Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kontroversial Berdamai dengan Corona Hingga Dianggap Istri. Pantaskah?

Sunday, June 07, 2020 | Sunday, June 07, 2020 WIB Last Updated 2020-06-07T12:51:48Z
Oleh: Anhy Hamasah Al Mustanir
(Pemerhati Media)

Pertanyaan kontoversial kembali dilontarkan oleh pemimpin negeri ini. Dari sekian deretan pernyataan yang menuai kehebohan ditengah publik tanah air. Terselip satu pernyataan yang membuat publik tercengang antara percaya dan bingung dibuatnya. Bagaimana tidak, rakyat Indonesia yang jumlah berpuluh juta dihimbau untuk berdamai dengan Corona. Dimana Corona adalah sejenis virus yang mematikan.

Dalam imajinasi yang buyar sekalipun tak akan pernah terselip dihati masyarakat Indonesia untuk berdamai dengan Virus Corona, jangankan untuk berdamai berjumpa pun tidak berani. Corona sudah jelas telah menelan  banyak korban dibelahan dunia. Corona seharusnya diperangi sama halnya dengan memerangi musuh dimedan perang. Hanya saja, berbeda kondisi dan alat yang digunakan.

Kalaupun, berdamai dengan Corona harus dilakukan maka dengan cara bagaimana? Apakah dengan melakukan aktivitas seperti biasa sebelum datangnya virus tersebut ataukah kembali melakukan aktivitas diluar rumah dengan perlindungan masker dan hand sanitizer? Dari pertanyaan ini saja rakyat akan semakin bingung untuk menjawabnya. Seandainya, Corona dapat diceramahi atau bahasa kasarnya disuap dengan uang bisa saja ia tidak mengganggu masyarakat ketika sedang diluar rumah.

Namun, kenyataan sangat nihil Corona bukanlah sejenis manusia, hewan atau benda yang terlihat wujud dan keberadaannya. Sehingga, sangat mustahil untuk mengajak ia berdamai dengan manusia. Jika saja, ia ingin berdamai mungkin lebih baik ia  tak pernah mengganggu manusia namun karena target utamanya adalah tubuh manusia maka sampai sekarang pun yang berjatuhan adalah manusia bukan hewan ataupun benda.

Berdamai dengan Corona bukankah sama saja dengan bunuh diri? Sedangkan membunuh diri adalah dosa yang begitu besar. Bayangkan saja, sebelum, ada kata berdamai dengan Corona saja korbannya sudah memasuki angka dua puluh empat ribu lima ratus tiga puluh delapan jiwa (Merdeka.com.28/05/2029) apalagi jika berdamai dengan Corona diterapkan maka sudah pasti korban akan lebih membludak dibandingkan sebelumnya. Pengorbanan para pahlawan medis pun sia- sia. Padahal, para medislah yang berada di garda terdepan dari awal datangnya virus Corona sampai saat ini. Hal itu terbukti, dengan banyak para medis yang gugur ditengah menjalankan tugas mulia mereka.

Tapi anehnya, belum lama orang nomor satu di Indonesia mengeluarkan pendapat yang kontroversial kini giliran Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud Md menyebut berdamai dengan Covid-19 sama seperti menikah. Mahfud meng
ucapkan ini saat memberi sambutan di acara halal bihalal IKA UNS yang disiarkan di Youtube Universitas Negeri Sebelas Maret pada Selasa, 26 Mei 2020.

“Saya kemarin mendapat meme dari Pak Luhut (Menko Kemaritiman) itu begini, ‘Corona is like your wife. In easily you try to control it, then you realize that you can't. Then, you learn to live with it’,” ujar Mahfud

Sontak saja, menuai kritikan pedas dari berbagai kalangan. Salah satunya, Ketua Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan, Dinda Nisa Yura, menilai pernyataan pejabat publik yang menyamakan Corona dengan istri menunjukkan ketidakmampuan pemerintah tangani pandemi Covid-19. "Pernyataan Mahfud Md secara gamblang mengakui bahwa pemerintah gagal dan tidak mampu mengendalikan virus Corona, sehingga satu-satunya pilihan adalah menerima untuk hidup dengan virus tersebut," kata Dinda dalam keterangan tertulisnya. Bahkan lelucon itu, menurut dia, sangat tidak sensitif dan bertanggung jawab. Padahal, dia melanjutkan, di beberapa negara lain memperlihatkan bahwa pemimpin perempuan lebih berkapasitas mengatasi laju wabah virus corona. (Tempo.co.Rabu, 27 Mei 2020)

