Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Reportase Acara Kajian Intelektual Muslimah_Online_Mei 2020

Sunday, June 07, 2020 | Sunday, June 07, 2020 WIB Last Updated 2020-06-07T00:36:09Z


“INTELEKTUAL: PANDEMI COVID-19&THE GREAT LOCKDOWN, KUATKAN KONSOLIDASI POLITIK UMAT MENYAMBUT PERADABAN EMAS ISLAM”

Pengantar
Pada Mei 2020 diselenggarakan 2 (dua) kali forum daring Kajian Intelektual Muslimah (KIM) yang mempertemukan secara virtual sekitar 500 intelektual dari berbagai penjuru Indonesia. Tema “Pandemi Covid-19: The Great Lockdown” (Kapitalisme Global Kollaps dan Munculnya Peradaban Islam)  menjadi tema yang menarik dan dikupas dengan analisis tajam sekaligus deskripsi tawaran solusi Islam yang jelas. Berikut rangkuman materi dalam kajian tersebut yang dibagi menjadi dua bagian tulisan. Semoga memberikan pencerahan sekaligus semangat bagi pembaca untuk turut menjadi bagian aktif  dalam menyambut peradaban emas Islam segera tegak kembali.

The Great Lockdown: Situasi Ekonomi Terburuk dalam Sejarah Peradaban Sekuler-Kapitalis 
The Great Lockdown sendiri merupakan sebuah istilah yang digunakan oleh Ekonomis  IMF dalam World Economic Outlook April 2020 untuk menggambarkan situasi ekonomi dunia terkini di era pandemi covid-19 sebagai situasi ekonomi terburuk bahkan sejak 1930.  Pandemi ini telah menguji ketahanan sistem ekonomi dan politik Sekuler-Kapitalis yang ternyata tidak mampu menyelesaikan masalah pandemi. Bahkan Pandemi telah benar-benar membongkar dan menelanjangi kezaliman dan kecacatan permanen dari sistem ekonomi kapitalis liberal dan sistem politik demokrasinya. 

Seruan Lockdown menjadi kebijakan simalakama bagi sistem yang penopang utamanya adalah para kapitalis bermodal besar dan bergerak di sektor non riil ini. Tidak seperti krisis sebelumnya, pandemi saat ini memukul dua sektor sekaligus yaitu sektor riil dan non riil.  Kebijakan dengan menurunkan pajak dan moneter dengan  menurunkan suku bunga menjadi kebijakan yang tidak membawa hasil. Ekonomipun tidak bergerak, terlebih di tahun 2019 sendiri sudah ada prediksi beberapa pihak bahwa akan terjadi krisis finansial dunia di tahun 2019, namun kemudian ada pandemi 2020 maka situasi ekonomipun jadi terpukul habis. 

Situasi inipun membagi masyarakat menjadi 2 (dua) kelompok besar yaitu The Winners dan The loosers. Gap antara The Winners yaitu para pemilik  korporasi farmasi raksasa dan spekulan dengan The Loosers  yaitu mereka yang berada di middle class income akan semakin lebar. Maka jika kesenjangan ini  tidak bisa diatasi dengan mendekatkan dua kelompok ini maka demokrasi akan hancur. Padahal di sisi lain, demokrasi dengan prinsip dan mekanismenya sebenarnya sudah gagal dalam mendekatkan dua kelompok ini. Maka, dengan cacat bawaan dan situasi pandemi saat ini,  runtuhnya sistem ekonomi kapitalis dan sistem politik demokrasi sudah di depan mata. Peradaban ini tengah menuju akhir dari masa berjayanya dan masyarakat memerlukan peradaban baru sebagai penggantinya. Strategi New Normalpun bukanlah solusi atas kerusakan akut ini. Normal baru hanyalah  failure strategy (strategi gagal) yang akan memperpanjang nafas kelompok The Winner.

Islam: Tawaran Solusi dan Peradaban Post Pandemi
Lalu apa solusinya? Apa sistem penggantinya? Apa langkah yang bisa dilakukan para intelektual?. Hal mendasar yang harus disepakati bahwa sistem pengganti ini adalah sistem yang mengedepankan nyawa manusia daripada ekonomi, sistem yang menjamin terwujudnya kesejahteraan, keadilan dan kebahagiaan. 

