Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Belum Saatnya New Normal Indonesia

Monday, June 01, 2020 | Monday, June 01, 2020 WIB Last Updated 2020-06-01T15:32:09Z
Oleh: Innama S.Si

New Normal yang akan diberlakukan oleh pemerintah menuai banyak komentar. Tidak sedikit masyarakat yang menyangsikan keefektifan program ini, mengingat jumlah pasien positif covid-19 masih diangaka hampir 700 orang per harinya (regional.kompas.com 28/05/2020). 

New normal sendiri berarti semua kegiatan yang dilakukan sebelum pandemi tetapi dibarengi dengan protokol kesehatan covid-19, misalnya memakai masker dan social distancing. Istilah ini digaungkan pertama kali oleh Inggris dan Amerika, mereka tengah bersiap untuk New Normal Era pada bulan Juni mendatang. Inggris akan secara bertahap membuka kembali pusat perbelanjaan dan beberapa sekolah, sama halnya dengan Amerika Serikat.

Indonesia juga rupanya mengikuti program ini awal Juni mendatang. Bahkan pemerintah akan mengerahkan TNI dan Polri dalam melaksanakan New Normal ini untuk meminimalkan pelanggaran protokol kesehatan.

*Demi Ekonomi*
Pertanyaan yang sangat mendasar yang muncul dari masyarakat adalah, akan efektifkah program ini dilaksanakan saat penyebaran wabah penyakit masih sangat tinggi. Maka wajarlah sebagian masyarakat memandang bahwa upaya penyelamatan sosial ekonomi ini dilakukan dengan mengorbankan nyawa rakyat. Bagaimana tidak, dengan program stay at home saja penyebaran virus masih sangat meluas, apalagi akan diberlakukan New Normal yang akan mengakibatkan masyarakat kembali berkumpul untuk melakukan aktifitasnya.

Alasan pemerintah mengambil kebijakan ini untuk menjaga agar Indonesia tidak mengalami krisis akibat jatuhnya perekonomian karena efek pandemi. Demi memutar kembali roda perekonomian, pemerintah tak segan-segan bermain dengan nyawa manusia. Inilah ciri khas dari sistem Kapitalisme.

Sistem ini hanya mementingkan ekonomi saja dan segelintir pemilik modal. Sedangkan masyarakat bawah yang menjalankan roda perekonomian menjadi korban dari penyebaran virus penyakit.
Rakyat yang berada dilapis paling bawah yang akan mejadi korban penyebaran virus pandemi, karena setiap hari akan keluar rumah dan berinteraksi dengan banyak orang. Walapun diterapkan protokol kesehatan, tidak bisa menjamin rakyat tidak akan tertular. Lain halnya dengan pemilik modal yang tidak berinteraksi langsung dalam aktifitas ini, hanya melihat saja dari jauh sambil menikmati keuntungan yang dihasilkan.

*Lockdown*
Sebetulnya ada cara lain yang lebih manusiawi dibandingkan harus mengorbankan nyawa manusia, karena satu nyawa manusia sangat berharga. Teringat dengan pidato Presiden Ghana yang lebih memilih lockdown walaupun harus menghadapi krisis, daripada harus mengorbankan nyawa manusia. Karena pemulihan perekonomian bisa diusahakan namun nyawa manusia yang menjadi korban tidak bisa dikembalikan.

Maka lockdown adalah jawaban yang paling tepat untuk wilayah yang pertama kali terdampak. Jika ini dilakukan, maka akan dipastikan wilayah lain yang tidak terdampak akan menjalani kehidupannya dengan normal seperti biasa. Tetapi hal ini tidak dilakukan pemerintah, dengan berbagai alasan. Alhasil wabah penyakit covid-19 pun menyebar dengan cepat dan sangat luas.

Kebijakan lockdown ini pernah sukses dilakukan oleh pemimpin Islam Umar Bin Khattab saat wabah penyakit menyebar di Syam. Sang Khalifah mewajibkan negri Syam untuk lockdown, dan akhirnya tidak meluas ke wilayah lainnya. Kebijakan ini diambil karena Islam sangat menghargai nyawa manusia. Allah berfirman,
 مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ
“… Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya...” (QS Al-Maidah [5] : 32).

