Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dilema Akibat Berdamai Dengan Corona

Sunday, June 07, 2020 | Sunday, June 07, 2020 WIB Last Updated 2020-06-07T02:26:02Z
Oleh : Rini Astutik
Pemerhati Sosial

Pernyataan  Presiden Jokowi tentang “ berdamai dengan corona “ menuai polemik. Tak lama kemudian datanglah klarifikasi dari tim istana. Deputi Bidang Protokol, pers, dan media Sekretariat Presiden Bey Machmudin mengatakan, maksud berdamai dengan corona sebagaimana dikatakan Jokowi itu adalah menyesuaikan dengan kehidupan, yang artinya masyarakat harus tetap bisa produktif ditengah Pandemi Covid 19.

Penyesuaian yang dimaksud Bey diantaranya selalu mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak dari kerumunan selama melakukan aktifitas. Kata Bey, kita harus the new normal tatanan kehidupan baru. Intinya kudu beradaptasi dengan corona, sebab kapan berakhirnya pandemi corona tidak bisa  direka –reka. ( tirto.id 1/5/2020 )

Pernyataan presiden yang viral dan ramai  diperbincangkan publik mengindikasikan beberapa hal yang pertama tentang pemilihan kata sebab kata yang dipakai bapak presiden adalah “ berdamai “ mungkin kata yang diambil tersebut bermaksud ingin menghibur masyarakat ditengah kepanikan kasus positif yang terus mengalami peningkatan.

Sehingga upaya untuk meredam gejolak di tengah semrawutnya pelaksanaan PSBB dan bantuan sosial dipilih presiden untuk memberi aura positif agar masyarakat dapat bersikap lebih tenang. Namun sangat disayangkan pemilihan katanya kurang pas, sebab yang berbicara adalah seorang Kepala Negara pernyataan merepresentasi diri, kebijakan mencerminkan seorang pemimpin.

Sehingga sangat tidak tepat karena disaat rakyat berharap banyak, seakan ada kepasrahan dan keputusasaan dalam sikap dan pernyataan beliau. Apakah dengan tenang dan sabar sebagai tameng sekaligus upaya untuk menangani wabah tentu jawabanya, tidak. Dengan posisi tertinggi di negeri ini seharusnya bukan diksi tersebut yang keluar dari lisan presiden. 

Melainkan ucapan permintaan maaf karena  belum maksimal  menurunkan jumlah kasus penderita Covid 19 seperti yang dilakukan pemimpin negara lain. Sikap yang di ambil seolah  ingin berkata ya sudahlah  mari adaptasi dengan virus,  mungkin ini disebabkan tidak tahu kapan  wabah berakhir, dan kebingungan dalam hal penanganan serta  nunggu vaksin yang belum ada.

Kedua kebijakan yang serba bimbang , saat menetapkan kebijkan terkait kasus Corona, Indonesia terbilang serba dilema. Diperketat salah, dilonggarkan juga salah,  alhasil mudik dilarang tapi transportasi masih tetap jalan. Sederet program bantuan rakyat dibangga- banggakan diawal pengumuman, realisasinya pun berantakan, kembali  rakyat hanya diberi harapan palsu.

Terlebih Negara terkesan abai akan perannya dan tak mau ambil pusing dengan nasib rakyat, mau rakyat bisa makan atau tidak hari ini negara bersikap masa bodoh, seperti herd imunity yang mengandalkan ketahanan dan kekebalan diri dari virus, dalam istilah jawa “ mati urip sak karepmu”. Di sisi lain  pihak –pihak penertib PSBB juga sudah mulai lelah untuk menghimbau masyarakat. Sudahlah Negara abai,  masyarakatnya bingung, sehingga muncullah tagar Indonesia terserah.

Dan yang ketiga seandainya kita berdamai dengan corona apakah negara ini akan bisa terbebas dari virus corona? bukankah hal ini yang harus di pikirkan dan disolusikan. Kegagalan penanganan berarti memperpanjang usia wabah. Kondisi saat ini merupakan realitas pengadopsian sistem kapitalis sekuler dimana peran negara hanya sebagai regulator semata, bukan penanggung jawab urusan rakyat.

Rakyat juga semakin dibuat dilema dengan kebijakan pemerintah yang acap kali berubah –rubah. Sebab penguasa lebih cenderung mengakomodasi kepentingan  elit politik dan para korporasi. Sehingga kemaslahatan, keselamatan serta kesejahteraan rakyat menjadi nomor terakhir dalam skala prioritas pemerintah.

Pemerintah seharusnya waspada dan mawas diri sebab belum ada sinyal penurunan kasus corona sejak PSBB berlaku, anjuran untuk berdamai dengan corona adalah kebijakan yang kurang tepat justru malah makin membuat rakyat dalam kondisi terancam keselamatan nyawanya, pilihan berdamai dengan Corona bukan the new normal tapi the new abnormal.

Kehidupan yang kita jalani menjadi tidak normal karena Corona, the new normal itu akan terjadi manakala cara hidup kapitalisme  kita tinggalkan, sebab kapitalisme adalah ideologi rusak  dan merusak, salah satunya terjadinya kesenjangan sosial dan terabaikannya pengurusan terhadap rakyat, yang lebih utama  kapitalisme membuat nurani pemimpin mati, hilang rasa empati dan peduli.

Sejatinya pemimpin yang baik adalah yang mampu meriayah dan mau perduli akan nasib rakyatnya, sebab setiap kepemimpinan akan dimintai pertanggung jawabanya oleh Allah SWT Rasulullah SAW bersabda, “ Setiap kamu adalah pemimpinan dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Imam ( waliyul amri ) yang memerintah manusia adalah pemimpin dan dia akan ditanya tentang rakyatnya .” ( HR.Bukhari dan Muslim ). 

Inilah sebabnya sangat dibutuhkan perubahan sistem dalam kehidupan bernegara karena hanya dengan sistem yang baik akan lahir pemimpin yang baik dan berkualitas yang lebih mengedepankan kepentingan rakyat, namun semua itu hanya bisa terwujud dalam sistem Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. Maka kini sudah saatnya kita kembali kepada kehidupan Islam yang mampu menyelamatkan kita baik didunia maupun di akhirat. Wallahu A’lam Bishowabh.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update