Adalah Islam yang sejak kehadirannya mampu memberikan keadilan, kesejahteraan sekaligus kehormatan dengan keberhasilannya mendekatkan 2 (dua) kelompok yang mengalami kesenjangan ekonomi. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dengan proses mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum Anshar. Islam telah mengatasi situasi ekonomi, politik juga sosial masyarakat Arab dari Jahiliyyah  yang penuh krisis ke situasi penuh ketinggian ilmu dan kemajuan segala bidang. 

Dalam konteks sistem ekonomi, Islam memiliki solusi dengan menata ulang aspek makro dan mikro ekonomi dari sekuler kapitalis menjadi berbasis syariah. Sebuah sistem yang tidak dilematis membenturkan kebutuhan ekonomi manusia dengan nyawa manusia. Namun kebutuhan ekonomi dan nyawa manusia sama-sama bisa dipenuhi dan di jaga dengan baik. Inilah peradaban Islam yang menjadi peradaban pengganti terkuat post pandemi. Situasi terburuk hari ini bisa hanya diatasi oleh syariah Islam.

Tawaran ekonomi syariah dalam tata ulang kebijakan makro dan mikro ekonomi adalah sebagai berikut:
1. Menata ulang sistem keuangan negara. 
Sistem keuangan kapitalis-demokrasi yang bertumpu pada pajak dan utang terbukti tidak bisa memberikan pemasukan dan justru berketergantungan kepada negara lain dan membuat dunia Islam masuk dalam debt trap dan ini tidak akan pernah dipakai oleh peradaban Islam. 
Hal ini karena sistem keuangan  Islam  terbukti selama 13 abad yang memiliki pemasukan yang besar sekaligus mandiri tanpa tergantung kepada negara atau organisasi lain. Pemasukan ini diperoleh dari pengelolaan berbagai kepemilikan umum (milkiyah aamah) termasuk di dalamnya pertambangan, laut, hutan dan asset-aset rakyat lain dengan posisi negara hanya sebagai pengelola. 
Pemasukan lain adalah dari pengelolaan milik negara berupa kharaj yaitu pungutan atas tanah produktif.  Dan juga ada pemasukan dari Zakat juga dengan kekhususan pmbelanjaannya untuk 8 ashnaf mustahiq zakat. Abstraksi pemasukan yang besar ini bisa diselusuri  dari sejarah kekhilafahan Abbasiyah di bawah kepemimpinan Harun Ar Rasyid yang memiliki surplus pemasukan sebesar APBN Indonesia yaitu sekitar 2000 Trilyun. Hal ini berarti menunjukkan jumlah pemasukannya yang lebih besar lagi
2. Menata ulang sistem moneter. 
Dalam sistem ekonomi Islam, Income atau pendapatan masyarakat dipastikan memiliki kecukupan yang tidak membuatnya jatuh pada jurang kemiskinan dengan menjaga daya beli uang. Daya beli uang ini dipertahankan dengan moneter berbasis dzat yang memiliki nilai hakiki yaitu emas dan perak. Mata uang kertas yang mensandarkan pada dollar yang dihegemoni Amerika Serikat akan ditinggalkan. 
3. Menata ulang kebijakan fiskal
Hal ini dilakukan dengan menghapus semua pungutan pajak, pajak hanya pada situasi extraordinary dan hanya ditujukan pada kalangan yang mampu dari orang kaya (aghniya). Dan  ketika kondisi extra ordinary selesai maka pajakpun dihentikan. 
4. Menata ulang sistem kepemilikan asset di permukaan bumi. 
Kepemilikan asset akan direvolusi, tidak diberikan kepada asing dan aseng. Hal yang terjadi hari ini dengan memberikan bagian kepemilikan kepada asing dan aseng adalah bentuk penentangan pada  ketentuan Allah Swt. dan Rasul-Nya bahkan memerangi Allah dan Rasul-Nya. 
5. Tata Ulang kebijakan mikro ekonomi
Hal ini dilakukan dengan mengatur aktifitas ekonomi antar individu dan pebisnis. Negara Khilafah akan melarang praktik riba dan transaksi yang melanggar aturan syariah lainnya. Kekurangan modal bisa dilakukan person to person tapi jika dalam situasi khusus seperti pandemi maka negara hadir dengan memberikan modal dalam bentuk hibah atau dalam bentuk pinjaman tanpa beban bunga/riba. Bank sentral tidak diperlukan tapi yang akan berdiri adalah institusi Baitul maal.

