Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Negeri Agraris Nan Kaya kok Hobi Utang?

Sunday, June 07, 2020 | Sunday, June 07, 2020 WIB Last Updated 2020-06-07T13:59:24Z
Oleh : Nahida Ilma

Gemah ripah loh jinawi adalah suatu semboyan negara Indonesia yang dapat menggambarkan betapa kaya raya alam Indonesia. Jika diartikan, ungkapan gemah ripah loh jinawi berarti kekayaan alam yang berlimpah. Dan hal inilah yang sering kita dengar, bahwasannya alam Indonesia itu memang kaya. Saking berlimpahnya, ada pula ungkapan dari sebuah lagu, “Tanah kita tanah surga, batu dan tongkat jadi tanaman”. Indonesia juga dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduk Indonesia memiliki mata pencaharian sebagai petani atau bercocok tanam. Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki banyak sumber daya alam, baik di darat maupun perairan.

Namun, nyatanya Indonesia masih belum mampu menciptakan kedaulatan pangan. Realita ingin nampak jelas dengan mudahnya pemerintah mengambil kebijakan impor untuk memenuhi kebutuhan pasokan dalam negeri. 

Kementerian Perdagangan telah melakukan relaksasi impor sementara untuk bawang putih dan bawang bombai. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Indrasari Wisnu Wardhana mencatat, impor bawang putih yang sudah masuk ke tanah air tanpa Persetujuan Impor (PI) mencapai 28 ribu ton. (Katadata.co.id, 23/04/2020) 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor sayur- sayuran sepanjang tahun 2019 meningkat dari tahun 2018, menjadi 770 juta dollar AS atau setara Rp 11,3 triliun (asumsi kurs Rp 14.700 per dollar AS). Merespon hal tersebut, Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Prihasto Setyanto mengatakan, angka tersebut didominasi oleh komoditas sayur-sayuran yang pasokannya memang masih perlu dibantu oleh impor, seperti bawang putih dan kentang industri. (Kompascom.com, 25/5/2020).

Kegiatan ekspor impor memang bisa menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kurangnya pasokan kebutuhan komoditas yang diperlukan. Namun, dengan sistem kapitalisme yang mencengkram negeri ini, justru memberikan peluang yang sangat besar untuk para kapital ikut campur dalam kedaulatan negara inferior mereka. Pihak penguasa mengklaim impor bertujuan memenuhi pasokan yang tidak tercukupi. Namun, fakta di lapangan, para petani lokal justru harus bersaing dengan barang impor. Bahkan teka jarang mereka merugikan akibat kebijakan ini. 

Di dalam Islam, kegiatan ekspor impor merupakan bentuk perdagangan yang didalamnya terdapat praktik jual beli dengan berbagai bentuk. Hukum jual beli itu sendiri adalah boleh atau mubah, baik domestik maupun luar negeri. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 275 yang menjelaskan terkait hukum keumuman perdagangan. 

Dalam pandangan Islam, kegiatan jual beli termasuk dalam wilayah Hablumminannas atau hubungan manusia dengan manusia yang lainnya, yang tentu saja syariat Islam pun mengatur urusannya. Oleh karena itu, didalam jual beli pun tidak bisa dilepaskan dari hukum syariat. Jika tidak diatur dengan syariat pasti akan menimbulkan kemudharatan atau kerugian. 

Dalam menjaga kedaulatan pangan, Khilafah akan menerapkan mekanisme agar tidak Karena tidak semua produk pangan di masa subur akan dikonsumsi, tetapi ada yang disimpan untuk cadangan. Oleh karena itu, khalifah akan mendukung berbagai pengembangan teknik pengawetan pangan, sirkulasi, standar bangunan penyimpanan pangan serta pengaturan gaya hidup dan konsumsi masyarakat. 

Optimalisasi produksi akan dilakukan diseluruh lahan yang berpotensi untuk melakukan usaha pertanian berkelanjutan yang menghasilkan bahan pangan pokok. Upaya ini akan didukung dengan berbagai aplikasi sains dan teknologi. Mulai dari mencari lahan yang optimal untuk benih tanaman tersebut, teknik irigasi pemupukan penanganan hama hingga pemanenan dan pengolahan pasca panen.

Masyarakat juga akan di edukasi untuk tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi pangan. Konsumsi berlebihan justru berpotensi merusak kesehatan dan meningkatkan persoalan limbah. Begitu juga manajemen logistik, dimana masalah pangan beserta yang menyertainya seperti irigasi, pupuk dan anti hama sepenuhnya dikendalikan oleh pemerintah. Dengan cara memperbanyak cadangan saat produksi berlimpah dan mendistribusikannya secara selektif pada saat ketersediaan mulai berkurang. 

Adapun prediksi iklim juga akan dilakukan. Dengan menganalisis kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca extreme. Mempelajari fenomena fenomena alam seperti curah hujan kelembaban udara, penguapan air permukaan serta intensitas sinar matahari yang diterima bumi.

Khilafah akan melakukan mitigasi bencana kerawanan pangan. Yaitu dengan antisipasi terhadap kemungkinan kondisi rawan pangan yang disebabkan oleh perubahan drastis kondisi alam dan lingkungan. Mitigasi ini berupa tuntunan saling berbagi di masyarakat dalam kondisi sulit. 

Inilah yang akan dilakukan oleh Khilafah untuk menjaga ketahanan pangan dan kedaulatan negara. Mengoptimalisasikan produksi dalam negeri dengan berbagai upaya yang optimal. Jika hal ini sudah dilakukan, tapi pasokan kebutuhan masih mengalami kekurangan, Khilafah akan melakukan impor dengan mekanisme yang dibenarkan oleh syariat, sehingga tidak merugikan para petani dalam negeri. Wallahualam bishowab. 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update