Kebijakan lockdown sendiri memiliki banyak resiko didalamnya. Diantaranya adalah pemerintah harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mendatangkan tenaga kesehatan untuk merawat pasien sampai sembuh juga menjamin segala kebutuhan pokok masyarakat di daerah wabah. Karena perekonomian di daerah wabah pasti berhenti akibat banyaknya korban. Namun, kebijakan ini tetap diambil Khalifah meskipun harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit.

*Angka Nyawa*
Mungkin satu nyawa hanya sekedar angka jika dilihat di atas kertas. Tapi, bagaimana jika yang satu itu ayah/ibu kita? Anak-anak kita? Suami/istri kita? Adik/kakak kita? Salah seorang keluarga kita? Relakah kita mengorbankan yang satu nyawa itu demi pergerakan roda ekonomi? 
Inilah yang harusnya kita lakukan kala melihat data korban covid 19, bukan hanya membaca sekedar angka, tapi juga menyisipkan empati di dalamnya. Tetap berwaspada dan berusaha agar tidak termasuk yang menyebar virus atau pun terkena virus dari sisi sebagai individu, bagian dari keluarga, bagian dari masarakat, juga bagian dari negara. 

Secara individu, bagian dari keluarga, dan masyarakat, kita bisa berusaha untuk meminimalisir berkegiatan di luar rumah. Kalaupun terpaksa harus keluar, tetap jaga jarak, lakukan physical distancing, pakai masker. Saat sampai di rumah, segera bebersih, kalau bisa mandi, ganti baju, baru lakukan aktivitas bersama keluarga. Interaksi dengan tetangga pun dikurangi, demi kepentingan bersama. Walau hanya menyapa dengan jarak, tapi silaturahmi bisa tetap dijalin via media sosial. Tumbuhkan kepedulian, social solidarity, siapa tahu ada tetangga kita yang terkena dampak ekonomi sehingga kesulitan untuk makan. 
“Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 18108, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 149)
“Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik” (HR. Muslim 4766)

Sementara dalam struktur negara, Islam mewajibkan negara menjamin pemenuhan kebutuhan rakyatnya. Kalau pada tetangga saja sangat dianjurkan untuk memperhatikan, apalagi negara pada rakyatnya. Dari mana dananya? Islam memiliki banyak pos pemasukan negara, salah satunya pengelolaan sumber daya alam. Dalam islam, sumber daya alam termasuk kepemilikan umum yang dikelola oleh negara dan hasilnya diserahkan sepenuhnya pada rakyat. Bukankah negeri-negeri muslim Allah anugerahi kekayaan sumber daya alam yang melimpah? 
Bagaimana jika kas negara sedang kosong? Pemerintah bisa meminjam harta orang-orang kaya dalam negara. Pemerintah pun bisa meminta bantuan pada wilayah lain di dalam negaranya, sebagaimana yang dicontohkan Amirul mu'minin, Umar bin Khattab. 

Seperti inilah Islam sangat menghargai nyawa manusia. Dari dasar inilah semua kebijakan diambil oleh Khalifah, pemimpin kaum muslimin. Dengannya, akan diambil kebijakan yang mengerahkan segala upaya agar manusia tidak punah dan roda perekonomian tetap berputar. 

Dengan ketakwaan dan kepedulian yang tinggi, semua kebijakan yang diambil akan berpihak pada rakyat. Karena pemimpin dalam Islam sadar betul bahwa dia akan mempertanggung jawabkan semua keputusannya kelak di yaumul hisab, yang akan menentukan apakah dia akan masuk ke surga atau ke neraka.

Setiap kebijakan yang diambil tidak akan menyengsarakan rakyatnya. Tidak akan menimbulkan kebingungan bahkan kepanikan. Karena bersandar pada sistem Islam yang berasal dari Alkhaliq, Sang Pencipta manusia.

Wallahu'alam bish shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update