Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ironi Perjuangan Tenaga Medis di Tengah Wabah

Monday, June 01, 2020 | Monday, June 01, 2020 WIB Last Updated 2020-06-01T15:35:54Z
Oleh: Umma Aqila Safhira 
(pemerhati masalah umat)

Tidak adanya perhatian khusus dan serius untuk tenaga medis dalam menangani wabah saat ini sangat memprihatikan, pejuang garda terdepan ini pada akhirnya menjadi korban terbanyak yang gugur  akibat kewalahan, kelelahan serta terinfeksi virus Corona  karena lonjakan pasien yang mereka hadapi. Bahkan untuk merayakan lebaran atau Idul Fitri tahun ini yang sebelumnya kebiasaan berkumpul dengan keluarga, kini sudah berbeda karena pandemi, seperti curhatan seorang tenaga medis yang kesepian menyendiri di kamar saat takbiran Idul Fitri, yaitu sekitar 24 tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Yunus Bengkulu, menjalani perayaan Idul Fitri 1441 hijriah tanpa bertemu keluarga.

Mereka secara keseluruhan sedang menjalani masa karantina di gedung Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Bengkulu. Sehingga silaturahmi dengan keluarga besar hanya bisa dijalin secara virtual.

''Sudah menjadi tugas kami, tanggungjawab sesuai sumpah. Kali ini pun lebaran cuma bisa melalui video call,'' ujar salah satu perawat di RSUD M Yunus Bengkulu, Desmi Lindawati, Senin (25/5/2020). Senada dengan Desmi, Dedi Andreas mengaku merasa kesepian pada masa perayaan Idul Fitri 1441 hijriah. Tradisi lebaran tidak bisa dirayakan sebagaimana idealnya karena petugas medis sedang berperang melawan virus corona (Covid-19). (news.okezone.com 25/5/2020 lalu). Permasalahan lain pun dikeluhkan para tenaga medis ini jangankan memberikan perhatian utuh dengan kebijakan terintegrasi agar pasien tidak terus melonjak, bahkan proteksi finansial juga tidak diberikan. Sejumlah tenaga medis di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran belum mendapatkan insentif keuangan yang dijanjikan oleh pemerintah. Seperti diketahui, pemerintah memberikan insentif sebesar Rp 5-15 juta untuk dokter dan para tenaga medis yang terlibat dalam penanganan Covid-19.

"Terakhir karena Bank Indonesia sudah tutup karena lebaran. Dijanjikan tanggal 15 sih," kata dia kepada Merdeka.com yang tak ingin disebutkan namanya kepada Merdeka.com, Senin (25/5/2020 lalu). Bahkan Tunjangan Hari Raya (THR) para perawat honorer dipotong juga ada yang dirumahkan dan ratusan tenaga medis dipecat. Diketahui, ratusan tenaga medis dipecat saat wabah virus corona tersebut terjadi di RSUD Ogan Ilir. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, yakni sebanyak 109 orang karena melakukan mogok kerja sejak Jumat (15/5/2020) lalu. Permasalahan yang dialami para tenaga medis ini kemudian banyak mendapat perhatian, mereka mengambil risiko yang besar, mereka tetap menjalankan tugas mereka dengan merawat pasien yang terinfeksi meskipun kemungkinan mereka dapat tertular sangat besar. Apalagi jika mereka tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan standar. Namun, kekurangan APD bagi para tenaga medis memang tidak dapat dipungkiri. Sampai saat ini masih banyak tenaga medis yang kekurangan APD, padahal mereka menjadi garda terdepan dalam memerangi virus Covid-19 ini.

Demi tetap menjalankan kewajibannya merawat pasien, masih ada diantara mereka yang hanya menggunakan APD seadanya ketika merawat pasien. Di beberapa rumah sakit di Indonesia jumlah APD yang memenuhi standar pun masih belum mencukupi, padahal ini menjadi tugas pemerintah untuk menyediakan dan memfasilitasi tenaga medis saat bertugas. 

