Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

New Normal; Tren Global yang Membawa Petaka

Monday, June 01, 2020 | Monday, June 01, 2020 WIB Last Updated 2020-06-01T15:55:39Z
Oleh: Yeni Mulyani
Ibu Rumah Tangga

Pandemi Covid-19 merubah tatanan masyarakat dunia. Guna mencegah penularan wabah virus corona yang meluas, masyarakat diimbau bahkan dipaksa untuk tinggal di rumah. Sekolah, bekerja bahkan beribadah pun dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja. Hampir semua negara mengimbau warganya untuk tidak beraktivitas di luar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Perubahan tersebut tentu juga berdampak luas di banyak sektor. Pasalnya berubahnya aktivitas masyarakat tersebut membuat dunia usaha sepi, seperti bidang pariwisata, transportasi online,penjualan retail dan masih banyak lagi. Tinggal di rumah dinilai tidak bisa selamanya diterapkan untuk menjaga keseimbangan perekonomian. Sejumlah negara pun mulai melonggarakan kebijakan terkait mobilitas warganya. Di sisi lain, virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 masih terus mengancam. Korban jiwa akibat virus corona pun terus bertambah. Di sinilah, pola hidup baru atau new normal akan diimplementasikan.

Presiden Joko Widodo dinilai semakin terlihat lebih mementingkan kepentingan ekonomi dibanding keselamatan rakyat setelah adanya rencana new normal. Direktur Habib Rizieq Shihab (HRS) Center, Abdul Chair Ramdhan menilai kebijakan adaptasi perubahan pola hidup pada situasi Covid-19 atau New Normal yang disampaikan pemerintah bisa menimbulkan permasalahan serius. Penerapan new normal ini diawali dengan terbitnya Keputusan Kemenkes dan SE Kemenkes yang diperuntukkan bagi perkantoran dan industri, sektor jasa dan perdagangan dalam mendukung keberlangsungan usaha yang tidak dibarengi dengan pencabutan secara resmi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).Di sisi lain, sambung Abdul, terdapat dualisme otoritas. 

Dimana, jika mengacu kepada maklumat status kedaruratan kesehatan masyarakat, maka kewenangannya berada pada Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Namun jika mengacu status bencana nasional, kewenangannya ada pada Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 selaku Kepala BNPB.“Oleh karenanya dipertanyakan. Relevansi new normal terkait dengan pembukaan mal tidak logis dan tidak realistis. Di sisi lain, pelarangan ibadah di masjid tetap diberlakukan dengan alasan terjadinya kerumunan orang. Bukankah mal adalah juga tempat berkerumunnya orang? Hal ini tentu sebagai bentuk ketidakadilan, sebab diberlakukan secara parsial,” ujarnya dilansir Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (27/5).Apalagi, kata Abdul, kebijakan new normal untuk pembukaan kembali pusat perbelanjaan mengabaikan tingkat penularan virus corona yang masih terbilang tinggi.“Tidak dapat dipungkiri alasan guna kepentingan menggerakkan kembali perekonomian memang dapat dimaklumi, namun pertimbangan keselamatan jiwa masyarakat harus didahulukan,” terang Abdul.

“New normal” hanyalah upaya Barat mendustai dunia atas karakter buruk peradaban mereka, meski lonceng kematian telah berbunyi. Tanda kematian itu tampak jelas pada kondisi Amerika Serikat[1],[2],[3] yang menjadi jantung peradaban Barat.Sementara, karakter buruk peradaban kapitalisme tercermin dari kegagalannya mengatasi pandemi Covid-19 yang memperparah resesi kronis. Artinya, “new normal” bukanlah sekadar kehidupan dengan sejumlah protokol kesehatan, melainkan kehidupan dunia dalam peradaban kapitalisme yang berkarakter merusak di tengah pandemi Covid-19 yang dibiarkan mengganas akibat tekanan resesi terburuk sepanjang sejarah. Hasilnya, penderitaan dunia akan semakin dalam.

Islam adalah satu-satunya peradaban berkarakter mulia, pemberi rasa tenteram dan ketenangan bagi kehidupan umat manusia. Karakter yang begitu sempurna telah ditegaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya, “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan penyejahtera bagi seluruh alam.” (TQS Al Anbiya [21]: 107).Tidak sekadar konsep, peradaban Islam dengan karakternya yang mulia sebagai pewujud kesejahteraan seluruh alam, benar-benar telah teruji selama belasan abad dan di dua per tiga dunia. Ini semua telah diukir oleh tinta emas peradaban sejarah. Hari ini, dengan karakternya yang begitu sempurna, peradaban Islam adalah satu-satunya harapan dunia. Pembebas dari pandemi Covid-19 yang berlarut-larut. Juga pembebas dunia dari agenda hegemoni. Baik di Timur oleh Cina dan sekutunya, maupun di Barat oleh AS dan sekutunya. Berikut dengan lembaga internasional seperti WHO, PBB, WB, IMF, dan korporasi raksasa dunia yang menjadikan kesehatan dan nyawa manusia sebagai objek hegemoni. Pada gilirannya, peradaban Islam –Khilafah– akan membawa dunia pada puncak kesejahteraan untuk kedua kalinya dengan izin Allah SWT. 

Wallahu’alam Bi Shawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update