Oleh : Fatimah Az-zahrah
Israel dalam akhir-akhir ini meluncurkan rudal-rudalnya di Jalur Gaza yang menyebabkan pimpinan Jihad al-Islami, Bahaa Abu al-Atta dan keluarganya meninggal dunia dalam sebuah serangan mematikan. Selain itu, Khaled Mawod, salah satu pimpinan Jihad al-Islami juga dikabarkan menjadi salah satu korban serangan rudal Israel. Hingga saat ini sudah banyak warga Gaza yang meninggal dunia. Gaza menjadi kisah penderitaan yang tidak pernah terhenti. Warganya hidup dalam ketidakpastian, dan ancaman rudal yang setiap saat bisa berjatuhan ke tempat tinggal mereka. Israel kapan saja bisa mengirimkan rudal, baik karena alasan serangan balasan atau karena tanpa alasan.
Ironisnya, di saat Israel sedang menghadapi masalah politik dalam negeri yang tidak kunjung menemukan titik-temu, justru Gaza selalu menjadi sasaran empuk dari rezim yang berkuasa di Israel untuk memantik simpati dari publik. Menyerang Gaza adalah senjata ampuh untuk mendapatkan dukungan publik, karena kuatnya politik identitas di Israel. Apalagi setelah amandemen konstitusi yang terakhir, yang disepakati agar Israel menjadi negara bagi orang-orang Yahudi.
Langkah yang diambil Netanyahu dalam berita terakhir ini pada hakikatnya ingin mengumpulkan pundi-pundi dukungan. Netanyahu dan koalisinya gagal mendapatkan dukungan mayoritas di parlemen, sehingga ia harus melobi beberapa partai oposisi untuk bergabung dalam rangka membentuk pemerintahan baru. Rayuan Netanyahu tidak mudah dipenuhi, karena saat ini Netanyahu terlibat dalam dua kasus korupsi yang dapat menjadikan dirinya dalam masalah hukum serius. Jika Netanyahu gagal membentuk pemerintahan baru, maka kesempatan akan diberikan kepada pihak oposisi untuk membentuk pemerintahan baru.
Pada titik ini, situasinya semakin mencekam dan tidak menentu. Pola saling serang antara Israel dan Gaza akan berdampak bagi jatuhnya korban dalam jumlah yang lebih besar. Kondisi Gaza yang terus menderita akibat blokade, konflik internal, dan serangan Israel yang sewaktu-waktu bisa saja datang, telah menyebabkan Gaza semakin menderita. Air mata warga Gaza tidak pernah kering, karena mereka harus menelan pil pahit dari benang kusut politik yang terjadi, baik antara faksi-faksi politik di Palestina maupun masalah pelik yang terjadi dengan Israel. Tukar-menukar rudal sama sekali tidak menguntungkan warga Gaza, karena rudal-rudal Israel sangat mengerikan. Ironisnya, hingga saat ini tidak ada sanksi internasional terhadap kejahatan perang yang dilakukan oleh Israel. Akibatnya, Israel seenaknya mengirimkan rudal yang membabi-buta, bisa membunuh siapapun yang menjadi sasaran dari rudal.
Bertepatan dengan Hari Solidaritas Palestina Internasional (International Day of Solidarity with Palestinian People) yang jatuh setiap 29 November merupakan upaya komunitas internasional (dalam hal ini PBB) untuk mempertahankan komitmen internasional dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Bersamaan dengan momentum tersebut Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mendorong pemerintah untuk membela Palestina sebagai bagian dari masyarakat dunia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keagamaan, serta tegaknya hukum internasional. Pembelaan terhadap Palestina juga berhubungan erat dengan amanat konstitusi Indonesia. Hidayat menjelaskan bahwa Pembukaan UUD NRI 1945 Alinea Pertama mengamanatkan penghapusan seluruh penjajahan di atas dunia, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Ia pun menegaskan bahwa Palestina telah berjasa mendukung lahirnya Republik Indonesia sebagai negara merdeka. Oleh karena itu Indonesia harus berupaya secara optimal dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Hidayat mengemukakan, sekurang-kurangnya tiga alasan bagi Indonesia untuk membela Palestina. Pertama, Indonesia merupakan bagian dari komunitas internasional yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Kedua, kemudian tanggung jawab Indonesia untuk menjalankan amanat konstitusi yang menentang segala bentuk penjajahan, serta ketiga, utang budi historis Republik Indonesia terhadap bangsa Palestina.
Alhasil dalam sistem demokrasi, ini adalah solusi palsu alias bukan solusi, melainkan penyerahan dan pengkhianatan. Pasalnya, solusi dua negara merupakan bentuk pengakuan dan pembenaran atas perampokan Israel atas Tanah Palestina. Pertanyaan yang muncul sekarang adalah, bagaimana solusi total masalah Palestina? Kepada siapakah ummat Islam bisa berharap? Kepada PBB?!, ini mustahil karena justru PBB adalah organisasi yang justru memberikan persetujuan dan pengakuan terhadap Israel. Faktanya, sampai sekarang PBB tidak pernah memberikan sanksi kejahatan perang yang telah dilakukan oleh AS dan Israel.
Solusi hakiki untuk masalah Palestina haruslah bersandar pada syariah. Masalah Palestina adalah masalah Islam dan seluruh kaum Muslim. Pasalnya, Tanah Palestina adalah tanah kharajiyah milik kaum Muslim di seluruh dunia. Statusnya tetap seperti itu sampai Hari Kiamat. Tidak ada seorang pun yang berhak menyerahkan tanah kharajiyah kepada pihak lain, apalagi kepada perampok dan penjajah seperti Israel. Sikap semestinya haruslah seperti yang ditunjukkan oleh Sultan Abdul Hamid II yang menolak sama sekali segala bentuk penyerahan Tanah Palestina kepada kaum kafir meskipun hanya sejengkal.
Sungguh saat ini kita butuh khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah. Khalifah lah yang akan menjadi perisai umat. Yang akan melindungi umat dari kepungan musuh yang haus darah. Umat tanpa Khilafah akan seperti anak anak ayam yang terlepas dari induknya. Kembalinya Kepemimpinan Global bagi Kaum Muslim, Kembalinya Khilafah Islamiyyah! Khilafah-lah yang akan memimpin dan mengkomandoi 1,5 milyar kaum muslim di seluruh dunia untuk dan berjihad. Yang akan melindungi dan mempertahankan seluruh wilayah dan tanah kaum muslim. Khilafah dan Jihad!, dua kata untuk mengubur Zionis Yahudi. Inilah satu-satunya solusi yang diberikan Allah dan Rasulnya kepada kita.

No comments:
Post a Comment