Oleh ; Fita Erviana S.Pd
(Founder Millenials Voice)
Baru-baru ini publik kembali dihadapkan dilema. Pernyataan presiden Jokowi agar masyarakat Berdamai dengan corona mengundang sejuta tanya. Bagaimana tidak, sebelumnya Jokowi mengeluarkan pernyataan "perang melawan Corona" yang diikuti dengan berbagai kebijakan mulai dari sosial distance, physical distance hingga PSBB yang mendorong masyarakat agar stay at home, work from home dll.
Disiarkan oleh YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (15/5/2020) Presiden Jokowi mengeluarkan pernyataan dan imbauan agar masyarakat Indonesia mau berdamai dengan corona. “Bahwa covid itu ada dan kita berusaha agar covid segera hilang. Tapi kita tidak boleh menjadi tidak produktif karena covid, menjadikan ada penyesuaian dalam kehidupan,” kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin kepada wartawan.
Keputusan "Berdamai dengan Corona" ini kemudian ditindaklanjuti dengan kebijakan berikutnya yaitu dibukanya semua mode transportasi umum. Harapannya agar roda ekonomi kembali melaju. Karena tak bisa dipungkiri kebijakan sebelumnya menjadikan kondisi ekonomi yang sudah sulit semakin bertambah sulit. Namun apakah Berdamai dengan Corona adalah sebuah berkah???.
Berdamai dengan Corona Sebuah Bencana
Menurut direktur eksekutif program kedaruratan kesehatan WHO, Dr Michael Ryan, negara-negara yang berpikir bahwa 'berdamai' dengan virus Corona akan secara ajaib menciptakan kekebalan kelompok adalah pemikiran yang keliru.
Langkah-langkah melonggarkan Lokdown di mana pemerintahan suatu negara belum benar-benar melakukan sesuatu dalam memerangi Covid-19 disebutnya amat berbahaya. Dr Ryan menjelaskan, konsep herd immunity sejatinya digunakan untuk menghitung berapa banyak vaksin yang harus disebar di suatu populasi untuk melindungi orang-orang yang tidak divaksinasi.
Kenyataannya hingga hari ini vaksin Covid-19 belum menunjukkan adanya tanda-tanda ditemukan. Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Cabang Bekasi mengaku khawatir dengan pernyataan Presiden Jokowi ini. Ketua ARSSI cabang kota Bekasi, Dokter Eko S. Nugroho menegaskan bahwa saat ini Indonesia tidak bisa berdamai dengan corona lantaran tenaga medis yang menjadi korban dan terinfeksi virus tersebut semakin banyak.
Namun dengan kondisi ekonomi yang semakin Melesu, berdamai dengan corona oleh pemerintah dijadikan win-win solution. Meski resikonya jumlah positif covid19 terus mengalami peningkatan.
Bukti Gagalnya Sistem Kapitalisme
Jika mau direnungkan lebih dalam lagi, sejatinya inilah wajah buruk sistem kapitalisme. Kapitalisme hanya mengakomodir kepentingan sejumlah manusia. Kapitalisme tidak memberi ruang terhadap seluruh eleman masyarakat. Segala hajat hidup manusia tidak mampu di penuhi oleh sistem rusak dan merusak ini. Ditengah kondisi wabah semacam ini, masyarakat dipaksa oleh sistem ini harus tetap berjuang mencukupi kebutuhan ekonomi meskipun taruhanya terpapar virus hingga kehilangan nyawa. Kapitalisme tidak mampu memberi jaminan ekonomi dan rasa aman terhadap masyarakat
Kondisi semacam ini tidak akan pernah kita temui dalam sistem Islam. Islam memiliki seperangkat aturan kehidupan yang memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan ekonomi, kesehatan dan rasa aman. Saat masyarakat manghadapi wabah semacam ini Islam punya mekanisme sempurna dan paripurna. Masyarakat tidak akan dibiarkan berjuang sendirian. Negara akan totalitas melakukan riayah suunil ummah. Wabah segera teratasi tanpa harus meninggalkan derita ekonomi. Wallahu alam bi showab

No comments:
Post a Comment