Namun kemudian, kritikan itu tak lantas mengubah pendapat para pemangku kekuasaan negeri ini, karena pada faktanya, banyak para kritikus yang berakhir di lembaga kemasyarakatan. Begitulah, sistem kapitalisme tidak mengizinkan suara rakyat sebagai arah pejabat dalam mengambil kebijakan. Rakyat akan didengar jika ada kepentingan yang dapat diperoleh darinya jika tidak ada maka rakyat akan kembali terlupakan. Seyogyanya, demokrasi menjamin kebebasan berbicara kini harus terbelenggu oleh tuannya sendiri. Padahal, rakyat memilih pemimpin itu agar aspirasinya didengar tetapi yang didapat adalah semakin sempitnya penghidupannya. Begitulah, hidup di negeri yang menjunjung tinggi materialis, nyawa pun dinomor duakan.

Sungguh hal seperti itu, tidak akan ada dalam Islam. Karena Islam sangat memperhatikan apa - apa yang berkaitan dengan urusan umat. Islam tidak mengenal guyonan yang berhubungan dengan kepentingan umat bahkan hal seperti itu sangat dibenci. Apalagi, jika yang melakukan adalah pejabat negara yang seharusnya lebih mawas diri dalam bertutur kata ataupun mengambil dalam suatu kebijakan. Sebab, kebijakan itu bukan saja persoalan perorangan melainkan untuk hajat hidup orang banyak.

Dalam Islam, nyawa umat adalah prioritas utama. Maka tak heran, saat masa kejayaan Islam dahulu telah memberikan contoh real bahwa negara sangat peduli dengan rakyatnya. Kebijakan yang dibuat tidak pernah keluar dari syariat Islam sehingga sangat sedikit sekali di temui kritikan pada pemimpinnya. Kalaupun terdapat kritikan maka kritikan itu dijadikan sebagai evaluasi bagi kepala negara.

Bahkan dahulu, ada seorang anak mengkritik ayahnya terkait pertanggung jawabannya terhadap rakyatnya. Suatu ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz pulang kerumah untuk istirahat sejenak. Seketika, anaknya memanggilnya dengan" Wahai Amirul mukminin, apa gerangan yang mendorongmu berbaring di siang hari seperti ini?." Sontak saja, Umar bin Abdul Aziz terkaget karena putranya tidak memanggil dengan sebutan ayah. Ia pun menjawab pertanyaan putranya "Aku letih dan butuh istirahat sejenak."

Maka sang anak pun berkata, pantaskah engkau beristirahat sementara masih banyak rakyat yang teraniaya? Maka sang Khalifah pun berkata bahwa usai zhuhur aku akan mengembalikan hak - hak orang yang teraniaya. Maka anaknya pun kembali bertanya" Wahai Amirul mukminin, siapakah yang menjamin anda masih hidup sampai zhuhur bagaimana jika Allah menakdirkanmu meninggal sekarang?. Singkatnya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz lalu bangkit dan memerintahkan juru bicaranya untuk mengumumkan kepada seluruh rakyat, Barangsiapa  yang merasa terdzalimi, hendaknya ia mengaduhkan nasibnya kepada Khalifah. Begitulah, pemimpin yang seharusnya dan patut untuk dijadikan teladan dalam memimpin suatu negeri. Bukan sebaliknya.

Adakah pemimpin saat ini yang seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz? Tentu jawabannya, tidak ada. Pemimpin seperti ini hanya ada dalam negara Islam yang mana mereka dipilih berdasarkan kualitas iman dan takwanya kepada Allah. Sehingga, kepemimpinannya dijadikan sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menerapkan syariat Islam secara sempurna. Kesejahteraan rakyatnya pun menjadi prioritas utama. Sebagai bahan perbandingan, tidak ada satu pun catatan sejarah Islam,  yang rakyatnya mengalami kesengsaraan seperti yang terjadi saat ini. Apalagi, mengeluarkan pendapat bernada lelucon yang berkaitan dengan kepentingan rakyatnya. Wallahu ‘alam Bisshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update