Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Damai Bersama Corona dan Lepas Tangannya Penguasa

Sunday, June 07, 2020 | Sunday, June 07, 2020 WIB Last Updated 2020-06-07T03:30:19Z
Oleh: Andini

Seruan untuk berdamai dengan COVID-19 menggegerkan jagat dunia maya dan nyata. Diikuti dengan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang akhirnya memicu massa untuk berkerumun seperti pada kondisi biasanya. Tagar #IndonesiaTerserah pun melambung. Alis masyarakat naik bersamaan. Tanda tanya besar dilayangkan, apa yang dimaksud dari berdamai dengan COVID-19?? Membiasakan diri hidup dengan virus di sekitar kita? Atau tanda pemerintah telah melambaikan tangan ke kamera?

Seruan berdamai dengan COVID-19 itu dinyatakan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo di akun twiternya beberapa saat yang lalu. "Sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus berdamai dengan COVID-19 untuk beberapa waktu ke depan. Sejak awal pemerintah memilih kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar, bukan lockdown. Dengan PSBB, masyarakat masih bisa beraktivitas, tetapi dibatasi," (cnnindonesia.com, 09/05/2020).

Statement ajaib yang kesekian kalinya membuat rakyat geleng-geleng kepala itu pun sontak menuai berbagai tanggapan, khususnya dari tenaga kesehatan yang selama masa wabah ini menjadi pejuang di garda depan menangani para pasien yang terpapar.

Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Cabang Bekasi mengaku khawatir dengan pernyataan Presiden Jokowi tersebut, “Kami was-was terhadap pernyataan tersebut, takutnya diartikan ya sudah kita terima saja,” ucap Ketua ARSSI cabang kota Bekasi, Dokter Eko S. Nugroho kepada wartawan (kedaipena.com, 11/05/2020).

Anggota Komisi IX DPR RI, Muchamad Nabil Haroen ikut merespon. Dirinya menilai, ada dua perspektif yang dapat dilihat dari pesan Presiden Jokowi yang mengajak masyarakat Indonesia untuk berdamai dengan COVID-19 sampai ditemukannya vaksin. “Pertama pemerintah harus lebih serius dan fokus dalam penanganan COVID-19. Kita masih melihat ada beberapa hal yang masih inkonsisten dan tidak terkoordinasi misal kebijakan antar kementerian yang tidak sinkron masyarakat menjadi bingung,” kata Gus Nabil sapaan karibnya (SINDOnews.com, 11/05/2020).

Tak mau cuitan perihal perdamaian itu semakin membuat riuh, pihak Istana pun bergerak cepat. Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, menjelaskan maksud Presiden Joko Widodo yang meminta masyarakat berdamai dengan virus COVID-19 yang masih mewabah di Indonesia dalam dua bulan terakhir, "Bahwa COVID itu ada dan kita berusaha agar COVID segera hilang. Tapi kita tidak boleh menjadi tidak produktif karena COVID, menjadikan ada penyesuaian dalam kehidupan," ujar Bey melalui pesan singkat kepada wartawan (Kompas.com, 09/05/2020).

Untuk kita telah jelas, berdamai dengan COVID-19 hanya dalih dari ketidakmampuan penguasa menemukan problem solving untuk negara dan rakyatnya dalam menghadapi pandemik. Berdamai dengan menerapkan new normal ini adalah abnormal, bukti konkrit bahwasannya rezim kapitalisme telah gagal menangani wabah dan gagal menjaga warga negaranya.

Berdamai dengan COVID-19 merupakan tanda telah berlepas tangannya penguasa dari mengurusi rakyatnya. Enggan bertanggung jawab lebih, rakyat dipersilakan beraktivitas seperti biasa di tengah wabah, karena mau tidak mau dapur harus tetap ngebul. Begitulah hidup dalam ekosistem kapitalisme, menormalisasi roda perekonomian selalu lebih genting dibanding memperhitungkan nyawa rakyat.

Tak usah kecewa, memang seperti itulah tabiat sistem yang lahir dari akal manusia yang terbatas dan condong pada hawa nafsu. Tentu berbeda dengan Islam yang berasal dari Allah SWT. Beda sumber, pastilah beda pula aturan yang terpancar dari kedua sistem ini.

Kita bisa melihat sejarah sebagai bukti bagaimana Islam yang aturannya bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, membentuk pemimpin-pemimpin yang bertanggung jawab atas rakyatnya. Pemimpin yang tidak hanya cerdas, tapi juga bertaqwa. Pemimpin yang jangankan pada nyawa manusia, pada seekor keledai saja dia khawatir akan keselamatannya. Dialah Umar bin Khattab. Salah satu khalifah kaum muslim pada masa kekhilafahan. Gubernur di negeri Syam -wilayah yang terkena wabah- pun merupakan pemimpin yang solid dan bertanggung jawab atas wilayah yang ia pimpin.

Para pemimpin cerdas itu mengambil kebijakan-kebijakan yang fokus pada solusi, cepat tanggap, dan tanpa pencitraan. Mulai dari memberlakukan karantina wilayah, memetakan distribusi logistik, bahkan sampai menghapus hukuman bagi pencuri yang mencuri dalam kondisi kelaparan, juga mengajak umat untuk bertaqarrub pada Allah dan menjauhi maksiat.

Dari banyaknya kefasadan yang dihasilkan dari rezim kapitalisme yang saat ini merongrong dunia, seharusnya kita segera sadar dan enggan untuk lebih lama lagi dengan rezim ini. Kemudian bersegera menjemput keberkahan dari Allah dengan menerapkan syariah-Nya.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update