Kembalinya Peradaban Emas khilafah sebagai peradaban post pandemi
Pertanyaan yang muncul dalam benak semua orang adalah: Bagaimana upaya mengembalikan semua itu? Bagaimana peradaban dengan kebijakan makro dan mikro seideal itu  bisa muncul? 

Hal pertama yang harus ada yaitu bergulirnya gagasan serius untuk memperjuangkan formula syariah Islam ini untuk diterapkan. Pijakannya adalah janji Allah Swt. dan kabar gembira dari Rasul-Nya. Pijakan selanjutnya adalah fakta bahwa syariah kafah ini diterapkan oleh Peradaban khilafah ini tidak pernah mengalami krisis siklik dan periodik selama kurang lebih 1300 tahun (13 Abad). Kesejahteraanpun merata sampai ke level individu.

Kabar gembira atau bisyarah Rasulullaah saw bahwa saat ini adalah fase jabriyatan (kekuasaan yang diktator) dan akan dilanjutkan dengan fase terakhir khilafah ala minhajinnubuwah adalah pijakan kuat akan pastinya kemunculan peradaban Islam.  Namun semua ini tergantung pada konsolidasi politik umat secara global.  Keinginan umat manusia untuk kembali kepada aturan RabbNya dalam konsolidasi politik global ini sangat mungkin dan sangat mudah sebagaimana situasi hari ini, orang dari berbagai belahan bumi bisa bertemu melalui berbagai media. Terlebih kaum muslimin telah mendapatkan teladan dari langkah perjuangan dakwah Rasulullaah saw. dalam melakukan perubahan masyarakat jahiliyyah menjadi masyarakat Islam, dari peradaban penuh kegelapan menuju peradaban penuh cahaya yang menjadi rahmatan lil alamiin.

Langkah Perubahan Sistem dari Rasulullaah saw.: Langkah Kongkrit dan Pasti Menuju Kembalinya Peradaban Emas Khilafah
Pandemi Covid-19 yang benar-benar menelanjangi kebobrokan sekuler-kapitalis semestinya membuat kita tak lagi berharap pada system sekuler kapitalis saat ini. Adapun demokrasi sebagai pilarnya pun  mustahil menjadi tumpuan bahkan hanya akan membuat kerusakan ini  bertahan lama. Maka perubahan sistem adalah hal yang urgen dilakukan.

Bagi orang-orang beriman  perubahan dan pergiliran kekuasaan adalah hal yang pasti dan alami. Adalah Janji Allah Swt. untuk orang-orang beriman dan beramal shalih bahwa kekuasaan itu akan dipergiliran untuk mereka. Inilah saatnya kita mewujudkan janji Allah Swt. bahwa peradaban emas Islam ada di depan mata. Tugas strategis yang harus dilakukan adalah ikut menata kembali peradaban ini kembali karena mustahil kembali tanpa ada orang-orang yang membangunnya. 

Tuntunan untuk melakukan perubahan ini tentunya adalah tuntunan dari Allah Swt. dan Rasul-Nya.Tuntunan dalam perubahan ini tidak bisa dilakukan secara sporadis dan gegabah tapi konsisten mengikuti jejak langkah Rasulullah saw. Blue print metode perubahan yang jelas sehingga mampu memimpin konsolidasi umat akan mempercepat tumbangnya kapitalisme dan kembalinya peradaban Islam. Tuntunan ini sebagaimana salahsatunya ditunjukkan dalam surat Ali Imran ayat 31 dan perjalanan perjuangan Rasulullah saw. Perjalanan perjuangan yang paling monumental adalah hijrah. Ada point-point penting dari perjalanan hijrah ini:
1. Membangun peradaban Islam ini adalah dengan menyusun sebuah gerakan perubahan politik di tengah masyarakat jahiliyah. Gerakan ini mendasarkan pada ide shahih dan rinci. Gerakan yang melakukan perubahan masyarakat dilakukan oleh kader-kader bersyakhsiyah Islam yang menyebarkan dari Mekkah ke Madinah. 
2. Perubahan masyarakat adalah perubahan pemikiran dengan melakukan perang pemikiran dan perjuangan politik yang menggugat keyakinan ideologis yang ada di tengah masyarakat jahiliyyah. Sehingga terbentuk kesadaran dan opini umum untuk menghentikan system  jahiliyyah yang dijalankan saat itu. Pemikiran ini menyentuh pada para ahlu quwwah/’ashabul quwwah (pemilik kekuatan) untuk menegakkan Islam. Dan dalam fase sebelum hijrah ini  menemukan momentumnya di baiat aqabah kedua yang dilanjutkan dengan langkah hijrah. 
3. Konsisten dengan metode dakwah Rasulullah saw, yang tidak boleh bergeser seujung rambutpun dari metode ini. Metode ini dilakukan dengan sebuah pembinaan yang berdimensi perubahan masyarakat dengan pembinaan Islam yang utuh, rutin dan disiplin. Performa aktor atau kader bersyakhsiyah Islam inilah yang mampu menyeru pada berbagai komunitas yang berbeda. Dakwahpun terus dilakuan hingga ada opini umum untuk mendelegitimasi sistem rusak yang dijalankan penguasa