Foto petugas yang viral di media sosial mengenakan jas hujan seiring dengan kenyataan semakin banyak tenaga medis yang terinfeksi meyakinkan publik bahwa tenaga medis kita kekurangan APD. Risiko yang ditanggung petugas medis akibat minimnya APD menggugah nurani. Karena itu isu APD lebih banyak diperibincangkan ketimbang isu lain seperti jumlah tenaga medis atau daya tampung rumah sakit yang merawat pasien Corona, pemerintah yang diharapkan untuk memberi fasilitas justru malah melanggar kebijakan yang diberlakukannya, mulai dari pemerintah menggelar konser ditengah pandemi, mal-mal dan bandara dibuka, hanya sebagian yang di tutup, hingga PSBB yang masih belum berimbas terhadap penurunan jumlah penyebaran virus Corona. Sehingga dapat dikatakan sangat minimnya perlindungan utuh dengan kebijakan terintegrasi yang dapat meredam jumlah pasien yang semakin bertambah. Disisi lain, dengan melonjaknya jumlah pasien dan tidak adanya perhatian dari pemerintah yang diberikan kepada tenaga medis. Minimnya ADP dan fasilitas kesehatan menjadikan mereka mudah terserang wabah Covid-19.

Tenaga medis yang berikrar dengan sumpah telah menolong dengan kemampuan yang mereka miliki. Mereka berjuang menyelamatkan pasien, kadang sampai setiap lima jam satu shif. Setelah memakai pakaian pelindung, tidak bisa makan, minum atau ke toilet. Dengan mengenakan pakaian isolasi yang rapat tidak tembus udara dan kaca mata pelindung, seluruh team bekerja keras dalam perjuangan, semua orang merasakan keterbatasan fisik. Harusnya apresiasi luar biasa diberikan kepada dokter dan perawat yang menjadi garda terakhir penanganan Covid-19. Karena itu apresiasi dari pemerintah pusat dan daerah sangat diperlukan untuk mempermudah pekerjaan mereka. Upaya melindungi para dokter, perawat dan pekerja rumah sakit lebih penting seperti menyediakan peralatan pelindung, pengujian, dan tempat tidur rumah sakit untuk mereka. 

Namun, apa yang terjadi saat ini merupakan dampak dari ketidak seriusan pemerintah untuk melindungi rakyat khususnya tenaga medis dari ancaman virus Corona. Sehingga masyarakat pun bertanya-tanya, apakah pemerintah benar-benar mengurusi rakyatnya atau hanya mau melepaskan belenggu ekonomi yang melilit akibat penerapan kebijakan PSSB. Sungguh mengerikan, system Kapitalisme yang diterapkan telah memakan banyak korban. Pemerintah lebih peduli pada sektor ekonomi dari pada nyawa rakyat dan keselamatan kerja para tenaga medis. 

Lalu bagaimana dengan pandangan Islam tentang keberadaan tenaga medis, dalam Islam tenaga medis disamakan dengan pelayan, yaitu melayani umat atau masyarakat, pembantu atau pelayan dalam kepemimpinan Islam, mereka sama dengan rakyat lain yang mempunyai hak yang sama dengan memuliakan pekerjaan mereka salah satunya adalah mempersiapkan fasilitas dan kebutuhan mereka, dalam satu riwayat dikisahkan bagaimana Amirul Mukminin Umar bin Khattab memuliakan para pembantunya. Beliau juga dikenal sebagai seorang khalifah yang berkarakter tegas dan keras. Meski demikian, dia tak gila kehormatan dan tak menunjukkan dirinya adalah seorang penguasa yang harus diagung-agungkan.

Juga riwayat lain dalam Islam, jangankan gugurnya para tenaga medis, nyawa seorang muslim saja begitu berharga dalam Islam. Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani). 
Betapa Islam menjadi garda terdepan dalam urusan kesehatan. Sejarah mencatat, bahwa kesehatan termasuk ke dalam kebutuhan dasar yang wajib disediakan dan ditanggung oleh negara dan rakyat memperolehnya dengan gratis. Karena pemimpin dalam Islam senantiasa di sandarkan pada hukum syara’ yakni pemimpim adalah pelayan rakyat. Juga hanya Islam yang bisa menghargai jasa dari para tenaga medis sama seperti manusia lain yang mempunyai hak-hak dan  juga keluarga. Wallahu A'lam Bisshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update