yang digaungkan oleh pihak-pihak terkait dalam penanganan wabah covid-19 yang menjabarkan bahwa kelompok usia 50 tahun ke atas yang justru menjadi kelompok yang berpotensi terdampak covid-19. Fokus masyarakat pada akhirnya hanya menyoroti pencegahan penularan dari masyarakat lansia. Akibatnya kelompok lain bukan menjadi prioritas. 

Berdasarkan data kementerian kesehatan per Mei 2020 saja, sudah terdapat sekitar 1851 kasus melanda anak–anak di bawah usia 18 tahun. Dari data ini saja kita sudah bisa menyimpulkan bahwa covid-19 tidak memandang kelompok usia. Selama kita selaku masyarakat telah mengabaikan sedikit saja tindak pencegahan untuk meredam penyebaran virus maka siapapun bisa menjadi korban. Tentu saja orang tua dibuat kalang kabut dengan fakta ini.

Sudah tiga bulan lebih, anak-anak mengikuti kegiatan pembelajaran di rumah secara daring. Berbagai persoalan perlahan-lahan mulai menguak, seperti adanya kesulitan sinyal, kemudian sebagian siswa yang bahkan tidak mampu mengakses internet karena kekurangan biaya atau tinggal di pelosok desa yang pada akhirnya menjadi korban ketertinggalan pelajaran, selain itu orang tua dirumah “terpaksa” terjun secara langsung untuk mengajari anak menggantikan peran guru di sekolah, padahal tidak semua orang tua adalah orang tua yang terbebas dari tanggung jawab lain, beberapa diantaranya adalah seorang pegawai yang juga disaat yang bersamaan berjibaku dengan berbagai urusan pekerjaan yang tentunya menguras pikiran dan emosi, masalah lain juga datang dari anak yang mengalami kebosanan luar biasa selama dirumah akibat metode pembelajaran yang sama. 

Satu sisi, kembalinya siswa ke sekolah menjadi jalan yang dirasa baik. Namun disisi lain juga menjadi “momok” yang menakutkan kala orang tua mencemaskan dampak yang akan disebabkan akibat imbas dari kebijakan new normal dalam bidang pendidikan yang akan segera diberlakukan. 

Jika hal ini dibiarkan maka akan menjadi rawan bagi anak-anak. Anak-anak yang merupakan generasi harapan bangsa dalam menyongsong peradaban yang lebih baik terjebak dalam dilema untuk meneruskan pendidikan walaupun wabah tak kunjung usai.  

Persoalan yang dihadapi dalam ranah pendidikan di tengah wabah ini merupakan dampak dari sistem pendidikan kita yang belum baik. Menyoroti hal ini, ada beberapa sisi yang dapat kita kaji. Dari sisi pemerintah, dapat dikatakan bahwa pemerintah gagal dalam menyeimbangkan layanan pendidikan di semua pelosok Indonesia. Belum meratanya pendidikan di wilayah terpencil yang bahkan tidak bisa mengakses internet, padahal saat wabah seperti ini kita semua sangat bergantung pada jangkauan internet. Akibatnya proses pendidikan terancam berhenti bagi sebagian siswa sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Dampak lain adalah beberapa generasi akan terancam mengalami kebodohan, berimbas pula kepada aspek sosial semisal merosotnya angka taraf hidup ataupun menurunnya kemampuan SDM Indonesia. 

Dari sisi guru di sekolah juga menjadi efek dalam sistem pendidikan yang masih tidak stabil. Selama ini banyak guru memberikan pengajaran dengan metode yang sama yang membuat anak mudah bosan. Bertemu langsung saja berpotensi bosan apalagi dengan tiadanya tatap muka semakin memicu kebosanan. 

Dari sisi Orang Tua, selama ini orang tua belum bisa menjadi rekan yang baik bagi sekolah. Padahal sekolah hanya wadah untuk mendidik anak. Orang tua yang sebenarnya secara penuh bertanggung jawab dalam mendidik anak. Maka dari itu banyak orang tua yang kelelahan dalam memberikan pengajaran di rumah karena tidak terbiasa untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan belajar-mengajar yang diselenggarakan sekolah dan yang dilakukan anak. 

Dari sisi siswa, banyak siswa menjadi abai dan cuek dengan pembelajaran karena merasa bosan sehingga cepat lelah dan acuh dengan pelajaran yang diberikan. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa anak dapat dengan sadar sendiri menyerahkan tugas kepada guru ataupun fokus saat kelas online berjalan hingga akhir. Apalagi selama ini pola pendidikan kita yang timpang sebelah dan hanya berfokus pada nilai-nilai kognitif tanpa fokus dalam nilai yang lain seperti karakter. Sehingga kecenderungan untuk berlaku curang juga sangat tinggi. 

Evaluasi terhadap banyak aspek dalam kehidupan manusia patut untuk dilakukan. Kita bahkan tidak pernah mengetahui dari fenomena kehidupan seperti apa yang membuat umat manusia berubah. Apapun kondisi yang melanda manusia saat ini merupakan bagian dari proses belajar bagi kita untuk menuju hidup yang lebih baik. Tak terkecuali aspek pendidikan yang selalu menjadi isu krusial dalam pengembangan sumber daya manusia. Jika pendidikan hilang dari masyarakat, maka tidak akan ada yang melanjutkan laju kekuasaan suatu bangsa. 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update