Dalam konteks hari ini, setiap diri kita bertanggungjawab terhadap kemuliaan Islam  dan berpartisipasi dalam proses perubahan ini. Apalagi ruh utama  adalah perang pemikiran dan perjuangan politik yaitu menentang dan menjelaskan kebatilan akidah dan sistem kufur. Maka intelektual memiliki peranan besar di dalamnya sebagai kaum yang berkarakter berpikir mendalam dan pemilik ilmu. Ya, ilmu menjadi potensi besar untuk mudah memahami ayat-ayat Allah dan memperjuangkannya. Intelektualnya tentu saja intelektual yang bersyakhsiyah Islam, sehingga mampu  berpikir dan bersikap yang sama dalam menghadapi maslalah yaitu dengan Islam. 

Konsolidasi Umat Menuju Tegaknya Peradaban Islam sebagai Peradaban Post Pandemi
Sekali lagi, situasi politik dunia era pandemi ini menunjukkan sistem dunia hari ini begitu absurd dan kekacauan politik dan ekonominya akan berlanjut. Ketidakpuasan yang terus berlanjut di berbagai kawasan yang menunjukkan sistem saat ini adalah mulkan jabriyan.  Ajal kapitalisme di depan mata, lalu kenapa kita tidak mengambil peran untuk menjadi penolong agama Allah? sehingga kita memiliki hujjah di hadapan Allah Swt. atas segala nikmat yang diberikan Alllah Swt.  

Peran tersebut adalah dengan ikut membangun kesadaran secara massif di tengah masyarakat dan memastikan proses konsolidasi umat Islam secara global. Hal ini dilakukan dengan ikut dalam perang opini global sehingga masyarakat yang tadinya tidak membutuhkan Islam kafah menjadi membutuhkan, memperjuangkan dan merindukan  penerapan Islam kafah.  Di sisi lain, hal inipun dikuatkan dengan kondisi Cina. Cina yang nampak kuat sebenarnya  tidak mungkin menjadi peradaban pengganti  karena tidak terpenuhinya prasyarat berupa kekuatan militer dan kekuatan mata uang yang stabil. Ditambah pandemi ini sebenarnya telah memporakporandakan kondisi Cina. 

Artinya, pengeroposan kekuatan negara-negara besar yang sekarang sedang terjadi adalah peluang membawa umat ke kondisi lebih lanjut yaitu upaya kesadaran mengambil Islam sebagai solusi. Modal utama sudah ada yaitu modal dari faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal yaitu kebobrokan multidimensi dari peradaban sekuler dan faktor internal yaitu kekuatan  ide dan  metode Islam yang rinci serta hadirnya gerakan dakwah yang memperjuangannya. Tinggal PR selanjutnya untuk mengokohkan faktor internal yang lain yaitu opini dan kesadaran politik umat. Pengokohan ini bisa dilakukan dengan konsolidasi politik berbagai elemen umat sehingga terbentuk opini dan kesadaran akan musuh bersama umat dan kesadaran untuk tegaknya kembali khilafah. Akhirul kalam, pastikan diri kita tidak menjadi penonton tapi menjadi pemain dalam menjemput terwujudnya peradaban pengganti: Peradaban Islam sebagai peradaban post pandemi.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update