Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Natuna : Harta Karun Incaran China

Saturday, January 11, 2020 | Saturday, January 11, 2020 WIB Last Updated 2020-01-10T22:55:32Z


Oleh : Azizah Nur Hidayah
Homeschooler, Member Akademi Menulis Kreatif

Pesona Indonesia memang tidak ada habisnya. Negara yang memiliki kurang lebih 17.000 pulau di dalamnya, membuat sumber daya alam yang dimiliki Indonesia melimpah ruah. Ditambah posisi strategisnya yang berada tepat di garis khatulistiwa, membuat Indonesia mendapat tambahan julukan negeri zamrud khatulistiwa. 

Begitu pula julukan negeri maritim. Indonesia berhasil manyabet julukan fantastis tersebut. Memiliki ribuan pulau, dan tercatat sebanyak 70% wilayahnya adalah perairan, menjadikan julukan tersebut semakin kuat. Sumber daya alam laut yang tak kalah dengan sumber daya alam daratannya, membuat Indonesia senantiasa ditengok oleh negeri-negeri lain. Kekayaan dan kecantikan Indonesia tidak dapat ditemukan di negeri-negeri mana pun.

Membicarakan “irinya” negeri-negeri lain akan Indonesia tidak akan ada habisnya. Sejak dulu kala, Indonesia telah dilirik oleh negeri-negeri penjajah seperti Belanda dan Jepang. Juga negara-negara lain yang sengaja menjajah dan menjarah rempah-rempah serta sumber daya alam milik Indonesia.

Lalu, apakah penjajahan tersebut telah usai? Nyatanya belum. Lirikan licik negeri-negeri kapitalis terus menghampiri Indonesia. Tak terkecuali lirikan yang diberikan China pada wilayah Natuna, Kepulauan Riau.

Baru-baru ini, perseteruan antara Natuna dan China mencuat. Hal ini berawal dari masuknya kapal patroli keamanan negeri tirai bambu tersebut ke wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE) yang diakui Indonesia. China juga tercatat telah melakukan pelanggaran IUUF, yaitu illegal, unreported, dan unregulated fishing.

Usut punya usut, China mengincar Natuna tersebab melimpahnya minyak dan gas bumi yang berada di wilayah ini. Diketahui, cadangan minyak bumi Natuna diperkirakan mencapai 1.400.386.470 barel, sedangkan gas bumi 112.356.680.000 barel. Angka yang sangat fantastis. Bahkan dikatakan, apabila minyak bumi di wilayah Natuna dioperasikan secara optimal, maka mampu menyamai hasil minyak bumi yang diproduksi Timur Tengah. Maka tak heran, China amat terpesona akan kekayaan Natuna.

Ditambah lagi dengan posisi strategis yang dimiliki Natuna. Natuna sendiri berada di sebelah Laut China Selatan (LCS), dan tercatat berada pada jalur pelayaran internasional Hongkong, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan. Hal ini menambah kekaguman China terhadap Natuna. Dan semakin besarnya keinginan China untuk menguasai Natuna.

Apa yang telah dilakukan oleh China seharusnya mendapat peringatan tegas dari pemerintah. Perbuatannya yang telah melanggar undang-undang, dan klaimnya atas Natuna. Sayang seribu sayang, pemerintah malah lunak dan diam seribu bahasa atas perbuatan China ini. Seperti yang dilansir oleh CNBC (05/01/2020) lalu.

"Sebenarnya enggak usah dibesar-besarin lah. Kalau soal kehadiran kapal itu, sebenarnya kan kita juga kekurangan kemampuan kapal untuk melakukan patroli di ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) kita itu," ujar Luhut B. Panjaitan, Menko Kemaritiman dan Investasi.

Juga respon dari Menhan, Prabowo Subianto, "Ya saya kira kita harus selesaikan dengan baik. Bagaimana pun China adalah negara sahabat." 

Lunaknya pemerintah dalam menghadapi persoalan menimbulkan tanda tanya besar. Mengapa pemerintah terkesan santai akan persoalan ini? Apakah pemerintah tidak takut akan kehilangan harta karun Natuna? Atau jangan-jangan, sikap lunak yang ditunjukkan pemerintah ini lantaran adanya hutang Indonesia pada China? Sehingga pemerintah ketakutan menghadapi China?

Di dalam Islam, jelas sekali bagaimana posisi darul kufur, terutama muharriban fi’lan. Tidak akan dilakukan satu pun diplomasi dan kerjasama dengannya. Daulah Islam sangat tegas kepada muharriban fi’lan. Karena daulah mengetahui, muharriban fi’lan sangatlah berbahaya bagi Daulah Islam apabila terjadi diplomasi, terutama kerjasama ekonomi. Hal ini berbeda sekali dengan Indonesia dan negara-negara yang ada saat ini.

Maka sudah saatnya, Daulah Islam ditegakkan kembali. Karena hanya Daulah Islam-lah yang mampu tegas terhadap muharriban fi’lan yang akan berusaha menghancurkan daulah.

Wallahu a'lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update